BAHAGIAN KE LIMA
Silman Haridhy
BIOGRAFI
ABUYA SYECH HAJI ABDUL HAMID KAMAL
“Seorang
Ulama Bersifat Diplomat”
Unit PerpustakaanYayasan AHKAM
DAYAH RAUDHATUL ULUM
I.
ABDUL HAMID KECIL
1. Semasa kecil
Semasa kecil Abdul Hamid tumbuh dan
berkembang sebagaimana anak-anak yang lain. Bermain gathok, main meulet-let, main galah, peulheh geulayang dan mano u
krueng. Semasa kecilpun Abdul Hamid sudah dituakan oleh rekan-rekannya.
Ia sering ditunjuk sebagai pemimpin dalam permainan. Begitulah keadaannya.
Abu
beliau (panggilan untuk ayah) sering bepergian ke
daerah-darah lain. Kadang-kadang beliau pulang ke Sawang sampai seminggu,
atau ketempat lain, misalnya ke Labuhan Haji, Peulumat, manggeng ataupun
tangan-tangan, dan Blangpidie yang saat itu sudah ramai juga penduduknya.
Kepergian beliau disamping berdakwah juga bekerja sebagai tukang pembuat rumah.
Karena Tgk. Syech Kamaluddin disamping berusaha sebagai petani, juga
memiliki keahlian sebagai tukang rumah
dari kayu. Karena itu, Abdul Hamid kecillebih banyak bersentuhan dengan
ibunya yang dalam keseharian dipanggil Nyak
(pangilan lain untuk ibu).
Nyak Puan telah mengajarkan baca Al quran kepada Abdul Hamid pada
umur 3 tahun, walaupun pada saat itu hanya mengajarkan cara mengenal huruf ijaiyah saja danhanya sedikit
tentang merangkaikan huruf sehingga menjadi kalimat bacaan.
Pada umur
4 tahun ia telah mulai dapat membaca al-quran, walaupun belum lancar. Karena
itu tidak mengherankan pada umur kurang dari tujuh tahun Abdul Hamid kecil
telah mampubertadarus membaca alquran secara tartil dengan qari dewasa,misalnya tadaruspadasaat kenduri, dsbnya. Ada
satu hal yang menarik, pada saat tadarus
dengan orang dewasa itu dan malah dengan qari
yang sangat terkenal saat itu, seperti Sayed Quraisy di Susoh. Abdul Hamid
pada awal sangat bersemangat untuk membaca alquran secara tadarrus.Tetapi setelah larut malam,
anak kecil itu hanya diam saja.Ia merasa bahwa kemampuannya untuk membaca al-quran
secara tartilsudah tidak sanggup
lagi, karenasurah yang dibacakan dalam tadarrus
itu ia belum belajar.Ia barubelajar bacaan secara tartil hanya pada juz-juz
awal. Sekarang bacaan dalam tadarrus
telah melewati juz yang ia telah belajar
dan kemampuannya belum sampai pada surah yangdibacakan itu. Diamnya qari kecil itu menarik perhatian Tgk
Sayyed yang terkenal sangat qari saat
itu. “Hai teungku Aneuk mit, jangan diam
lanjutkan bacaan” (hai Teungku kecil, kenapa diam, lanjutkan bacaannya),
kata Tgk. Sayed. Abdul Hamid menjawab “surah
itu saya belum belajar tajwidnya” dengan mata sayu dan mengantuk. Itu sifat
Abdul Hamid, apa yang dapat dilakukan dan mampu akandilakukannya, dan jika
tidak mampu tanpa malu akan diakuinya dan tidak memaksakan diri
melakukannya. Sifat dan bawaan seperti itu dilakukan sampai beliau wafat.
Ada yang menarik diceritakan pada saat
Abdul Hamid seumur 6-7 tahun ini. Suatu ketika Abu beliau Teungku Kamaluddin
pulang keArunTunggai dengan mengendrai sepeda. Rupanya Abu beliau itu baru
saja membeli sepeda. Tentu saja, sepeda itu sepeda untuk orang dewasa yang
bentuknya besar dan punya batang antara stang dengan tempat duduk. Sepeda itudiletakkan dibawah kolong rumah. Sepulang
Abdul Hamid dari sekolah dengan adiknya Abdul Majid, melihat ada sepeda
dibawah kolong rumah. Abdul Majid mengajak abangnya Abdul Hamid naik sepeda,
pada hal mereka belum pernah belajar mengendarai sepeda. Akhirnya, mereka
sepakat untuk naik sepeda. Mereka berdua dengan susah payah mengeluarkan
sepeda itu dari bawah kolong.Abdul Hamid sebagai abang mencoba naik terlebih
dahulu. Dengan menyandarkan kaki pada tanggul kelapa yang telah dipotong,
sehingga ia dapat mengayuh sepeda itu, dan berhasil tidak jatuh. Sepeda
tersebut berhasil digowes-gowes dan diarahkan ke tanah lapang yang ada di
depan rumah. Masalahnya baru muncul kemudian. Setelah lama di kayuh, itu
sepeda bagaimana cara memberhentikannya. Mengandalkan menopang dengan
kaki, apadaya kaki belum sampai, membiarkan tanpa digowes akan terjerembab ke
tanah, meminta bantu pada adiknya Abdul Majid, ia masih kecil belum mampu menahan
lajunya sepeda.Karena sudah lama berputar-putar tidak bisa mendarat, akhirnya
ia dan adiknya berteriak sekuat tenaga minta bantupada orang dewasa. Karena
yang berteriak ada dua anak secara bersamaan mohon bantuan, maka orang-orang
yang ada berlarian ke arah mereka karena terkejut. Akhirnya dengan bantuan orang
dewasa laju sepeda itu dihentikan dan Abdul Hamid tidak jadi terjerembab ke
tanah.
2.
Sekolah
formal
Masa kecil tentu saja dilaluinya
dengan bermain dan belajar. Di samping belajar alquran, juga diajarkan pelajaran
bacaan kitab arab jawi yang berkaitan dengan ilmu agama. Seiring dengan kemampuannya
baca alquran, Abdul Hamid juga mampu membaca huruf arab jawi. Di masa kecil
lebih banyak diajarkan oleh ibunda beliau Nyak Puan dalam bentuk kitab-kitab
agama Islam bahasa jawi seperti kitab Masailal
Muhtadi dan kitab-kitab sejenis.Tetapi setelah 7 tahun, Abdul Hamid sudah mulai belajar pada abu
beliau dalam bentuk kitab-kitab arab. Seiring diajarkan kitab arab oleh abu
beliau, ia juga dimasukkan ke sekolah formal selama 3 tahun. Sekolah formal
ini (juga masyarakat menyebutnya Sekolah Rendah atau Sekolah Rakyat)
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan beliau mengenal huruf latin,meningkatkan
kemampuan membaca dan memahaminya, serta meningkatkan kemampuan matematika
(dulu dikenal dengan ilmu berhitung).
Abdul Hamid belajardisekolah formal
selama 3 tahun, karena di daerah beliau tersedia sekolah formal hanya 3 tahun
saja yaitu kelas 1,kelas 2 dan kelas 3. Setelah itu siswa dianggap telah
tamat belajar, dan jika ingin menyambungnya harus pergi ke Tapak Tuan atau
Meulaboh. Abdul Hamid yang saat itu baruberumur 10 tahun tentu saja tidak
akan dibiarkan oleh Abu dan Nyak beliau untuk pergi ke Tapak Tuan atau Meulaboh
untuk melanjutkan sekolah.
3.
Belajar
di Bustanul Huda
Setelah tamat sekolah rendah 3 tahun
itu, Abdul Hamid hanya tinggal di kampung dan mulai membantu-bantusaudagar-saudagar
untuk mengumpulkan hasil bumi dari masyarakat. Abdul Hamid mulai menekuni
bidang dagang selepas bersekolah formal tahun 1937. Tetapi kerja ini tidak
lama. Pada tahun 1938, Abdul Hamid oleh abu beliau diantar untuk belajar ke DayahPesantren Bustanul Huda diBlangpidie,
dan diserahkan kepada pimpinan dayah tersebut yaitu Teungku Syech T. Mahmud
bin T. Ahmad, seorang ulama sufi yang sangat alim berasal dari desa Lampuuk
dan berkeluarga ke desa Lamlhom kecamatan Lhoknga Aceh Besar yang ditugaskan
oleh kerajaan Aceh untuk mengembangkan pendidikan agama di pantai barat
selatan Aceh.
Dayah Bustanul Huda merupakan dayah salafiah yang saat itu sangat masyhur di
Aceh. Dayah itu didirikan pada tahun 1928 berlokasi disekitar mesjid
jamik Blang pidie. Banyak santri yang berdatangan dari berbagai daerah dan
telah banyak menghasilkan ulama. Dayah ini telah menghasilkan banyak ulama di
Aceh misalnya Teungku Syech Haji Muda Wali Al khalidi. Teungku Syech H. Adnan
Mahmud Bakongan. Teungku Syech H. Jailani Kota Fajar, Teungku Abu Ghaffar
Aceh Besar, dan banyak lagi ulama-ulama lain yang tidak mungkin disebut dalam
tulisan ini.
Sejak tahun 1938 Abdul Hamid belajar
dengan tekun di Bustanul Huda Blangpidie. Beliau tergolong sangat cerdas
dansantun. Kecerdasan dan kesantunan Abdul Hamid tidak hanya saat belajar di
dayah, tetapi sudah nampak dari sejak
kecil.
Semasa kecilkarena kesantunannya ia
sering dijadikan pemimpin dalam bermain. Disebabkan kecerdasannya, saat
belajar di sekolah rendahpun ia sering dijadikan contoh oleh gurunya untuk
menyelesaikan soal-soal yang diajukan guru di papan tulis. Boleh jadi juga
Abdul Hamid merupakan murid kesayangan
gurunya. Karena itu jika ada soal yang diajukan guru selalu diarahkan
kepadanya untuk menjawab terlebih dahulu. Begitulah keadaannya.
Keadaan itu juga berlanjut di dayah
Bustanul Huda. Saat diantarkan oleh Abu beliau Teungku Syech Kamaluddin,
kepada Teungku Syech T. Mahmud, beliau menyampaikan gambaran itu, bahwa
Abdul Hamid sudah diajarkan kitab-kitab dasar seperti kitab Jarumiah, mukhtashar, dan lain-lain. Oleh karena itu, Teungku
Syech T. Mahmud mencoba menyuruh membaca beberapa patah kalimat dalam kitab mukhtasar yang merupakan kitab
dasar yang menggunakan tulisan arab gundul (tulisannya tidak berbaris atau kitab
gundul). Abdul Hamid membacanya dengan fasih, dan bacaannya telah memenuhi
kaedah nahu sharaf (tata bahasa) yang
memang sangat disyaratkan dalam membaca kitab gundul dipesantren dan dayah.
Karena itu dan belum pernah dilakukan oleh pimpinan dayah sebelumnya,
bahwa Abdul Hamid dibawa sendiri oleh pimpinan dayah dan mengantarnya ke rangkang (bilik) yang akan ditempati
dan menunjukkan drah (kelas,
tingkat) yang akan diikuti. Perlu dikemukakan bahwa Abdul Hamid tidak mengikutipelajaran
pada drah pertama lagi karena kemampuannya
sudah menduduki kelas diatasnya. Karena itu Abdul Hamid langsungditempatkan
di drah lanjutan (kelas tiga). Tentu
saja penempatan kelas atau drah itu kepada Abdul Hamid yang dinilai masih
kecil (sering disebut dikalangan santri dengan panggilanteungku aneuk mit) sangat mengherankan teman-teman sedrahnya, karena
umumnya santri yangduduk di kelas tiga agak lebih dewasa, umurnya sudah dua
puluh tahun bahkan bisa lebih tua
lagi. Tetapi Abdul Hamid yang baru berusia sekitar 11 tahun telah
duduk di kelas tiga dan telah mampu membaca kitab gundul semisal kitab Bajuri dan sejenisnya.Bukan hanya
mampu membaca saja, tetapi juga telah mampu memberi makna sesuai dengan
kaedah nahu-sharaf yang sangat
dipersyaratkan di dayah.
4.
Weuh
hatee
Perhatian Teungku Syech T. Mahmud
(yang dalam keseharian sering dipanggil dengan Abu Syech Mud) kepada Abd. Hamid tergolong besar. Pantauan beliau
terhadap murid baru yang masih tergolong kecil dan cerdas itu dilakukan
setiap waktu. Agaknya Abu Syech Mud sudah memprediksi bahwa santri kecil yang
cerdas itu jika dibimbing dengan betul akan jadi orang alim dan mungkin saja akan jadi ulama. Karena makna orang
alim dengan ulama ada perbedaan.
Yang dimaksud orang alim adalah
orang yang megetahui tentang seluk beluk ilmu agama Islam dan ia paham tentang
agama. Adapun ulama adalah orang yang
mengetahui tentang seluk beluk ilmu agama Islam, mengamalkan
pengetahuannya dengan ikhlas dan mengajarkan pengetahuannya itu
kepadaorang lain dengan ikhlas pula. Boleh jadi, pandangan itu telah terlihat
oleh Abu Syech Mud bahwa Abdul Hamid memiliki potensi kearah itu. Makanya
perkembangan pendidikan teungku kecil itu selalu ditanyakan.
Abdul Hamid terbenam dengan belajar.
Ia mengambil drah pagi, siang dan malam. Dengan jadwal belajar seperti itu
praktis tidak ada waktu lagi untuk bisa bermain-main. Keseriusan Abdul
Hamid dalam belajar memang mendapat pujian dari teungku-teungku pengajar drah (teungku seumeubeit). Sering pula
terjadi jika ada kesempatan, sebelum drah dimulai, Abdul Hamid membacakan
ulangkaji tentang pelajaran yang lalu dengan penjelasan surahnya yang tepat
kepada teman-teman satu drah. Tidak jarang pula terjadi perdebatan dalam
membacakan matan kitab dan menjelaskan
uraian surahnya.Biasanya, perdebatan mucul pada saat dibacakan oleh santri
lain.Kadang-kadang salah dalam memasang baris dan kadang-kadang perbedaan
pendapat muncul saat memaknai bacaan dalam bentuk surah (penjelasan atau
pengupasan).Jika saat itu teungku
seumeubiet belum datang, biasanya yang menyelesaikan perdebatan itu
diminta pendapat Abd.Hamid.Begitulah keadaannya.
Ada kebiasaan di masyarakat kita jika
mengadakan kenduri,sangat disukai mengundang santri dayah untuk berdoa
atau membacakan alquran. Dimata masyarakat, para santri itu adalah orang
yang sedang berjuang fisabilillah,
orang menuntut ileumee agama. Memberi
kenduri kepada mereka akan terasa lebih afdhal.Kenduri
itu biasa terjadi saban hari atau bahkan saban malam.Oleh dayah, melalui teungku seumeubeuit yang diberi tugas
untuk menerima undangan kenduri dan mengatursantri yang menghadirinya. Karena
santri banyak jumlahnya, maka teungku
seumeubeutakan mengatur santri. Suatu hari, olehteungkeu seumeubeut menunjuk Abdul Hamid ikut menghadiri kenduri
yang juga akandihadiri oleh Abu Syech Mud. Menurut jadwal, kenduri akan
dilaksanakan malam hari selepas Isya. Setelah diketahui oleh pimpinan dayah,
bahwa AbdulHamid ikut bersama rombongan menghadiri kenduri malam itu,
makapimpinan Dayah melarang Abdul Hamid ikut dalam kenduri itu.Abu Syech Mud
menyuruh sampaikan pesan bahwa Abd. Hamid jangan ikut, ia lebih baik dirangkang
saja belajar dan mengajar.
Pesan itu sertamerta disampaikan oleh teungku seumeubeut pada saat drah
siang setelah lepas shalat dhuhur.Abdul Hamid sedih sekali, dan pikirannya menerawang-nerawang
berfikir yang bukan-bukan.Apakah saya dibencioleh Abu Syech Mud (begitu
santri memanggil kepada pimpinan dayah).“Mungkin betul beliau benci saya.Saya tidak diberi peluang untuk bermain
sedikitpun. Pagi siang dan malam saya harus belajar, dan dibebankan pula
untuk mengajar. Santri lain diajak ikut kenduri, ikut berdakwah dengan
beliau, saya tidak pernah diajak”, begitulah nearwang pikiran Abdul Hamid
saat itu.Hiba hati AbdulHamid tidak tertahankan sehingga disampaikannya
kepada kawannya satu bilik.Kesedihan AbdulHamid ituakhirnya sampai juga kepada
Abu Syech Mud yang dulunya disamping belajar di Aceh seperti Abu Hasan
Krueng Kalee, juga belajar agama di semananjung Malaysia yaitu di negeri
Yan. Dan secara khusus ia dipanggil dan menghadap beliaudilangkan(teras) mesjid jamik selepas shalat dhuhur. Abu Syech Mud
jarang ketemu dengan murid-murid pemula, kali ini beliau meluangkan waktu
untuk memanggil Abd. Hamid untukmenyampaikan kenapaia tidak diikutkan untuk
menghadiri kenduri yang kerapkali terjadi. “Hai Teungku Hamid” kata AbuSyech Mud.“Gata teuhoi keuno untuk teupeugah bahwa gata hana teupakat jak bak kenduri
atau dakwah karena bagi gata hainyan hana penteng. Gata jino beuit beu sunggoh
dan upayakan ileumee nyang ka na peurueno ureung lain. Nyan yang lebeih
penteing bagi gata.Jak Kenduri nyan teuboh watee mantong,” (anda saya
panggil ke sini untuk diberitahu bahwa anda tidak diajak untuk menghadiri
kenduri atau ke acara dakwah karemna untuk engkau lebih baik belajar dengan
sungguh-sungguh, dan upayakan ilmu yang sudah ada ajarkan kan (mengajarkan)
orang lain. Itu yang lebih baik untuk mu. Pergi menghadiri kenduri hanya buang-buang
waktu saja),kata Abu Syech Mud. Beliau melanjutkan, “Hana teupakat gata kon keureuna
benci, kareuna gata beujeut keu ureueng singoh ohka raya” (enggak diajak
kamu itu bukan saya benci kamu, tapi belajarlah agar kamu jadi orang kalau
sudah besar). AbdulHamid tertunduk malu dan rasa berdosakarena telah menganggap
yang bukan-bukan kepada gurunya yang sangat santun itu selama ini. Kesalahan
itu segera beristighfar dan mohon ampun.Dengan menunduk mencium tangan
abu Syech Mud dengan kepala menyembah kelutut mohon ampun terhadap prasangka
jelek itu dan mohon doanya.
Abuya Syech H. Abdul Hamid menerima masyarakat
yang berkunjung
ke tempat beliau setiap hari.
5.
Belajar
dan mengajar
Ada keunikan khusus diterapkan dalam
pendidikan dayah salafiah dari dulu sampai sekarang. Santri yang dianggap
cerdas dan mampu memahami pelajaran yang diajarkan, oleh pimpinan dayah diminta
untuk mengajarkan pula kepada santri yang dibawahnya. Sistem seperti itu
sangat besar manfaatnya. Pertama, santri yang dinilai cerdas dengan mengambil
drah kepada santri yang dibawahnya akan membantu ia untuk memahami
secara detail tentang pelajaran yang diajarkan. Kedua, mempertajam kemampuan
analisa untuk menjelaskan makna dari setiap kalimat yang ada dalam kitab
pegangannya. Ketiga, akan meningkatkan kemampuannya dalam memahami nahu-sharaf
(tata bahasa) arab yang menjadi dasar dalammengambil makna dari setiap kalimat.
Keempat, mempertajam kemampuan menganalisa masalah yang muncul. Karena
itu, dalam tatacarapengelolaan dayah tradisional dewan guru pengajar
digunakan tenaga dari santri senior. Artinya, santri senior mengajarkan santri-santri
yunior dibawahnya. Tidak jarang, santri senior mengambil beberapa
drah mengajar dalam setiap hari. Karena jika makin senior seorang santri dengan
kemampuan yang tinggi, ia dapat mengambil beberapa drah. Hal ini memungkinkan
karena santri senior memiliki waktu yang cukup untuk mengajar, sebab santri
senior langsung belajar dari pimpinan dayah sehingga sistem belajarnya lebih
banyak pada kemampuan menganalisa, membahas dan mengatasi masalah.
Disamping itu, sistem pembelajaran tingkat tinggi itu lebih banyak dibukakan
debad baik antar santri senior maupun dengan pengajaranya yang dalam hal ini
pimpinan dayah. Karena tatap muka mungkin dalam satu hari hanya sekali,
untuk mengisi waktu dan meningkatkan kemampuan, ia dapat mengajarlebih
banyak.
Begitulah yang terjadi terhadap Abd.
Hamid. Walaupun ia baru saja belajar di dayah dan duduk di klas tiga, tetapi
ia sudah diminta dan dipercayakan untuk mengajar di kelas satu dan kelas dua.Kombinasi
antara belajar dan mengajar ini menyebabkan tidak ada waktu yang terluang.
Seluruh waktu dimanfaatkan untuk belajar, mengajar, ibadah dan istirahat.
Santri di Bustanul Huda saat itu harus
bangun lebih awal. Mereka harus bangun sekitar pukul 4 dini hari (sebelum
subuh). Mereka harus membersihkan diri, mandi,berudhuk dan kemesjid untuk menunggu subuh. Perlu juga harus diingat,
saat itu suasana sangat gelap karena tidak memiliki listrik. Penerangan hanya
terjadi jika purnama. Cahaya bulanlah yangmenerangkan lingkungan dimalam
hari sehingga santri dapat duduk dan bercengkerama dimalam hari setelah
belajar.
Tidak jauh dari mesjid ada kantor
pemerintah yang dipimpin oleh kontroler. Dan diseberang jalan terdapat tangsi
meliter Belanda. Di depan tangsi dan kantor pemerintah kolonial itu ada
beberapa tiang dari besi aluminium yang diujungnya dipasang lampu minyak. Setiap
sore dekat magrib lampu jalan itu dibakar sumbunya dan dipasang diujung
tiang oleh Upah (pegawai pesuruh) yang ditugaskan untuk urusan itu. Itulah
yang ada sistem penerangan jalan saat itu.
Di depan mesjid jamik yang terbuat
dari bangunan kayu yang kubahnya terbuat dari sirip kayu yang telah dicat warna
hitam, juga terdapat sebuah kolam berair jernih, dingin dan sangat bersih. Di
pagi hari, sebelum subuh sebahagian santri mandi dan berudhuk di kolam itu. Di
dayah juga terdapat beberapa kolam kecil lainnya dan beberapa buah sumur.
Santri membersihkan diri, mandi dan keperluan cuci mencuci dikolam dan
sumur-sumur itu, hanya sebahagian kecil santri yang menggunakan kolam mesjid
untuk mandi terutama di pagi hari sebelum subuh. Sedangkan mandi siang dan
sore hari umumnya para santri menggunakan kolam kecil di dayah atau sumur.
Pada saat dini hari dan malam hari
suasana dayah penuh dengan temaramnya lampu
culot. Lampu culot adalah lampu terbuat dari kaleng yang diisi minyak tanah
dan diberi sumbudari kain tanpa semprong. Inilah penerangan di dayah itu (dan
juga rumah-rumah masyarakat) setiap malam. Berbekal lampu ini para santri
melakukan aktivitasnya untuk belajar dan mengajar.Dan harus diingat, dengan
sarana yang sangat sederhana itulah telah menghasilkan banyak ulama besar
dan pemimpin negeri.
Keadaan itulah yang dialami oleh Abd.
Hamid. Belajar ditemani lampu culot dan mengajarpun menggunakan lampu
culot. Setiap pagi santri berjejal duduk bersimpuh di mesjid menunggu subuh.
Tetapi banyak pula santri yang malas dan bergulung dengan selimut tanpa memperdulikan
azan subuh yang dikumandangkan oleh santri tanpa mikrofon (pengeras suara).
Biasanya santri seperti ini tidak hanya malas untuk beribadah, juga malas
untuk belajar. Golongan ini biasanya tidak memiliki minat yang cukup untuk
mencapai tujuan. Kedatangan ke dayah hanya karena disuruh bahkan dipaksa oleh
orang tuanya. Orang-orang seperti itu dimasa tuanya tidak akan jadi apa-apa.
Jangankan jadi ulama, alim atau lebey, untuk menjadi diri sendiripun amat
susah. Hanya santri yang memiliki kesungguhan saja yang mencapai tujuan
hidup yang lebih baik. Memang harus diakui belajar di dayah tidak semuanya
akan jadi ulama dan orang alim. Tetapi jika dia sungguh-sungguh belajar dan
yakin untuk beramal, hidupnya akan lebih agamawi. Jika ia saudagar menjadi
saudagar muslim yang baik, demikian pula jika ia jadi pemimpin menjadi
pemimpin yang disegani.
Setelah shalat dan wirid subuh sekitar
pukul 07.00 pagi, santri belajar di drah masing-masing sampai pukul 08.00
pagi.Para santri beristirahat untuk sarapan pagi alakadarnya dan akan melaksanakan
shalat dhuha. Pukul 10.00 pagi, santri megembil drah lagi sampai pukul 12.00
siang. Para santri istirahat, masak makan siang alakadarnya dan bersiap-siap
untuk shalat dhuhur ke mesjid. Setelah makan siang, sekitar pukul 14.00,
santri mengambil drah kembali sampai pukul 16.00 (mendekati ashar). Setelah
ashar santri istirahat, sebahagian santri membaca nadham, syair shalawat, dan lain-lain. Masa istirahat ini sampai
maghrib. Setelah maghrib santri mengambil drah kembali sampai waktu isya atau
lepas dari isya. Sekitar pukul 21.00 malam, santri senior mengambil drah pula
dengan belajar pada abu pimpinan dayah sampai pukul 24.00 malam. Inilah
rutinitas kehidupan dayah salafiah dari dulu sampai sekarang. Setiap drah
disampaikan materi dan kitab yang berbeda. Ada juga drah mengulang kembali
materi yang disampaikan olehteungku seumeubeit
pada kajian terdahulu. Umumnya, drah setelah shubuh merupakan drah
mengulang kembali apa yang telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya. Misalnya,mengulang
kaji tentang nahu dan sharaf yangdiajarkan oleh teungku seumeubeit muda. Pada pukul 10.00, para santri akan masuk
drah kembali yang memperlajari kajian tentang kitab fiqih atau hadist.
Begitulah seterusnya. Banyak juga teungku yang pada satu drah ia mengajar,
tetapi pada waktu yang lain ia juga belajar pada teungku seumeubit yang lebih senior. Pola ajar mengajar inilah yang
diikuti oleh Abd. Hamid. Ia pada jam tertentu bertindak sebagai pelajar dengan
mengambil drah pada teungku seumeubeit senior,
tetapi pada waktu yang lain ia bertindak sebagai teungku pengajar untuk drah
di bawahnya.
Kehidupan seperti itulah yang mengasah
dan menempa Abdul Hamid sehingga ia dapat memahami pelajaran, bahkan
bukanhanya memahami, tetapi dapat mengajarkan secara rinci kepada
santri-santri lain.
Hanya sekitar 3 tahun menjadi santri
Bustanul Huda, sekitar umur 15 tahun, beliau telah mengambil drah membahas kitab Mahalliyang dikalangan santri
pesantrenmerupakan kitab menengah dalam materi pembahasan di dayah. Boleh jadi,
ia merupakan santri termuda membahas kitab kelas tinggi itu. Saat itulah ia
menyadari bahwa apa yang diterapkan oleh Abu Syech Mud dulu dengan tidak
mengikutkan ia pada berbagai kegiatan seperti kenduri atau dakwah telah membawa
hasil. Ia dalam waktu singkat dan dalam umur muda telah menjadi teungku
yang disegani oleh santri-santri lainnya, malah yang lebih dewasa dari dia.
6.
Masa
Tidak Aman
Selama 3 tahun belajar di Bustanul
Hudaia tidak pernah dikunjungi oleh Abu beliau Teungku Syech Kamaluddin. Penyebabnya,
boleh jadi pada tahun 1938-1941, suasana keamanan di daerah tidak kondusif. Di
Asia Timur Jepang sudah mulai menguasai beberapa bahagian dunia. Belanda mulai
khawatir terhadap gejala ini. Disamping itu, gejolak di daerahpun mulai marak.
Pihak pejuang pribumi saat itu sedang meningkatkan kegiatan penyerangan
sehingga keamanan di dalam negeri menjadi tidak kondusif. Akibat semua itu,
perjalanan menjadi tidak aman pula. Karena itu, Teungku Syech Kamaluddin pun
tidak dapat melakukan perjalanan keluardesanya. Paling kuat beliau pulang
ke Sawang Ba’u. Itupun sangat jarang. Keadaan yang sangat mencekam itu
menyebabkan Teungku Syech Kamaluddin berfikir untuk pindah dari Arun Tunggai.
Beliau memutuskan untuk pindah tempat tinggal dari Arun tunggai ke Manggeng.
Beliau tinggal dikedeeManggeng. Di Manggengpun tidak lama hanya sekitar 3
tahun (1940-1944). Semasih tinggal di Manggeng, Teungku Syech Kamaluddin pergi
ke Tangan-Tangan. Akhirnya beliau membeli sebidang tanah di desa Beneih
krung. Di Tanah tersebut dibangun rumah, yang selanjutnya pada tahun 1944, Teungku
Syech Kamaluddin membawa keluarganya pindah pula ke desa Beneih Krueng
Tangan-Tangan dan menetap disitu sampai akhir hayat.
Teungku Syech Kamaluddin memiliki dua
orang istri yaitu Nyak Puan dari Arun Tunggai Meukek dan Nyak Canden dari
Sawang Ba’u. Kedua istri beliau ditempatkan di Tangan-Tangan. Nyak Puan
dibuat rumah di desa Bineh Krueng dan Nyak Canden dibangun pula rumah yang
relatif sama di desa Adan Tangan-Tangan.
Setelah tinggal di Tangan-Tangan,
kunjungan Abu Kama (begitu
panggilan masyarakat kepada beliau) ke Bustanul Huda sudah relatif sering.
Mungkin dalamsetahun sudah dikunjungi dua sampai tiga kali.Seringnya
kunjungan abu Kama ke Bustanul Huda karena tempat tinggal beliau dengan
Blangpidie tempat Dayah Bustanul Huda sudah dekat hanya terpaut sekitar 18 Km.
Belanda sangat menghargai pelajar dan
santri. Walau suasana keamanan sangat tidak baik dan khabar Jepang sudah
mulai masuk ke Indonesia, dan serangan-serangan terhadaptangsi (bivak)
belanda sudah sering pula dilakukan. Walaupun keadaan keamanan rawan,
serdadu Belanda tidak mencurigai santri di dayah Bustanul Huda, walaupun letak
dayah dengan tangsi hanya bersebrangan jalan saja. Para santri tetap dihargai
dan tidak dicurigai.
Dalam suasana seperti itulah, Abdul
Hamid tumbuh dan berkembang dari teungku
aneuk mit menjadi teungku yang
disegani, walau umurnya masih relatif muda.
7.
Mulai
ikut berdakwah
Sebutan dan panggilan terhadap Abd.
Hamid kini mulai berubah. Jika sewaktu kecil dipanggil dengan panggilan Abdul Hamid, dan kebanyakan kawan-kawan memanggil
Si Hamid atau Si Amik,maka setelah diantar ke dayah Bustanul Huda
panggilanpun berubah. Baru masuk ke dayah karena umurnya yang relatif muda
maka para santri memanggilnya dengan panggilan Teungku Aneuk Mit, (pelajar muda) tetapi setelah kemampuannya
dalam memahamikitab dan berbagai pelajaran di dayah melebihi rata-rata, maka
panggilan merubah menjadi Teungku saja atau ditambah dengan nama Teungku Hamid.
Suatu hari tepatnya hari Kamis di
bulan Rajab tahun 1943 (kira-kira masih berumur 15 tahun), Teungku yang masih
muda itu dipanggil oleh Abu Syech Mud. Teungku Abdul Hamid sangat tahu kalau Abu
Syech Mud memanggil secara khusus pasti ada sesuatu yang disuruh untuk menggantikan
beliau. Hati Teungku AbdulHamid berdetak kencang, karena firasat beliau menyiratkan,
jika dipanggil hari Kamis, hampir dapat dipastikanakan disuruh menggantikan
beliau untukkhutbah pada hari Jumat di mesjid jamik Blangpidie. Mesjid itu
merupakan mesjid terbesar di Blangpidie saat itu. Masyarakat bukan datang dari
desa sekitarnya saja untuk shalat Jumat, tetapi juga dari daerah-daerah lain
yang jauh misalnya dari Guhang, Cot Manee, Ikue lhueng, Ujong Padang dan berbagai
daerah lainnya.
Teungku Abdul Hamid sangat gemetar
menemui Abu yang telah menunggu dilangkan
mesjid.Ia telah beberapa kali dipanggil, tapi pada panggilan terdahulu
tubuhnya tidak segemetar sekarang. Panggilan kali ini seperti ia akan menerima
beban yang sangat berat. Tetapi kerasnya degupan jantung tidak menyurutkan ia
memenuhi panggilan Abu Syech Mud yang telah menunggu dilangkanMesjid Jamik. Benar saja, setelah ia menjumpai abu,
beliau menyuruh Tgk. Abdul Hamid untuk menggantikan beliau untuk berkhutbah di
mesjid pada Jumat besok. “Teungku, singoh
neuganto lon beuit khutbah di mesjid” (teungku, besok gantikan saya untuk
berkhutbah di masjid), kata Abu singkat. Keadaan Teungku Abdul Hamid menerima
perintah Abu itu tubuhnya gemetar, keringat sudah mulai keluar membasahi
tubuhnya dan lidahnya terasa kelu untuk membantah perintah guree. Tapi kemudian Abu sepertinya maklum
dengan keadaan murid mudanya itu, karena itu Abu Syech Mud melanjutkan, “beuit khutbahnyan hana susah, asai rukon jih
peunoh khutbah ka sah, Teungku hana peu takot” kata Abu. Peutuwah abu ini memberi semangat yang
amat besar baginya sehingga ketakutan dan merasa dipikulkan beban berat
berubah menjadi ringan saja dan tidak memberatkan.
Secara psikologis penyebab takut dan
gusarnya Teungku Abdul Hamid menerima perintah untuk berkhutbah itu adadua.
Pertama, abu secara khusus memberi tugas kepada nya yang umurnya masih sangat
muda, pada hal masih banyak tuengku-teungku senior lain yang lebih dewasa darinya,
tetapi abu menyuruh dia untuk menggantikan beliau. Kedua, mesjid jamik itu
merupakan mesjid besar yang dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat, dan
disitu banyak pula yang alim dan pandai-pandai termasuk juga pemimpin
negeri. Ketiga, ia belum pernah berdiri untuk ceramah didepan umum, apalagi
dihari Jumat yang sangat sacral karena ibadah. Tapi kekhawatiran dan ketakutan
itu karena kepercayaan abu terhadap kemampuannyasuatu kebanggaan yang sangat
besar. Disamping itu, bahwa Abu untuk pertama kali secara langsung memanggil dia dengan sebutan “teungku”.
Berarti dimata abu dirinya sudah disetarakan dengan teungku-teungku senior
lainya. Karena itu, ia bertekad tugas yang dibebankan oleh Abu ini akan
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Tetapi tetap saja, sepulang dari
menemui abu, ia nampak gelisah. Ia memikirkan bagaimana ia menyampaikan
khutbah pada Jumat besok, sedangkan ia belum pernah menyampaikan materi,
ceramah atau sejenisnya didepan umum yang ramai seperti jamaah Jumat. Memang muzakarah dan belajar pidato sering diikutinya setiap malam Jumat di dayah, tetapi
berkhutbah di mesjid jamik yang merupakan mesjid terbesar di Blangpidie
merupakan beban berat dan suatu halbeban yang amat besar pula. Kegusaran itu
berkecamuk dalam dadanya sepanjang hari. Baru pada sore hari ia berupaya
untuk mempersiapkan materi yang akan disampaikan besok.
Sambil menyiapkan bahan dan materi
khutbah untuk besok,hatinya tetap masih bertanya-tanya, kemana abu besok
pergi sehingga beliau tidak dapat memberi khutbah. Karena merasa segan,
takut dan terkejut bercampur baur saat menerima perintah abu itu, sehingga
lidahnya kelu untuk bertanya seperti itu. Ia mulai sore dan malamnya
menyiapkan bahan khutbah yang harus dibahani ingatannya, karena ia melihat
abu dalam memberi khutbah tidak pernah menyiapkan konsep. Iapun harus dapat
melakukan yang sama, tidak menulis dikertas tetapi cukup dihafal dalam ingatan
saja. Setelah bahan terkumpul, ia menetapkan bahwa khutbahnya besok
mengambil tema tentang keutamaan bulan Rajab.
Saat itupun tiba. Memasuki waktu jumat
ia bergegas datang ke mesjid. Ia melihat
mesjid penuh sesak dengan jamaah. Tapi anehnya, jantungnya tidak
lagi berdegub kencang. Detak jantungnya sudah biasa-biasa saja walaupun
jamaah di mesjid sudah penuh sesak. “Alhamdulillah, Allah telah memberi
kekuatan sehingga ketakutan yang tadinya saya alami kini sirna,...”, gumamnya
dalam hati. Ia berjalan menuju shaf pertama dan dekat dengan mimbar. Saat
melihat jamaah disekelilingnya ia terkejut alangkepalang bahwa Abu Syech Mud
berada disitu. Beliau tidak ketempat lain. Teungku Abdul Hamid segera berfikir
bahwa ini salah satu ujian yang diberikan kepadanya oleh Abu. Dan ia bertekad
akan melaksanakan ujian itu dengan baik sebagaimana ujian-ujian pelajaran
lain yang telah diikutinya di drah beut.
Semoga saja ujian ini dapat dilaksanakan dengan baik dan lulus.
Setelah hari itu, teungku dan khatib muda
ini terus diajak oleh abu untuk berdakwah. Disamping berdakwah ke
berbagaikampung, juga sering menggantikan Abu untuk memberi khutbah di mesjid
Jamik.
Walaupun kesibukannya telah bertambah
dengan khutbah atau berdakwah, tugas pokok sebagai orang menuntut ileume tetap dijalankan. Beuit dan seumeubeuit
tetap dijalankannya dengan serius. Dan tahun-tahun kedepan makin lebih banyak
mengajar pada drah karena jadwal ia belajar pada abu hanya sekali dalam satu
hari. Selebihnya digunakan untuk mengajar dan bermuhadharah dengan
teungku-teungku lain membahas berbagai macam kitab untuk mendalami maknanya.
Jika ada masalah yang tidak dapat dipecahkan dibawa kepada abu saat
pengajian drah tinggi.
Satu kebiasaan dinilai sangat baik
yang dilakukan Teungku Abdul Hamid yaitu ia sangat suka membaca. Saat didayah
Bustanul Huda kebiasaan membaca berbagai jenis kitab dilakukannya secara rutin.
Pada saat ia masih mengaji kitab Mahalli misalnya, yang merupakan kitab pembahasan
awal pada drah tinggi, ia telah membahas berbagai jenis kitab lainnya. Telah
membahas berbagai kitab hadist, kitab-kitab tashauf dan yang paling suka didalaminya
adalah kitab ushul fiqih seperti kitab Al Um yang merupakan kitab dasar
dari Mazhab Syafiie.
Keluasan pengetahuan yang dimiliki
oleh Teungku Abdul Hamid itu menarik perhatian Abu Syech Mud. Untuk memperdalam
pengetahuan santri yang mengambil
drah tinggi, abu sering mengajukan
masalah yang minta didiskusikan oleh para santri. Abu Syech Mud selalu minta Teungku
Abdul Hamid untuk mengeluarkan pendapatnya terlebih dahulu.Biasanya Teungku
Abdul Hamid untuk mendukung pendapatnya mengeluarkan pula pendapat dari
berbagai ulama lainnya yang ditulis dalam kitabnya, didukung pula dengan firman
Allah dan hadist rasul yang berhubungan dengan soal yang diajukan abu. Di
sinilah letak kelebihan Teungku Abdul Hamid dibandingkan dengan
Teungku-Teungku lain pada drah yang sama. Luasnya referensi yang dikemukakan
dalam memecahkan masalah yang disampaikan Teungku Abdul Hamid menyebabkan
santri lain tidak mampu membantahkannya.
Kesukaan membaca itu bukan hanya
di waktu masih belajar di dayah, tetapi juga setelah membuka dayah sendiri.
Malah pada saat itu bukan hanya kitab saja yang didalaminya, tetapi juga
berbagai jenis buku, majallah dan surat kabar. Walaupun majallah dan surat
kabar sudah tergolong terlambat karena diterbitkan di Jakarta dan lama dalam
pengiriman, tetapi tetap dibaca dan ditelaahnya. Beliau sering mengatakan:
“dalam mendapatkan pengetahuan tidak ada yang terlambat”. “Majalah dan surat
kabar ini walaupun sudah lama terbit, karena baru sampai bagi kita tetap
masih merupakan informasi baru, jangan dibuang sebelum dibaca”, kata beliau
dalam berbagai perbincangan.
Karena kemampuan memahami ilmu dan
nahu sharaf relatif tinggi menyebabkan kemampuannya untuk membaca berbagai
kitab dan mengambil maknanya juga sangat tinggi.Karena itu Teungku Abdul Hamid
nampak lebih menonjol dibandingkan dengan santri-santri lainnya.
8.
Tambahan
lakab nama
Suatu ketika ke dayah Bustanul Huda
datang santri pindahan dari dayah lain yang namanya sama yaitu Abdul Hamid
juga. Kini didayah Bustanul Huda memiliki dua santri yang bernama sama.
Untuk memudahkan dalam panggilan, mulai ada santri-santri yang memberi lakab
nama khusus untuk membedakan antara ke dua santri yang bernama sama itu. Lakab
yang diberikan sesuai apa yang dilihat. Karena kedua santri bernama Abdul
Hamid itu memiliki perbedaan yang sangat nyata. Abdul Hamid pertama, warna
kulitnya putih dan yang satu lagi agak lebih gelap. Maka untuk membedakan
panggilan antara ke dua Teungku Abdul Hamid itu, para santri mulai membedakannya
dengan sebutan lakab kulit. Untuk yang pertama disebut sebagai Teungku Abdul Hamid Puteeh dan yang satu
lagi Teungku Abdul Hamid Hitam. Di
samping panggilan pada warna kulit, ada pula panggilan berdasarkan daerah
asal. Teungku Abdul Hamid pertama juga disebut Teungku Hamid Meukek, sedangkan yang satu lagi disebut Teungku Hamid Aceh.
Panggilan itu mulai beredar dari mulut
ke mulut diantara santri. Tentu saja, panggilan lakab nama khusus itu tidak
disukai oleh kedua Teungku Abdul Hamid
itu. Melarang orang menyebut seperti itu tidak mungkin, membiarkan
saja tentu panggilan yang tidak disukai akan melekat dan berkembang luas.
Dan, lakab panggilan harus dihilangkan sehingga tidak menjadi melekat dan
susah untuk diganti.
Untuk mengatasi hal itu, Teungku Abdul
Hamid Puteeh atau Teungku Abdul Hamid Meukek mengganti lakab panggilan itu
menjadi Teungku Abdul Hamid Kamal.Tambahan
panggilan di ujung nama itu merupakan penggalan dari nama abu beliau yaitu Kamaluddinsehingga dilakabkan saja
menjadi KAMAL. Sejak saat itu lakab
Teungku Hamid Puteeh atau Teungku Hamid Meukek berganti panggilan menjadi Teungku Abdul Hamid Kamal.Anehnya,
perbedaan lakab telah berubah, tetapi panggilan kepada Teungku Hamid Aceh tetap
terjadi sampai berakhir beliau belajar didayah Bustanul Huda.
Abuya Memberi Kuliyah di Dayah
Raudhatul Ulum
Abuya saat berceramah dakwatul Islam di
berbagai daerah
(Suplemen)
Menegah
yang Keliru
Suatu hari saat Abdul Hamid kecil baru diantar untuk belajar
di Bustanul Huda, ia masih dalam tahap penyesuaian diri. Ia nampaknya belum
fokus untuk belajar dan masih suka berkenalan
dan suka bertandang ke balai-balai drah dan juga ke rangkang-rangkang
(asrama santri sering disebut dengan rangkang).Tujuannya untuk menghilangkan keasingan suasana yang sebelumnya tidak
pernah dialami oleh Abdul Hamid semasa hidup di kampung. Anak yang masih
tergolong kecil diantar untuk “meudagang” (istilah sering digunakan untuk
nyantri dan jauh dari ayah bunda) tentu saja menyebabkan hati menjadi tidak
tenang dan gundah. Untuk menghilangkan kegundahan itulah ia sering bertandang
ke balai drah untuk menyimak santri yang sedang belajar atau juga
bertandang ke rangkang-rangkang santri.
Suatu waktu ia melewati rangkang Teungku Rahman seorang santri yang
telah duluan belajar di situ dan sedang membaca Al-Quran. Ia mendengar bacaan
tajwidnya banyak yang kurang sesuai,
sehingga mengharuskannya singgah dan naik ke rangkang tersebut. Saat itu,
ia tanpa sungkan membetulkan bacaan yang sedang dibacakan oleh santri yang
lebih senior itu. Bukan hanya membetulkan bacaan saja, tetapi juga mengajarkan
tajwidnya dan menerangkan cara bacanya. Setelah hari itu, Teungku Rahman yang
dinilai lebih senior sering menenteng Al-Quran untuk datang ke bilik Abdul
Hamid untuk belajar tajwid dan cara bacaan yang lebih betul.
Bacaan al-quran santri muda itu, makhrojnya memang tergolong sangat
baik. Bacaan hurufnya jelas dengan makhraj yang bagus, tajwidnya juga tergolong baik dengan irama bacaanpun
sangat menawan. Sesungguhnya baiknya bacaan Abdul Hamid itu karena ia belajar
pada abunya sendiri yaitu Abu Kamaluddin yang tergolong qari dalam bacaan
kitab suci al-quran. Abu Kama faham terhadap tajwid secara detil serta qiraat
bacaannya yang lazim dan mu’tabarah. Abdul Hamid sejak kecil sudah diajarkan
tentang tajwid oleh abunya, karena itulah ia menjadi faham tentang kaedah
bacaan Al-Quran dan seluk beluknya.
Sejak saat itu, Abdul Hamid “si Teungku Aneuk Mit” itu sudah bertindak
sebagai pengajar tajwid dan qiraah bacaan al-quran. Banyak santri senior
bertanya tentang itu, dan Abdul Hamid menjelaskan secara detil dan sistematis
tentang qiraah dan tajwid bacaannya. Karena itu tidaklah mengherankan
jika sejak awal ”teungku aneuk mit” itu telah mengajarkan santri lain bahkan
yang lebih senior.
Itulah
kelebihan sistem pendidikan di dayah, jika ada santri yang punya kemampuan
dan kelebihan tertentu maka santri lain tidak sungkan untuk bertanya bahkan belajar………
itulah kaedah belajar yang benar.. (**)





Komentar
Posting Komentar