BAHAGIAN KE LIMA


Silman Haridhy
BIOGRAFI
ABUYA SYECH HAJI ABDUL HAMID KAMAL
“Seorang Ulama Bersifat Diplomat”


                                             Unit PerpustakaanYayasan AHKAM

                                                 DAYAH RAUDHATUL ULUM



I.                  ABDUL HAMID KECIL
1.     Semasa kecil
     Semasa kecil Abdul Hamid tumbuh dan berkem­bang se­ba­gai­­ma­na anak-anak yang lain. Bermain ga­thok, main meulet-let, main galah, peulheh geulayang dan mano u krueng. Se­ma­sa kecilpun Abdul Hamid su­dah ditua­kan oleh rekan-re­kan­nya. Ia sering ditunjuk sebagai pemimpin da­lam per­mai­n­an. Begitulah kea­da­an­nya.
Abu beliau (panggilan untuk ayah) sering bepergian ke dae­­rah-darah lain. Kadang-kadang beliau pulang ke Sa­wang sampai se­ming­gu, atau ketempat lain, mi­sal­nya ke La­­buhan Haji, Peulumat, mang­geng atau­pun ta­ngan-ta­ngan, dan Blang­­pidie yang saat itu sudah ra­mai juga pen­du­duk­nya. Ke­pergian beliau disamping ber­dakwah juga bekerja sebagai tu­kang pembuat ru­mah. Karena Tgk. Syech Kama­lud­din di­sam­­ping ber­u­sa­ha sebagai petani, juga memiliki keahlian se­bagai tu­kang  rumah dari kayu. Karena itu, Abdul Hamid ke­cille­bih banyak ber­sen­tuhan dengan ibunya yang da­lam ke­se­ha­rian dipanggil Nyak (pangilan lain untuk ibu).
Nyak Puan telah mengajarkan baca Al quran ke­pa­da Abdul Hamid pada umur 3 tahun, walaupun pada saat itu hanya me­ng­a­jar­kan cara mengenal huruf ijaiyah saja danhanya sedikit tentang me­rang­kaikan huruf sehingga menjadi kali­mat bacaan.
Pada umur 4 tahun ia telah mulai dapat membaca al-qur­an, wa­lau­pun belum lancar. Karena itu tidak meng­herankan pada umur kurang dari tujuh tahun Abdul Hamid kecil telah mampubertadarus mem­baca alquran secara tartil dengan qari dewasa,misalnya ta­daruspadasaat ken­duri, dsbnya. Ada satu hal yang menarik, pada saat ta­da­rus dengan orang de­wa­sa itu dan malah dengan qari yang sangat ter­ke­nal saat itu, se­perti Sayed Quraisy di Susoh. Abdul Hamid pada a­wal sa­ngat bersemangat untuk mem­ba­ca alquran secara tadar­rus.Tetapi se­telah larut malam, anak kecil itu hanya diam saja.Ia merasa bahwa kemam­puan­nya untuk membaca al-qur­an secara tar­tilsudah tidak sanggup lagi, karenasurah yang dibacakan dalam ta­darrus itu ia belum belajar.Ia barubelajar bacaan se­cara tartil hanya pada juz-juz awal. Sekarang bacaan dalam tadarrus telah melewati juz yang ia telah be­la­jar dan kemam­puan­nya belum sam­pai pada surah yangdi­ba­cakan itu. Diamnya qari kecil itu menarik per­hatian Tgk Sayyed yang terkenal sangat qari saat itu. “Hai teungku Aneuk mit, jangan diam lanjutkan ba­caan” (hai Teungku kecil, kenapa diam, lanjutkan bacaannya), kata Tgk. Sayed. Abdul Hamid men­ja­wab “surah itu saya belum be­lajar tajwidnya” dengan mata sayu dan mengan­tuk. Itu si­fat Abdul Hamid, apa yang dapat dilakukan dan mampu akandila­kukan­nya, dan jika tidak mampu tanpa malu akan di­akuinya dan tidak me­mak­sakan diri melakukannya. Sifat dan bawaan seperti itu dilakukan sampai beliau wafat.
Ada yang menarik diceritakan pada saat Abdul Ha­mid seumur 6-7 tahun ini. Suatu ketika Abu beliau Teungku Kama­lud­din pulang keArunTunggai dengan me­ngendrai se­pe­da. Rupa­nya Abu beliau itu ba­ru saja membeli sepeda. Ten­tu saja, sepeda itu sepeda untuk orang de­wa­sa yang bentuk­nya besar dan punya ba­tang antara stang dengan tempat duduk. Sepeda  itudiletakkan dibawah kolong ru­mah. Sepu­lang Ab­dul Hamid dari sekolah dengan adiknya Abdul Majid, me­li­hat ada sepeda dibawah kolong rumah. Abdul Majid me­ngajak abangnya Abdul Hamid naik sepeda, pada hal me­re­ka belum pernah belajar me­ngendarai se­peda. Akhirnya, mereka sepa­kat untuk naik sepeda. Me­­re­ka berdua dengan susah payah menge­luarkan se­peda itu da­ri bawah kolong.Abdul Hamid sebagai abang men­coba naik terlebih dahulu. Dengan me­nyan­darkan kaki pada tang­gul ke­lapa yang telah dipotong, sehingga ia dapat mengayuh sepeda itu, dan berhasil tidak jatuh. Sepeda tersebut berhasil digowes-gowes dan di­arah­kan ke tanah lapang yang ada di depan rumah. Masalahnya baru muncul ke­mudian. Setelah lama di kayuh, itu sepeda ba­gaimana cara mem­ber­hentikannya. Mengandalkan meno­pang de­ngan kaki, apadaya kaki be­lum sampai, membiarkan tanpa digowes akan terjerembab ke ta­nah, meminta bantu pada adiknya Abdul Majid, ia masih kecil belum mam­pu me­nahan lajunya sepeda.Karena sudah lama berputar-putar ti­dak bisa mendarat, akhirnya ia dan adiknya berteriak se­kuat tenaga min­ta bantupada orang dewasa. Karena yang berteriak ada dua anak se­cara bersamaan mohon bantuan, maka orang-orang yang ada ber­larian ke arah mereka ka­rena terkejut. Akhirnya dengan bantuan o­rang dewasa laju sepeda itu dihentikan dan Abdul Hamid tidak jadi ter­­jerem­bab ke ta­nah.

2.     Sekolah formal
Masa kecil tentu saja dilaluinya dengan bermain dan be­la­jar. Di sam­ping belajar alquran, juga diajarkan pe­­la­jaran ba­caan kitab arab jawi yang berkaitan de­ngan ilmu agama. Seiring dengan kemam­puan­nya ba­ca alquran, Ab­dul Hamid juga mampu membaca huruf arab jawi. Di masa kecil lebih banyak diajarkan oleh ibunda beliau Nyak Puan dalam ben­­tuk kitab-kitab a­ga­ma Islam bahasa jawi seperti kitab Ma­sa­ilal Muh­tadi dan kitab-kitab sejenis.Tetapi se­te­lah 7 tahun,  Ab­dul Hamid sudah mulai belajar pada abu beliau dalam bentuk kitab-kitab arab. Seiring diajarkan kitab arab oleh abu beliau, ia juga dimasukkan ke sekolah formal se­la­ma 3 tahun. Sekolah formal ini (juga ma­sya­ra­kat menye­butnya Sekolah Rendah atau Sekolah Rakyat) bertujuan un­tuk me­ningkatkan kemampuan beliau mengenal huruf la­tin,me­ning­kat­kan ke­mam­puan membaca dan memaha­mi­nya, ser­ta mening­kat­kan kemam­pu­an ma­te­matika (dulu dikenal dengan il­mu berhitung).
Abdul Hamid belajardisekolah formal selama 3 ta­hun, karena di daerah beliau tersedia sekolah formal ha­nya 3 ta­hun saja yaitu ke­las 1,kelas 2 dan kelas 3. Se­telah itu siswa di­anggap telah tamat be­la­jar, dan ji­ka ingin me­nyam­bungnya harus pergi ke Tapak Tuan atau Meulaboh. Abdul Hamid yang saat itu baruber­u­mur 10 tahun tentu saja tidak akan dibiarkan oleh Abu dan Nyak beliau untuk pergi ke Tapak Tuan atau Meu­la­boh untuk melanjutkan sekolah.

3.     Belajar di Bustanul Huda
Setelah tamat sekolah rendah 3 tahun itu, Abdul Ha­mid hanya tinggal di kampung dan mulai mem­ban­tu-bantusau­da­gar-saudagar untuk mengum­pul­kan ha­sil bumi dari ma­sya­ra­kat. Abdul Hamid mulai me­ne­ku­ni bidang dagang se­le­pas bersekolah formal tahun 1937. Te­ta­pi kerja ini ti­dak lama. Pada tahun 1938, Abdul Hamid oleh abu beliau diantar untuk belajar ke DayahPesantren Bustanul Huda diBlangpidie, dan diserahkan kepada pimpinan dayah ter­sebut yaitu Teungku Syech T. Mahmud bin T. Ahmad, seorang ula­ma sufi yang sangat alim berasal da­ri desa Lampuuk dan berkeluarga ke desa Lam­lhom kecamatan Lhok­nga Aceh Besar yang ditugaskan oleh kerajaan Aceh untuk me­ngem­bangkan pendidikan aga­ma di pantai ba­rat selatan Aceh.
Dayah Bustanul Huda merupakan dayah salafiah yang saat itu sangat masyhur di Aceh. Dayah itu di­di­ri­kan pada tahun 1928 ber­lo­ka­si disekitar mesjid jamik Blang pidie. Banyak santri yang berdatangan dari ber­ba­gai daerah dan telah banyak menghasilkan ulama. Dayah ini telah meng­hasilkan banyak ulama di Aceh misalnya Teungku Syech Haji Muda Wali Al khalidi. Teungku Syech H. Adnan Mahmud Ba­kongan. Teung­ku Syech H. Jailani Kota Fajar, Teungku Abu Ghaffar Aceh Besar, dan banyak lagi ulama-ulama lain yang ti­dak mungkin disebut dalam tulisan ini.
Sejak tahun 1938 Abdul Hamid belajar dengan te­kun di Bus­ta­nul Huda Blangpidie. Beliau ter­golong sa­ngat cerdas dansantun. Ke­cer­dasan dan kesantunan Abdul Hamid tidak hanya saat belajar di dayah, tetapi sudah nampak  dari se­jak kecil.
Semasa kecilkarena kesantunannya ia sering dija­di­kan pe­mim­­pin dalam bermain. Disebab­kan kecer­da­san­nya, sa­at be­la­jar di seko­lah ren­dah­pun ia sering dijadikan con­toh oleh gurunya untuk menye­le­saikan soal-soal yang dia­jukan guru di papan tulis. Boleh jadi juga Abdul Hamid merupa­kan mu­rid  kesayangan gurunya. Karena itu jika a­da soal yang diajukan guru selalu diarahkan kepadanya untuk men­ja­wab terlebih da­hulu. Begitulah keadaannya.
Keadaan itu juga berlanjut di dayah Bustanul Huda. Saat di­an­tarkan oleh Abu beliau Teungku Syech Ka­ma­lud­din, kepada Teungku Syech T. Mahmud, be­liau me­nyam­paikan gambaran itu, bah­wa Abdul Hamid sudah diajarkan kitab-kitab dasar se­per­ti kitab Jarumiah, mukhtashar, dan lain-lain. Oleh ka­rena itu, Teungku Syech T. Mahmud mencoba me­nyuruh mem­baca be­be­­ra­pa patah kalimat da­lam kitab mukhtasar yang meru­pakan kitab dasar yang meng­gunakan tulisan arab gun­dul (tulisan­nya tidak berbaris atau kitab gundul). Abdul Hamid memba­ca­nya dengan fasih, dan baca­annya telah memenuhi kaedah nahu sharaf (tata bahasa) yang me­mang sangat disyaratkan dalam mem­­baca kitab gundul di­pesantren dan dayah. Ka­re­na itu dan belum per­nah dila­kukan oleh pimpinan da­yah se­be­lum­nya, bahwa Abdul Ha­mid dibawa sendiri oleh pimpinan da­yah dan me­ngan­tarnya ke rangkang (bilik) yang akan di­tem­pati dan me­nunjukkan drah (kelas, tingkat) yang akan diikuti. Perlu di­kemukakan bah­wa Abdul Hamid tidak me­ngikutipelajaran pada drah pertama lagi karena kemam­puannya su­dah menduduki kelas diatasnya. Karena itu Abdul Hamid lang­sungditem­patkan di drah lanjutan (kelas tiga). Ten­­tu saja penempatan kelas atau drah itu kepada Abdul Ha­mid yang dinilai masih kecil (sering di­se­but dikalangan santri dengan pang­gilanteungku aneuk mit) sangat meng­he­ran­kan teman-teman sedrahnya, ka­rena umumnya santri yangdu­duk di kelas tiga agak lebih dewasa, umur­nya sudah dua puluh ta­­hun bah­kan bisa lebih tua  lagi. Tetapi Abdul Ha­mid yang ba­ru berusia se­kitar 11 tahun telah duduk di kelas tiga dan telah mampu membaca kitab gundul semisal kitab Bajuri dan sejenis­nya.Bukan hanya mampu mem­baca saja, tetapi juga telah mampu mem­beri mak­na sesuai de­ngan kaedah nahu-sharaf yang sangat dipersyarat­kan di dayah.



4.     Weuh hatee
Perhatian Teungku Syech T. Mahmud (yang dalam kese­ha­rian se­ring dipanggil dengan Abu Syech Mud) ke­pada Abd. Hamid tergolong besar. Pantauan beliau ter­hadap murid baru yang masih tergo­long ke­cil dan cer­das itu dilakukan setiap waktu. Agaknya Abu Syech Mud sudah mem­prediksi bahwa santri kecil yang cer­das itu jika dibimbing dengan betul akan jadi orang alim dan mungkin saja akan jadi ulama. Karena makna orang alim dengan ulama ada perbedaan. Yang di­mak­sud orang alim adalah orang yang megetahui ten­tang seluk beluk ilmu agama Islam dan ia paham ten­tang agama. Adapun ulama adalah orang yang me­nge­tahui tentang seluk beluk il­mu agama Islam, me­nga­malkan pengetahuannya dengan ikh­las dan me­nga­jarkan penge­ta­hu­annya itu kepadaorang lain de­ngan ikh­las pula. Boleh jadi, pan­dang­an itu telah ter­li­hat oleh Abu Syech Mud bahwa Abdul Hamid me­miliki potensi kearah itu. Makanya perkembangan pen­di­dikan teungku ke­cil itu sela­lu ditanyakan.
Abdul Hamid terbenam dengan belajar. Ia me­ngam­bil drah pa­gi, siang dan malam. Dengan jad­wal be­lajar seperti itu praktis tidak a­da waktu lagi untuk bi­sa bermain-main. Ke­se­riusan Abdul Hamid dalam be­­­lajar memang mendapat pu­jian dari teungku-teung­ku pengajar drah (teungku seu­meu­­beit). Sering pula terjadi jika ada kesempatan, se­be­lum drah dimulai, Ab­dul Hamid mem­ba­ca­kan ulangkaji ten­tang pe­la­jaran yang lalu dengan penjelasan surahnya yang te­pat kepada te­man-te­man satu drah. Tidak jarang pula terjadi perdebatan dalam membacakan matan kitab dan menjelas­kan uraian surahnya.Biasanya, perde­ba­tan mucul pada saat dibacakan oleh santri lain.Ka­dang-ka­dang salah dalam me­ma­sang baris dan ka­dang-kadang per­bedaan pendapat mun­cul saat me­ma­knai bacaan dalam bentuk surah (penjelasan atau pengupasan).Jika saat itu teungku seumeubiet belum datang, biasanya yang menye­le­sai­kan perdebat­an itu diminta pendapat Abd.Hamid.Begitulah kea­daannya.
Ada kebiasaan di masyarakat kita jika mengadakan ken­duri,sa­­ngat disukai mengundang san­tri dayah un­tuk ber­doa atau mem­ba­ca­kan alquran. Dimata ma­sya­ra­kat, para santri itu adalah orang yang sedang ber­ju­ang fisa­bilillah, orang menuntut ileumee agama. Mem­­be­ri kenduri kepada mere­ka akan terasa lebih af­dhal.Kenduri itu biasa ter­jadi saban hari atau bahkan saban malam.Oleh dayah, melalui teungku seu­meu­beuit yang diberi tu­gas untuk menerima undangan ken­duri dan mengatursantri yang menghadiri­nya. Ka­re­na santri ba­nyak jum­lahnya, maka teungku seu­meu­beutakan meng­a­tur santri. Suatu hari, olehteungkeu seumeubeut menunjuk Abdul Hamid ikut meng­hadiri ken­duri yang juga akandihadiri oleh Abu Syech Mud. Me­nurut jadwal, kenduri akan dilaksa­na­kan malam ha­ri selepas Isya. Setelah diketa­hui oleh pim­pinan da­yah, bahwa AbdulHamid ikut ber­sama rombongan meng­ha­di­ri ken­duri ma­lam itu, makapimpinan Dayah me­la­rang Abdul Hamid ikut dalam kenduri itu.Abu Syech Mud me­nyuruh sampaikan pe­­san bahwa Abd. Hamid jangan ikut, ia lebih baik dirang­kang saja be­lajar dan mengajar.
Pesan itu sertamerta disampaikan oleh teungku seu­­meu­beut pada saat drah siang setelah lepas shalat dhuhur.Abdul Hamid sedih se­kali, dan pikirannya me­ne­rawang-nerawang ber­fikir yang bukan-bu­kan.Apa­kah saya dibencioleh Abu Syech Mud (begitu santri me­mang­gil kepada pim­pinan da­yah).“Mungkin betul be­liau benci saya.Saya tidak diberi pe­lu­ang untuk ber­main sedikitpun. Pagi siang dan malam saya ha­rus be­la­jar, dan dibebankan pula untuk mengajar. Santri lain diajak ikut ken­duri, ikut ber­dakwah dengan beliau, sa­ya tidak pernah diajak”, begitulah near­wang pi­kiran Abdul Ha­mid saat itu.Hiba hati AbdulHamid tidak ter­ta­hankan se­hing­ga disampaikannya kepada ka­wan­nya satu bilik.Kesedihan AbdulHamid ituakhirnya sampai juga ke­pa­da Abu Syech Mud yang dulunya di­sam­ping be­lajar di Aceh seperti Abu Hasan Krueng Kalee, juga be­lajar agama di semananjung Ma­laysia yaitu di ne­ge­ri Yan. Dan secara khusus ia dipanggil dan meng­ha­dap be­liaudilangkan(teras) mesjid jamik selepas shalat dhuhur. Abu Syech Mud jarang ketemu dengan murid-murid pe­mula, kali ini beliau me­luangkan waktu untuk memanggil Abd. Hamid untukmenyam­pai­kan kenapaia tidak diikutkan untuk menghadiri kenduri yang ke­rapkali terjadi. “Hai Teung­ku Hamid” kata AbuSyech Mud.“Gata teuhoi keuno untuk teupeugah bahwa ga­ta hana teupakat jak bak ken­duri atau dakwah karena bagi gata hainyan hana penteng. Gata jino beuit beu sunggoh dan upayakan ileumee nyang ka na peurueno ureung lain. Nyan yang lebeih penteing ba­gi gata.Jak Kenduri nyan teuboh watee mantong,” (anda sa­ya panggil ke sini untuk diberitahu bahwa anda tidak di­ajak untuk menghadiri kenduri atau ke acara dak­wah ka­remna untuk engkau lebih baik belajar dengan sungguh-sungguh, dan upayakan ilmu yang sudah ada a­jarkan kan (mengajarkan) orang lain. Itu yang lebih baik untuk mu. Pergi menghadiri kenduri hanya bu­ang-buang waktu saja),kata Abu Syech Mud. Beliau me­lanjutkan, “Hana teupakat gata  kon keureu­na ben­ci, kareu­na gata beujeut keu ureueng singoh ohka raya” (enggak diajak kamu itu bukan saya benci kamu, tapi belajarlah agar kamu jadi orang kalau sudah be­sar). AbdulHamid tertun­duk malu dan rasa berdosaka­re­na telah me­ngang­gap yang bukan-bukan ke­pada gurunya yang sangat santun itu se­lama ini. Kesalahan itu segera ber­is­tigh­far dan mo­hon ampun.Dengan me­nun­duk mencium tangan abu Syech Mud dengan ke­pala me­nyem­bah kelutut mohon ampun terhadap prasangka jelek itu dan mohon doanya.


                                            Abuya Syech H. Abdul Hamid menerima masyarakat
                                              yang ber­kun­jung ke tempat beliau setiap hari.


5.     Belajar dan mengajar
Ada keunikan khusus diterapkan dalam pendidikan da­­yah sa­la­fiah dari dulu sampai seka­rang. Santri yang di­­anggap cer­das dan mampu me­ma­hami pelajaran yang diajarkan, oleh pim­pinan dayah di­min­ta untuk me­nga­jar­kan pula kepada san­tri yang dibawahnya. Sis­­tem seperti itu sangat besar man­faatnya. Pertama, santri yang dinilai cerdas dengan me­ngambil drah ke­pa­da santri yang diba­wah­nya akan mem­ban­tu ia un­tuk memahami secara detail tentang pelajaran yang di­ajarkan. Kedua, mem­pertajam kemampuan analisa un­tuk menjelas­kan makna dari setiap ka­limat yang a­da da­lam kitab pegangannya. Ketiga, akan mening­kat­kan kemam­puan­nya dalam mema­hami nahu-sharaf (tata bahasa) arab yang menjadi dasar dalamme­ngam­­bil mak­na dari setiap ka­limat. Keempat, mem­per­­ta­jam kemampuan meng­ana­lisa ma­sa­lah yang mun­cul. Kare­na itu, dalam tatacarapenge­lolaan dayah tra­­disional de­wan guru pengajar digunakan tenaga da­ri santri senior. Artinya, santri senior mengajarkan san­tri-santri yu­nior di­ba­wah­nya. Tidak jarang, santri se­nior me­ngam­bil be­be­ra­pa drah meng­ajar dalam se­ti­ap hari. Karena jika makin senior seorang santri de­ngan kemampuan yang ting­gi, ia dapat mengambil be­be­rapa drah. Hal ini me­mung­kin­kan karena santri se­nior memiliki waktu yang cukup untuk mengajar, se­bab santri senior langsung be­lajar dari pim­pinan da­yah sehingga sistem belajarnya lebih banyak pada ke­mam­puan menga­nalisa, membahas dan mengatasi ma­­sa­lah. Disamping itu, sistem pem­be­lajaran tingkat tinggi itu lebih banyak dibukakan debad baik antar san­tri senior maupun dengan pengajaranya yang da­lam hal ini pim­pinan dayah. Karena tatap muka mung­kin dalam satu hari hanya se­kali, untuk mengisi waktu dan mening­katkan kemam­pu­an, ia da­pat me­ngajarle­bih banyak.
Begitulah yang terjadi terhadap Abd. Hamid. Wa­lau­pun ia ba­ru saja belajar di dayah dan duduk di klas tiga, tetapi ia sudah diminta dan dipercayakan untuk me­ngajar di kelas satu dan kelas dua.Kom­bi­na­si an­tara belajar dan me­ngajar ini menyebabkan tidak ada waktu yang terluang. Seluruh wak­tu dimanfaatkan un­tuk belajar, mengajar, iba­dah dan istirahat.
Santri di Bustanul Huda saat itu harus bangun lebih awal. Mereka harus bangun sekitar pukul 4 dini hari (se­­be­lum subuh). Me­re­ka harus membersihkan diri, mandi,be­rudhuk dan kemesjid untuk me­nunggu su­buh. Perlu juga harus di­ingat, saat itu suasana sangat ge­lap karena tidak memiliki lis­trik. Penerangan hanya ter­jadi jika pur­na­ma. Cahaya bulan­lah yangme­ne­rang­kan lingkungan dimalam hari sehingga san­tri da­pat duduk dan bercengke­ra­ma dimalam hari sete­lah belajar.
Tidak jauh dari mesjid ada kantor pemerintah yang di­pim­pin oleh kontroler. Dan diseberang jalan ter­da­pat tang­si me­liter Belanda. Di depan tangsi dan kantor pe­me­rintah ko­lo­nial itu ada beberapa tiang dari besi aluminium yang diujungnya dipasang lampu minyak. Se­ti­ap sore dekat magrib lampu jalan itu dibakar sum­bu­nya dan di­pa­sang diujung tiang oleh Upah (pega­wai pesuruh) yang ditugaskan untuk urusan itu. Itulah yang ada sistem pe­nerangan jalan saat itu.
Di depan mesjid jamik yang terbuat dari bangunan kayu yang kubahnya terbuat dari sirip kayu yang telah dicat warna hitam, juga ter­dapat sebuah kolam berair jernih, dingin dan sangat bersih. Di pagi hari, sebelum subuh sebahagian santri mandi dan berudhuk di ko­lam itu. Di da­yah juga terdapat beberapa kolam kecil lainnya dan bebe­ra­pa buah sumur. Santri mem­ber­sih­kan diri, mandi dan keperluan cuci mencuci dikolam dan sumur-sumur itu, hanya sebahagian kecil santri yang meng­gunakan kolam mesjid untuk mandi te­ru­ta­ma di pagi hari sebelum subuh. Sedangkan mandi si­ang dan sore hari umumnya para san­tri menggunakan kolam kecil di dayah atau sumur.
Pada saat dini hari dan malam hari suasana dayah pe­­nuh de­ngan temaramnya lampu culot. Lampu culot adalah lampu terbuat dari kaleng yang diisi minyak ta­nah dan diberi sumbudari kain tanpa sem­prong. Ini­lah penerangan di dayah itu (dan juga rumah-rumah masyarakat) setiap malam. Berbekal lampu ini para santri melakukan akti­vitasnya untuk be­lajar dan me­nga­jar.Dan harus diingat, de­ngan sarana yang sangat se­derhana itulah telah meng­hasilkan banyak ula­ma besar dan pemimpin negeri.
Keadaan itulah yang dialami oleh Abd. Hamid. Be­la­jar di­te­ma­ni lampu culot dan mengajarpun meng­gu­na­kan lampu culot. Setiap pagi santri berjejal duduk ber­simpuh di mesjid menunggu subuh. Tetapi banyak pula santri yang malas dan bergulung dengan selimut tanpa memper­dulikan azan subuh yang diku­man­dang­kan oleh santri tanpa mikrofon (pengeras suara). Bia­sa­nya santri seperti ini tidak hanya malas untuk ber­ibadah, juga malas untuk belajar. Golongan ini bia­sa­nya tidak memiliki minat yang cukup untuk mencapai tujuan. Ke­da­tangan ke dayah hanya karena disuruh bahkan dipaksa oleh orang tuanya. Orang-orang se­perti itu dimasa tuanya tidak akan jadi apa-apa. Ja­ngan­kan jadi ulama, alim atau lebey, untuk menjadi di­ri sen­diri­pun amat susah. Hanya santri yang memi­li­ki ke­sungguhan saja yang mencapai tujuan hidup yang lebih baik. Memang harus diakui belajar di dayah tidak se­mua­nya akan jadi ulama dan orang alim. Tetapi jika dia sung­guh-sungguh belajar dan yakin untuk ber­amal, hidupnya akan lebih agamawi. Jika ia saudagar menjadi saudagar muslim yang baik, demikian pula ji­ka ia jadi pemimpin menjadi pemimpin yang disegani.
Setelah shalat dan wirid subuh sekitar pukul 07.00 pa­gi, santri belajar di drah masing-masing sampai pu­kul 08.00 pagi.Para santri beris­tirahat untuk sarapan pa­gi ala­kadar­nya dan akan melaksanakan shalat dhu­ha. Pukul 10.00 pagi, santri megembil drah lagi sampai pu­­kul 12.00 siang. Para santri istirahat, masak makan siang alakadarnya dan bersiap-siap untuk shalat dhu­hur ke mesjid. Setelah makan siang, se­kitar pukul 14.00, santri mengambil drah kembali sampai pukul 16.00 (mendekati ashar). Setelah ashar san­tri is­ti­ra­hat, sebahagian san­tri membaca nadham, syair sha­la­wat, dan lain-lain. Masa istirahat ini sampai maghrib. Setelah maghrib santri mengambil drah kembali sam­pai waktu isya atau lepas dari isya. Sekitar pukul 21.00 malam, santri senior mengambil drah pula dengan belajar pada abu pimpinan dayah sampai pukul 24.00 malam. Inilah rutinitas kehidupan dayah salafiah dari dulu sampai se­karang. Setiap drah disampaikan ma­te­ri dan kitab yang berbeda. Ada juga drah mengulang kem­bali materi yang disampaikan olehteungku seu­meu­­beit pada kajian terda­hu­lu. Umumnya, drah se­te­lah shubuh merupakan drah mengulang kembali apa yang telah diajarkan pada per­te­muan sebelumnya. Mi­salnya,mengulang kaji tentang nahu dan sharaf yangdi­ajarkan oleh teungku seumeubeit muda. Pada pukul 10.00, para santri akan masuk drah kembali yang memperlajari kajian tentang kitab fiqih atau ha­dist. Begitulah seterusnya. Banyak juga teungku yang pada satu drah ia me­ngajar, tetapi pada waktu yang lain ia juga belajar pada teungku seumeubit yang lebih senior. Pola ajar mengajar inilah yang diikuti oleh Abd. Hamid. Ia pada jam tertentu bertindak sebagai pelajar de­ngan mengambil drah pada teungku seumeubeit se­nior, tetapi pada waktu yang lain ia bertindak sebagai teungku pengajar untuk drah di  bawahnya.
Kehidupan seperti itulah yang mengasah dan me­nem­pa Abdul Hamid sehingga ia dapat memahami pe­la­jaran, bahkan bukanhanya me­ma­hami, tetapi dapat mengajarkan secara rinci kepada santri-santri lain.
Hanya sekitar 3 tahun menjadi santri Bustanul Hu­da, sekitar umur 15 tahun, beliau telah mengambil drah membahas kitab Mahalliyang dikalangan santri pesantrenmerupakan kitab menengah dalam materi pemba­hasan di dayah. Boleh jadi, ia merupakan santri termuda mem­bahas kitab kelas tinggi itu. Saat itulah ia menyadari bahwa apa yang diterapkan oleh Abu Syech Mud dulu dengan tidak mengikutkan ia pada ber­bagai kegiatan seperti kenduri atau dakwah telah mem­­ba­wa hasil. Ia dalam waktu singkat dan dalam umur muda telah menjadi teungku yang disegani oleh santri-santri lainnya, malah yang lebih dewasa dari dia.

6.     Masa Tidak Aman
Selama 3 tahun belajar di Bustanul Hudaia tidak per­nah di­kun­jungi oleh Abu beliau Teungku Syech Ka­maluddin. Pe­nye­babnya, boleh jadi pada tahun 1938-1941, suasana kea­manan di daerah tidak kondusif. Di Asia Timur Jepang sudah mulai menguasai beberapa ba­hagian dunia. Belanda mulai khawatir terhadap ge­ja­la ini. Disamping itu, gejolak di daerahpun mulai ma­rak. Pihak pejuang pribumi saat itu sedang mening­kat­­kan kegiatan penyerangan sehingga kea­manan di da­lam negeri menjadi tidak kondusif. Akibat se­mua itu, perjalanan menjadi tidak aman pula. Karena itu, Teungku Syech Kamaluddin pun tidak dapat me­la­ku­kan per­jala­nan keluardesanya. Paling kuat beliau pu­lang ke Sawang Ba’u. Itupun sangat jarang. Keadaan yang sangat mence­kam itu menyebabkan Teungku Syech Kamaluddin berfikir un­tuk pindah dari Arun Tung­gai. Beliau memutuskan untuk pindah tempat ting­gal dari Arun tunggai ke Manggeng. Beliau tinggal dikedeeMang­geng. Di Manggengpun tidak lama ha­nya sekitar 3 tahun (1940-1944). Semasih tinggal di Manggeng, Teungku Syech Kamaluddin pergi ke Tangan-Ta­ngan. Akhirnya beliau membeli sebidang ta­nah di desa Beneih krung. Di Tanah tersebut dibangun rumah, yang selanjutnya pada tahun 1944, Teungku Syech Kamaluddin membawa keluarganya pindah pula ke desa Beneih Krueng Tangan-Tangan dan menetap disitu sampai akhir hayat.
Teungku Syech Kamaluddin memiliki dua orang istri yaitu Nyak Puan dari Arun Tunggai Meukek dan Nyak Canden dari Sawang Ba’u. Kedua istri beliau ditem­pat­kan di Tangan-Tangan. Nyak Puan dibuat ru­mah di de­sa Bineh Krueng dan Nyak Canden dibangun pula rumah yang relatif sama di desa Adan Tangan-Tangan.
Setelah tinggal di Tangan-Tangan, kunjungan Abu Ka­ma (begi­tu panggilan masyarakat kepada beliau) ke Bustanul Huda sudah re­la­tif sering. Mungkin dalamse­tahun sudah dikunjungi dua sampai tiga kali.Se­ring­nya kunjungan abu Kama ke Bustanul Huda karena tempat tinggal beliau de­ngan Blangpidie tempat Da­yah Bustanul Huda sudah dekat hanya terpaut sekitar  18 Km.
Belanda sangat menghargai pelajar dan santri. Wa­lau suasana keamanan sangat tidak baik dan khabar Je­pang sudah mulai masuk ke Indonesia, dan se­ra­ngan-serangan terhadaptangsi (bivak) belanda sudah se­ring pula dilakukan. Wa­lau­pun keadaan keamanan rawan, serdadu Belanda tidak mencurigai santri di da­yah Bustanul Huda, walaupun le­tak dayah dengan tang­si hanya bersebrangan jalan saja. Para santri te­tap dihargai dan tidak dicurigai.
Dalam suasana seperti itulah, Abdul Hamid tumbuh dan ber­kem­bang dari teungku aneuk mit menjadi teungku yang disegani, walau umur­­nya masih relatif muda.
7.     Mulai ikut berdakwah
Sebutan dan panggilan terhadap Abd. Hamid kini mulai be­rubah. Jika sewaktu kecil dipanggil  dengan panggilan  Abdul Hamid, dan ke­banyakan kawan-ka­wan  memanggil  Si Hamid atau Si Amik,ma­ka setelah di­antar ke dayah Bus­tanul Huda panggilanpun beru­bah. Baru masuk ke dayah karena umurnya yang re­la­tif muda maka para santri memanggilnya dengan pang­gilan Teungku Aneuk Mit, (pe­la­jar muda) tetapi se­te­lah kemampuannya dalam me­ma­hamikitab dan berbagai pelajaran di dayah melebihi rata-rata, maka panggilan merubah menjadi Teung­ku  saja atau ditam­bah dengan nama Teungku Hamid.
Suatu hari tepatnya hari Kamis di bulan Rajab ta­hun 1943 (kira-kira masih berumur 15 tahun), Teung­ku yang masih muda itu di­panggil oleh Abu Syech Mud. Teungku Abdul Hamid sangat tahu kalau Abu Syech Mud memanggil se­cara khusus pasti ada sesuatu yang disuruh untuk meng­gantikan beliau. Hati Teungku AbdulHamid berdetak kencang, karena firasat beliau me­nyi­ratkan, jika dipanggil hari Ka­mis, hampir dapat dipasti­kanakan disuruh mengganti­kan beliau untukkhutbah pa­da hari Jumat di mesjid jamik Blang­­pidie. Mesjid itu merupakan mesjid terbesar di Blang­pidie saat itu. Masyarakat bukan datang dari desa seki­tarnya saja untuk shalat Jumat, tetapi juga dari daerah-daerah lain yang jauh mi­salnya dari Guhang, Cot Manee, Ikue lhueng, Ujong Pa­dang dan berbagai daerah lainnya.
Teungku Abdul Hamid sangat gemetar menemui Abu yang telah me­­nunggu dilangkan mesjid.Ia telah beberapa kali dipanggil, tapi pa­da pang­gilan terdahulu tubuhnya tidak segemetar sekarang. Pang­gi­lan kali ini seperti ia akan me­nerima beban yang sangat berat. Tetapi kerasnya degupan jantung tidak menyurutkan ia memenuhi pang­gilan Abu Syech Mud yang telah menunggu dilangkanMesjid Jamik. Benar saja, se­te­lah ia menjumpai abu, beliau menyuruh Tgk. Abdul Hamid untuk menggantikan beliau untuk berkhutbah di mesjid pada Jumat besok. “Teungku, singoh neu­gan­to lon beuit khutbah di mesjid” (teungku, besok gantikan saya untuk berkhutbah di masjid), kata Abu singkat. Keadaan Teungku Abdul Hamid menerima pe­rin­tah Abu itu tubuhnya gemetar, keringat su­dah mu­lai keluar mem­basahi tubuhnya dan lidahnya tera­sa kelu untuk memban­tah perintah guree. Tapi ke­mu­dian Abu sepertinya maklum dengan keadaan murid mudanya itu, karena itu  Abu Syech Mud melan­jut­kan, “beuit khutbahnyan hana susah, asai rukon jih peunoh khutbah ka sah, Teungku hana peu ta­kot” kata Abu. Peutuwah abu ini memberi semangat yang amat besar baginya sehingga ketakutan dan merasa dipi­kulkan beban berat berubah menjadi ringan saja dan tidak membe­rat­kan.
Secara psikologis penyebab takut dan gusarnya Teung­ku Abdul Hamid menerima perintah untuk ber­khut­bah itu adadua. Pertama, abu secara khusus mem­beri tugas kepada nya yang umurnya masih sa­ngat muda, pada hal masih ba­nyak tuengku-teungku se­nior lain yang lebih dewasa da­rinya, tetapi abu me­nyuruh dia untuk meng­gan­ti­kan be­liau. Kedua, mesjid jamik itu merupakan mesjid besar yang dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat, dan disitu ba­nyak pula yang alim dan pandai-pandai termasuk juga pe­mim­pin negeri. Ketiga, ia belum pernah berdiri untuk cera­mah didepan umum, apalagi dihari Jumat yang sangat sac­ral karena ibadah. Tapi kekhawatiran dan ketakutan itu karena kepercayaan abu terhadap kemampuannyasuatu kebanggaan yang sangat besar. Disamping itu, bahwa Abu untuk pertama kali secara langsung  me­manggil dia de­ngan sebutan “teungku”. Berarti dima­ta abu dirinya sudah disetarakan dengan teungku-teung­ku senior lainya. Karena itu, ia bertekad tugas yang dibebankan oleh Abu ini akan dilaksanakan de­ngan sebaik-baiknya.
Tetapi tetap saja, sepulang dari menemui abu, ia nam­pak ge­li­sah. Ia memikirkan bagaimana ia me­nyam­­pai­kan khutbah pada Jumat besok, sedangkan ia belum per­nah menyampaikan materi, ceramah atau sejenis­nya didepan umum yang ramai seperti jamaah Jumat. Memang muza­karah dan belajar pidato sering diikutinya setiap ma­lam Jumat di dayah, tetapi ber­khutbah di mesjid jamik yang meru­pa­kan mesjid ter­besar di Blangpidie merupakan be­ban berat dan suatu halbeban yang amat besar pula. Ke­gu­saran itu ber­ke­ca­muk dalam da­da­nya sepanjang hari. Baru pada sore ha­ri ia berupaya untuk mem­per­si­apkan materi yang akan disampaikan besok.
Sambil menyiapkan bahan dan materi khutbah un­tuk be­sok,ha­tinya tetap masih bertanya-tanya, ke­ma­na abu besok pergi sehing­ga beliau tidak dapat mem­be­ri khutbah. Karena merasa segan, takut dan ter­ke­jut bercampur baur saat menerima perintah abu itu, se­hing­ga lidahnya kelu untuk bertanya seperti itu. Ia mulai sore dan ma­lam­nya menyiapkan bahan khutbah yang harus dibahani ingatan­nya, ka­re­na ia melihat abu dalam memberi khutbah tidak pernah menyiap­kan konsep. Iapun harus dapat melakukan yang sama, tidak menulis dikertas tetapi cukup dihafal dalam ingatan saja. Setelah bahan ter­kum­pul, ia me­ne­tapkan bahwa khutbahnya besok mengambil tema tentang keutamaan bulan Rajab.
Saat itupun tiba. Memasuki waktu jumat ia ber­ge­gas datang ke mesjid. Ia melihat  mesjid penuh sesak dengan ja­maah. Tapi aneh­nya, jan­tung­nya tidak lagi berdegub kencang. Detak jantungnya sudah biasa-bi­asa saja wa­laupun jamaah di mesjid sudah penuh sesak. “Alham­dulillah, Allah telah memberi kekuatan se­hingga ketakutan yang tadinya saya alami kini sir­na,...”, gumamnya dalam hati. Ia ber­ja­lan menuju shaf pertama dan dekat dengan mimbar. Saat melihat ja­maah disekelilingnya ia terkejut alangkepalang bahwa Abu Syech Mud berada disitu. Beliau tidak ketempat lain. Teungku Abdul Hamid segera berfikir bahwa ini sa­lah satu ujian yang diberikan kepadanya oleh Abu. Dan ia bertekad akan melak­sanakan ujian itu dengan baik sebagai­ma­na ujian-ujian pelajaran lain yang telah diikutinya di drah beut. Se­mo­ga saja ujian ini dapat dilak­sanakan dengan baik dan lulus.
Setelah hari itu, teungku dan khatib muda ini terus diajak oleh abu untuk berdakwah. Disamping ber­dak­wah ke berbagaikampung, juga sering menggantikan Abu untuk memberi khutbah di mesjid Jamik.
Walaupun kesibukannya telah bertambah dengan khut­bah atau berdakwah, tugas pokok sebagai orang menuntut ileume tetap di­jalankan. Beuit dan seu­meu­beuit tetap dijalankannya dengan serius. Dan tahun-tahun kedepan makin lebih banyak mengajar pada drah ka­re­na jadwal ia belajar pada abu hanya sekali dalam satu hari. Sele­bih­nya digunakan untuk menga­jar dan bermuhadharah dengan teungku-teungku lain mem­­ba­has berbagai macam kitab untuk mendalami mak­nanya. Jika ada masalah yang tidak dapat di­pecahkan dibawa ke­pa­da abu saat pengajian drah ting­gi.
Satu kebiasaan dinilai sangat baik yang dilakukan Teung­ku Abdul Hamid yaitu ia sangat suka membaca. Saat didayah Bustanul Huda kebiasaan membaca berbagai jenis kitab dilakukannya secara rutin. Pada saat ia masih me­ngaji kitab Mahalli misalnya, yang me­ru­pa­kan kitab pem­ba­hasan awal pada drah tinggi, ia telah membahas ber­bagai jenis kitab lainnya. Telah membahas berbagai kitab hadist, kitab-kitab tashauf dan yang paling suka didala­minya adalah kitab ushul fiqih seperti kitab Al Um yang me­ru­pakan kitab dasar dari Maz­hab Syafiie.
Keluasan pengetahuan yang dimiliki oleh Teungku Abdul Hamid itu menarik perhatian Abu Syech Mud. Untuk memperdalam pe­nge­ta­huan  santri yang me­ngam­bil drah tinggi, abu sering  menga­ju­kan masalah yang minta didis­ku­sikan oleh para santri. Abu Syech Mud selalu min­ta Teungku Abdul Hamid untuk me­ngeluarkan penda­pat­nya terlebih dahulu.Biasanya Teungku Abdul Hamid untuk men­du­kung penda­pat­nya mengeluarkan pula pendapat dari berbagai ulama lainnya yang ditulis dalam kitabnya, didukung pula de­ngan firman Allah dan hadist rasul yang berhubungan dengan soal yang diajukan abu. Di sinilah letak ke­le­bihan Teungku Abdul Hamid dibandingkan de­ngan Teungku-Teungku lain pada drah yang sama. Luasnya referensi yang dikemukakan dalam meme­cah­kan ma­sa­lah yang disampaikan Teungku Abdul Hamid me­nye­bab­kan santri lain tidak mampu membantah­kannya.
Kesukaan membaca itu bukan hanya di waktu ma­sih belajar di ­dayah, tetapi juga setelah membuka da­yah sendiri. Malah pada saat itu bukan hanya kitab saja yang didalaminya, tetapi juga berbagai jenis buku, majallah dan surat kabar. Walaupun majallah dan su­rat kabar sudah tergolong terlambat karena diter­bit­kan di Jakarta dan lama dalam pe­ngiriman, tetapi te­tap dibaca dan ditelaahnya. Beliau sering menga­ta­kan: “dalam mendapatkan penge­ta­huan tidak ada yang ter­lambat”. “Majalah dan surat kabar ini walau­pun sudah lama terbit, karena baru sampai bagi kita te­tap masih merupakan informasi baru, jangan di­bu­ang sebelum dibaca”, kata beliau dalam berbagai perbin­cangan.
Karena kemampuan memahami ilmu dan nahu sha­raf relatif tinggi menyebabkan kemampuannya untuk mem­baca berbagai kitab dan mengambil maknanya juga sangat tinggi.Karena itu Teungku Abdul Hamid nam­pak lebih menonjol dibandingkan dengan santri-santri lainnya.

8.     Tambahan lakab nama
Suatu ketika ke dayah Bustanul Huda datang santri pindahan da­ri dayah lain yang namanya sama yaitu Abdul Hamid juga. Kini di­dayah Bustanul Huda me­mi­liki dua san­tri yang bernama sama. Untuk me­mu­dahkan dalam panggilan, mulai ada santri-santri yang memberi lakab nama khusus untuk membedakan an­tara ke dua santri yang bernama sama itu. Lakab yang diberikan sesuai apa yang dilihat. Ka­re­na kedua santri bernama Abdul Hamid itu memiliki perbedaan yang sangat nyata. Abdul Hamid pertama, warna kulitnya putih dan yang satu lagi agak lebih gelap. Maka untuk membedakan panggilan antara ke dua Teungku Abdul Hamid itu, para santri mulai membe­da­kannya de­ngan sebutan lakab kulit. Untuk yang pertama disebut se­ba­­gai Teungku Abdul Hamid Puteeh dan yang sa­tu lagi Teungku Abdul Hamid Hitam. Di samping panggilan pa­da warna kulit, ada pula pang­gil­an berdasarkan da­erah asal. Teungku Abdul Hamid pertama juga di­se­but Teungku Hamid Meukek, sedangkan yang satu lagi disebut Teungku Hamid Aceh.
Panggilan itu mulai beredar dari mulut ke mulut di­antara santri. Tentu saja, panggilan lakab nama khu­sus itu tidak disukai oleh kedua Teungku Abdul Hamid  itu. Me­la­rang orang menyebut seperti itu tidak mung­kin, mem­bi­ar­kan saja tentu panggilan yang tidak di­su­kai akan me­lekat dan berkembang luas. Dan, lakab panggilan harus di­hi­lang­kan sehingga tidak menjadi me­lekat dan susah untuk diganti.
Untuk mengatasi hal itu, Teungku Abdul Hamid Pu­teeh atau Teungku Abdul Hamid Meukek mengganti la­kab panggilan itu menjadi Teungku Abdul Hamid Kamal.Tam­bahan panggilan di ujung nama itu me­ru­pa­kan peng­galan dari nama abu beliau yaitu Kama­lud­dinsehing­ga dila­kab­kan saja menjadi KAMAL. Sejak saat itu lakab Teungku Hamid Puteeh atau Teungku Hamid Meukek berganti panggilan menjadi Teungku Abdul Hamid Kamal.Anehnya, perbedaan lakab telah berubah, tetapi panggilan kepada Teungku Hamid Aceh tetap terjadi sampai berakhir beliau belajar didayah Bustanul Huda.



                                          Abuya Memberi Kuliyah di Dayah Raudhatul Ulum


                                Abuya saat berceramah dakwatul Islam di berbagai daerah

(Suplemen)
                                  Menegah yang Keliru
Suatu hari saat Abdul Hamid kecil baru diantar untuk be­lajar di Bustanul Huda, ia masih da­lam tahap pe­nyesuaian di­ri. Ia nampaknya belum fokus untuk be­lajar dan masih  su­ka ber­kenalan dan suka ber­tan­dang ke balai-balai drah dan juga ke rangkang-rang­kang (asrama santri sering di­sebut dengan rangkang).Tujuannya untuk menghi­lang­kan  keasing­an suasana yang sebelumnya tidak pernah dialami oleh Abdul Hamid semasa hidup di kam­pung. Anak yang masih tergolong kecil diantar untuk “meudagang” (istilah se­ring digunakan untuk nyantri dan jauh dari ayah bun­da) ten­tu saja menyebabkan hati menjadi tidak te­nang dan gundah. Untuk menghilangkan kegundahan itu­lah ia sering bertandang ke balai drah un­tuk me­nyi­mak santri yang se­dang belajar atau juga bertandang ke rangkang-rangkang santri.
   Suatu waktu ia melewati rangkang Teungku Rahman se­orang santri yang telah duluan be­la­jar di situ dan se­dang membaca Al-Quran. Ia mendengar bacaan taj­wid­nya ba­nyak yang  ku­rang sesuai, sehingga meng­ha­rus­kannya sing­gah dan naik ke rangkang tersebut. Sa­at itu, ia tanpa sung­kan membetulkan bacaan yang sedang dibacakan oleh santri yang lebih senior itu. Bu­kan hanya mem­be­tulkan bacaan saja, tetapi juga me­nga­jarkan tajwidnya dan me­nerangkan cara bacanya. Setelah hari itu, Teungku Rah­man yang dinilai lebih se­nior sering me­nenteng Al-Quran untuk datang ke bilik Abdul Hamid untuk belajar tajwid dan cara ba­caan yang lebih betul.
   Bacaan al-quran santri muda itu, makhrojnya me­mang ter­golong sangat baik. Bacaan hu­rufnya jelas de­ngan makh­raj yang bagus, tajwidnya  juga tergolong ba­ik de­ngan irama bacaanpun sangat menawan. Se­sungguhnya baiknya bacaan Abdul Hamid itu karena ia belajar pada abunya sendiri yaitu Abu Kama­luddin yang tergolong qari dalam bacaan kitab suci al-quran. Abu Kama faham ter­hadap tajwid secara detil serta qiraat bacaannya yang lazim dan mu’tabarah. Abdul Hamid sejak ke­cil sudah di­ajarkan tentang tajwid oleh abunya, karena itulah ia menjadi faham tentang kae­dah bacaan Al-Quran dan seluk beluknya.
   Sejak saat itu, Abdul Hamid “si Teungku Aneuk Mit” itu sudah bertindak sebagai pengajar tajwid dan qi­raah baca­an al-quran. Banyak santri senior bertanya tentang itu, dan Abdul Hamid menjelaskan secara detil dan sis­tematis ten­tang qiraah dan tajwid baca­an­nya. Ka­re­na itu tidaklah meng­herankan jika sejak awal ”teungku aneuk mit” itu telah mengajarkan san­tri lain bahkan yang lebih senior.
   Itulah kelebihan sistem pendidikan di dayah, jika ada san­tri yang punya kemam­puan dan kelebihan tertentu ma­ka santri lain tidak sungkan untuk bertanya bahkan be­lajar……… itulah kaedah belajar yang benar.. (**)



















Komentar

Postingan populer dari blog ini