BAHAGIAN KE EMPAT
Silman Haridhy
BIOGRAFI
ABUYA SYECH HAJI ABDUL HAMID KAMAL
“Seorang
Ulama Bersifat Diplomat”
c
Unit PerpustakaanYayasan AHKAM
DAYAH RAUDHATUL ULUM
I.
RANGKAIAN
KELUARGA
1. Tgk. Syech Kamaluddin.
Tgk. Syech
Kamaluddin dalam keseharian lebih dikenal dengan panggilan Tgk. Syech Kama atau Abu Kama merupakan ulama sufi yang
dihormati oleh masyarakat sekitarnya. Tgk. Syech Kama sangat faham terhadap
ilmu tasauf, ilmu falaqi dan fiqih serta
qiraatil quran. Walaupun beliau tidak membangun pesantren atau dayah,
tetapi saban hari beliau mendidik orang dirumahnya. Karena beliau ini sering
pulang ke kampungnya di Sawang Ba’uAceh Selatan, yang memakan waktu
sampai beberapa hari, karena saat itu
jalan belum ada dan keadaan transportasi sangat sulit (orang banyak yang jalan
kaki atau naik sepeda bahkan arus transportasi lebih banyak dilakukan
melaluilaut), makanya sistem pendidikan yang dikembangkan beliau itu tidak
berjalan mulus.
Tgk Syech Kamaluddin lahir tahun 1894 dan besar di Sawang
Ba’u Aceh Selatan. Walaupun demikian, jika ditilik dari garis keturunan,
beliau berasal dari Lam Asan, Kuta Baro Aceh Besar. Nenek beliau Syech Abdul
Karim tinggal didaerah itu, tetapi ayah beliau Tgk. Ahmad bin Tgk Syech Abdul
Karim selanjutnya berhijrah ke pantai barat dan selatan Aceh dan kemudian
berkeluarga dan menetap di Sawang Ba’u.
Kamaluddin
muda belajar ilmu agama mulai dari sekitar kampungnya, dan setelah dewasa
beliau berangkat ke Aceh untuk belajar pada beberapa ulama ternama saat
itu terutama Tgk di poh blang, Tgk Abd Wahab, dan terakhir belajar pada Abuya
Tgk. Syech HajiHasan KruengKalee. Pada tahun 1925 beliau pulang ke
kampungnya dan berkeluarga di Arun Tunggai Meukek. Negeri Arun Tunggai merupakan
desa terletak di tepi pantai Meukek. Bisa dipahami, daerah pantai saat itu
lebih maju dari daerah pedalaman karena transportasi dilakukan yang paling
mudah hanya dengan perahu atau tongkang.
Tgk Syech
Kamaluddin meninggal dunia pada tahun 1983 dalam usia 89 tahun di desa Adan Tangan-Tangan dan dikebumikan di desa yang
sama.
Abu Tgk. Syech Kamaluddin
2.
Haji
Muhammad Yusuf
HajiMuhammad
Yusuf lahir di Arun Tungai (1873?), adalah tokoh masyarakat di desa Arun
Tunggai dan merupakan seorang pedagang. Beliau ini sebagai pedagang
rempah-rempah dan kopra yang selanjutnya dengan menggunakan tongkang dibawa
ke Sibolga atau Teluk Bayur Sumatera Barat. Alur perdagangan ekonomi saat
itu lebih banyak ke pesisir pantai
barat Sumatera. Bagi pedagang di pantai barat Aceh cenderung memasarkan produksinya
ke Sibolga atau Teluk Bayur. Jarang pemasaran hasil bumi dilakukan ke Aceh
(Banda Aceh atau Uleelheu) atau darah lain di Aceh.
Haji Muhammad
Yusuf merupakan mertua dari Tgk Syech Kamaluddin, karena anak perempuan Haji Muhammad
Yusuf bernama Nyak Puan dijadikan istri oleh Tgk Kamaluddin.
3.
Nyak
Puan
Nyak Puan
lahir di Arun Tunggai Meukek 1914 merupakan putri Haji Muhammad Yusuf. Nyak
Puan kecil belajar agama di desanya sampai akhirnya dinikahkan dengan Tgk.
Syech Kamaluddin pada tahun 1927. Nyak Puan tidak menempuh pendidikan
secara formal karena pendidikan formal saat itu tidak ada sehingga Nyak
Puan tidak mampu membaca tulisan latin. Walaupun begitu, pendidikan non formal
yang dikelola oleh teungku di desa diikutinya, sehingga berbagai tulisan
arab dan arab jawi tidak hanya mampu membaca tetapi juga mampu menulis degan
chat yang rapi.
Pada umur
14 tahun (1927) Nyak Puan dinikahkan dengan Teungku Syech Kamaluddin dan
setahun kemudian (1928)lahir putra pertama yang diberi nama Abdul Hamid. Nyak
Puan memiliki 6 orang anak yang terdiri Abdul
Hamid, Abdul Madjid, Siti Rahmah, Nur Asiah, Mardhiah dan Zubaidah.
Nyak Puan
meninggal dunia pada tahun 1978 di Tangan-Tangan Aceh Barat Daya dalam usia 64
tahun dan dimakamkan di desa Adan Tangan-Tangan.
4.
Teungku
Syech T. Mahmud Bin T. Ahmad
Teungku
Syech T. Mahmud seorang ulama sufi yang sangat saleh. Beliau setelah
ditugaskan oleh kerajaan Aceh menjadi teungku di Blangpidie pada tahun
1927, selanjutnya setahun kemudian (1928)membangun Dayah Bustanul Huda.
Dayah Bustanul Huda merupakan satu-satunya Dayah terbesar di wilayah itu
yang santrinya berdatangan dari berbagai pelosok daerah dan banyak menghasilkan
ulama masyhur di Aceh maupun luar Aceh.
Teungku
Syech Teuku Mahmud bin T. Ahmad lahir di Lampuuk Lhoknga Aceh Besar pada
tahun 1899. Teungku Syech T. Mahmud merupakan keluarga ulee balang di kampungnya
Lampuuk.Wilayah sago Lampuuk merupakan daerah dekat pantai di wilayah
Lhoknga. Setelah menyelesaikan sekolah rendah tiga tahun di Lhoknga tahun
1907,kemudian oleh kolonial karena beliausebagai anak ulee balang dan dinilai
cerdas diberi fasilitas untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan.
Walaupun beliau dimasukkan juga ke sekolah lanjutan tersebut di Lhoknga, tetapi
beliau hanya belajar beberapa tahun saja. Tahun 1914 ia menyelesaikan
pendidikannya di sekolah lajutan tiga tahun itu. Beliau diminta untuk
melanjutkan pula sekolahnya ke sekolah lain, tetapi karena tidak betah dengan
sistem pendidikan kolonial tersebut beliau keluar. Beliau kemudian melanjutkan
ke pendidikan agama ke beberapa Dayah. Walaupun tindakan beliau ini
tidak disetujui oleh kolonial yang memberi beasiswa untuk belajar, beliau
tidak memperdulikannya.
Dalam
melajutkan pendidikan agama, pertama ia belajar dasar-dasar agama Islam dan
al-quran di desanya Lampuuk Lhoknga, kemudian melanjutkan ke Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee pada
tahun 1915. Dayah Darul Ihsan yang merupakan dayah yang dibangun oleh Abu
Hasan Krueng Kalee dan sangat masyhur saat itu. Santrinya bukan saja dari berbagai
pelosok Aceh, tetapi juga berbagai daerah lain bahkan dari luar negeri.
Sesungguhnya,
Teungku Syech T. Mahmud sudah cukup alim saat selesai belajar di Dayah Darul
Ihsan pada tahun 1920, tetapi karena keinginan belajar masih kuat beliau
melanjut pendidikannya ke negeri Yan di semananjung Malaysia sejak tahun 1921
sampai 1925. Selama lima tahun beliau berada di negeri Yan itu, beliau lebih
banyak bertindak sebagai guru dibandingkan sebagai santri. Walaupun
demikian, banyak pula pengetahuan yang diperolehnya di negeri itu.
Melanjutkan
pendidikan ke negeri Yan tersebut sebenarnya merupakan pelarian dari
penugasan kolonial untuk melanjutkan pendidikan ke Nederland atau ke Batavia
(Betawi). Anak-anak ulee balang saat itu yang dinilai memiliki kecerdasan
perlu diberikan fasilitas untukmelanjutkan pendidikan.Mungkin tujuan kolonial
setelah tugas belajar selesai, dapat dijadikan kaki tangan atau pegawai
mereka nantinya di Aceh. Jika kerani atau pemimpin dijadikan orang-orang
Aceh sendiri mungkin sajapergolakan yang terjadi setiap saat di Aceh dapat
dihentikan atau sekurang-kurangnya dapat reda. Mungkin strategi ini yang
akan digunakan oleh Belanda. Karena itu pada tahun 1915/1916, diberi
fasiltas kepada anak-anak ulee balang yang berbakat untuk melanjutkan pendidikan.
Banyak anak-anak ulee balang saat itu yang diberikan bea siswa untuk belajar
ke Batavia (Betawi) atau ke Nederland. Tapi beda dengan Teuku Syech T.Mahmud.
Beliau tidak menyukai tawaran tersebut, dan beliaupun tidak ingin untuk melanjutkan
pendidikan ke tempat lain apalagi ke Nederland.
Tapi,
karena beliau telah terdata dan didaftarkan untuk ikut pendidikan, maka beliau
diperintahkan juga bersiap-siap untuk berangkat bersama dengan rombangan
anak-anak ulee balang lainnya yang sudah siap berangkat. Pada akhir tahun 1915,
Tgk. Syech T. Mahmud yang baru pulang dari Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee,
terpaksa ikut juga dalam rombongan itu. Rombangan berangkat dengan menumpang
kapal Belanda dari Ule Lheu tujuan Betawi dan Nederland. Kapal tersebut dalam
perjalanannya singgah di Pulau Penang Malaysia. Saat kapal singgah itu, Tgk.
Syech T. Mahmud turun dari kapal meninggalkan rombongan dan menyeberang ke daratan
Malaysia, selanjutnya menetap di Lembaga Pendidikan Agama Islam (mungkin sejenis
perguruan tinggi) yang saat itu tergolong besar di negeri Yan dan semenanjung
Malaysia. Walaupun nama lembaga pendidikan tersebut sangat terkenal,
tetapi keadaan lembaga pendidikan itu struktur dan keadaannya semacam lembaga
pendidikan dayah di Aceh. Lembaga pendidikan itu juga yang merupakan sejenis
dayah salafiah dan tergolong sangat besar saat itu. Muridnya disamping
dari Malaysia juga banyak pula dari Sumatera, Aceh, Jawa, Sulawesi dan negeri
Pattani di Thailan.
Setiba
kembali di Aceh pada tahun 1926 langsung
pulang ke Lampuuk. Tapi kepulangan beliau diketahui oleh kontroler di Lhoknga
dan seterusnya informasi kepulangan beliau oleh kontroler Lhoknga disampaikanke
pemimpin Belanda di Banda Aceh (Kutaraja). Bersamaan dengan itu, di
Blangpidie terjadi pula penyerangan tangsi (bivak) Belanda oleh Teungku Peukan.
Serangan itu menimbulkan korban jiwa. Korban jiwa dari pihak mujahidin
(pejuang) berdasarkan fatwa Teungku Muhammad Yunus yang lebih dikenal dengan
Teungku Di Lhoong (saat itu teungku yang ditugaskan di Blangpidie) tidak perlu
dimandikan, dikafankan dan dishalatkan, tetapi langsung dikebumikan
karena dianggap syahid. Jasad para syuhada tersebut dikebumikan disekitar
mesjid jamik Blangpidie. Tindakan Teungku Di Lhoong tersebut menimbulkan
kemarahan Belanda karena secara tidak langsung teungku Di Lhoong telah memihak
pejuang yang oleh Belanda dianggap ekstrimis. Karena itu, pihak Belanda mengusulkan
agar Teuku Di Lhoong segera diganti dengan teungku yang lain. Belanda
memanggil T. Sabi Ulee Balang Blangpidie waktu itu untuk meminta agar Tgk Di
Lhoong segera diganti. T. Sabi bermusyawarah dengan berbagai pihak menyepakati
untuk menganti Teungku yang mengajari agama di wilayah Blangpidie dan sekitarnya.
Usulan penggantian itu akan dilakukan bersama yaitu pihak Controluer
menyampaikan permintaannya ke Kutaraja,
dan ulee balang akan mengusulkan permintaan
penggantian tersebut ke Kutaraja pula. Karena itu, pihak Belanda bermusyawarah
dengan pihak pemerintahan sipil Aceh (mungkin yang mewakili kerajaan) menunjuk
Tgk. Syech T. Mahmud bin T. Ahmad dari Lampuuk untuk menggantikan teungku
di wilayah Blangpidie terdahulu. Pada tahun 1927, Tgk. Syech T. Mahmud sudah
berada di Blangpidie dan pada tahun 1928 membangunan Dayah Bustanul Huda.
Sebagaimana
diuraikan bahwa Teungku yang mengajari agama di Blangpidie telah ada saat
itu yaitu Teungku Muhammad Yunus atau Teungku Di Lhoong seorang ulama alim dan
zuhud. Sebelum datang Teungku di Lhoong ke Blangpidie, daerah ini belum memiliki
seorangpunteungku yang alim dan yang sangat memahami agama. Di wilayah ulee
balang T. Ben Mahmud yaitu wilayah Kuta Batee dan sekitarnya saat itu, yang ada
teungku-teungku yang mengajar anak-anak mengaji al-quran dan hanya mampu mengajar
kitab-kitab rendah, misalnya, kitab yang bertuliskan arab jawo. Disamping
itu, di wilayah Kuta Batee dan sekitarnya saat itu banyak tumbuh perkumpulan
silek, tob dabouh, dan beberapa kelompok kesenian tradisional aceh. Karena
tidak ada teungku yang alim yang dapat mengajarkan secara mendalam masalah
agama, maka oleh ulee balang meminta ke pusat pemerintahan di Kutaraja
untuk mendatangkan teungku yang alim ke wilayah Blangpidie. Untuk memenuhi
kebutuhan itu, pada tahun 1921 didatangkanlah Teungku Di Lhoong, seorang
lulusan dayah di Aceh Besar yang sudah dinilai alim.
Teungku Di
Lhoong setelah datang ke Blangpidie bertempat tinggal di gampong Lam Siejiem
(sekarang Geulumpang Payong) dan bersama masyarakat mendirikan mushalla
sebagai tempat melaksanakan shalat berjamaah dan juga Balai Pengajian. Sebelum
itu di wilayah Kuta Batee dan sekitarnya tidak dijumpai tempat-tempat
mengajian yang seperti itu. Yang ada hanya rumah-rumah tempat diajarkan
anak-anak membaca al-quran, dan jika teungku punya kemampuan yang lebih,
misalnya pernah belajar ke kampong lain yang ada teungku lebih alim seperti ke
Peulumat, maka dilanjutkan dengan belajar kitab-kitab tulisan arab jawo berupa
kitabPerukunan atau kitab masailal muhtadi dan yang sejenisnya. Karena ulee
balang melihat bahwa masyarakat harus mendapat ilmu agama yang baik dan
bahwa sistem belajar agama seperti itu tidak memadai, maka perlu meminta ke
Kutaraja untuk didatangkan guru yang dapat mengajar agama yang lebih mendalam
dan lebih luas. Teuku Sabi sebagai ulee balang saat itu sangat
mengkhawatirkan bahwa jika Belanda telah bermarkas di daerahnya, maka masyarakat
harus segera di ajari ilmu agama yang baik. Kalau tidak, beliau mengkhawatirkan
bahwa adat kafir dan cara hidup kafir, akan segera diikuti bahkan agama kafir
juga akan dianut. Kekhawatiran inilah yang menyebabkan Teungku Di Lhoong
didatangkan ke wilayah Blangpidie.
Karena
Teungku Di Lhoong bertempat tinggal di Lam Siejiem, maka beliau jarang ke pusat
kota di Blangpidie. Beliau ke Blangpidie hanya pada hari Jumat untuk melaksanakan
shalat Jumat dan sekaligus menjadi khatib. Di masjid jamik hanya dilaksanakan
shalat rawatib saja selebihnya tdak ada kegiatan.
Dipilihnya
tempat tinggal Teungku Di lhoong digampong Lam Siejiem setelah sampai ke
Blangpidie, karena beliau tidak suka
bertempat tinggal berdekatan dengan bivak Belanda (masjid jamik terletak di
pusat kota dan sangat berdekatan dengan bivak tempat tinggal marsose Belanda).
Ketidaksukaan beliau terhadap Belanda sehingga tawaran untuk dibangun rumah
oleh masyarakat di dekat masjid ditolaknya, sehingga beliau lebih suka memilih
tinggal agak jauh dari pusat kota.
Sebelum
Teungku Di Lhoong ditugaskan ke Blangpidie, di daerah itu tidak dijumpai
seorang teungkupun yang tergolong alim dan dapat dijadikan ikutan dan panutan
oleh masyarakat.
Setelah
Teungku Di Lhoong diberhentikan dan diganti dengan Teungku Syech T. Mahmud,
beliau memilih tempat tinggal berdekatan dengan masjid walaupun dekat
dengan bivak marsose Belanda. Oleh masyarakat dibangun rumah sekitar seratus meter dari masjid, dengan demikian
aktifitas beliau dilakukan di masjid dan membangun pesantren Dayah Bustanul
Hudapun disekitar masjid.
Dayah
Bustanul Huda merupakan satu-satunya dayah yang sistem pengajarannya telah
tertata dengan baik di pantai barat-selatan aceh. Teungku-teungku terdahulu
misalnya, yang ada di Peulumat atau di beberapa tempat lain hanya mengajar di
rumah atau di balai pengajian yang dibuat seperti meunasah. Akan tetapi setelah
datangnya Abuya Syech T, Mahmud ke Blangpidie, untuk memenuhi kebutuhan belajar
masyarakat dibangunlah pesantren yang diberi nama Bustanul Huda. Pesantren
ini mengkombinasikan pola pendidikan yang berkembang di Aceh, misalnya, pola
pendidikan di Darul Ihsan Kreung Kalee atau di beberapa tempat lain dengan
pola pendidikan yang dilakukan di negeri Yan Malaysia. Karena itu, sistem
pendidikan yang dikembangkan Tgk Syech T. Mahmud sangat disukai dan sangat
banyak murid-murid yang ikut belajar. Anak-anak umur sekolah di wilayah Blangpidie
hampir seluruhnya ikut menjadi santri di Bustanul Huda, demikian juga
santri-santri dari berbagai daerah lain di pantai barat-sekatanaceh. Semula
karena pola pendidikan agama yang dikembangkan abuyaSyech Mud (begitu beliau
sering disapa) sangat disukai saat itu dan karena transportasi yang amat sulit,
maka santri sebahagian besar hanya berasal dari daerah-daerah pantai barat
selatan aceh. Banyak santri berasal dari Aceh Selatan dan Aceh Barat. Tetapi
kemudian setelah transportasi lancar, maka berdatanganlah santri dari berbagai
pelosok daerah. Pada tahun lima puluhan dan enampuluhan santri dari luar daerah
sangat banyak belajar di Bustanul Huda. Ada yang berasal dari Sumatera Barat,
Sumatera Utara, Sumatra Selatan dan beberapa daerah lain. Dari Aceh hampir
seluruh daerah ada santri yang belajar. Begitulah saat itu, sehingga
sesungguhnya Abuya Syech Mud sangat besar jasanya dalam mengembangkan pola
pendidikan di pantai barat dan selatan aceh.
Teungku
Syech T. Mahmud bin T. Ahmad memperisterikan
Cut Nyak Maryam anak Ulee Balang Lamlhom Lhoknga pada tahun 1928. Karena Cut
Nyak Maryam saat itu masih kecil (sekitar 12 tahun), maka mereka tidak tinggal
bersama. Tgl. Syech T. Mahmud, berangkat ke Blangpidie sedangkan istri beliau
tetap tinggal di Lam Lhom Lhoknga. Pasangan ini memiliki tiga orang anak
yaitu, seorang anak laki-laki lahir 1933, kemudian meninggal dunia beberapa hari
setelah dilahirkan. Selanjutnya lahir pula anak perempuan Cut Ridhwan
Mahmud pada tahun 1935, dan Cut Asmanidar pada tahun 1941. Tgk. Syech T.
Mahmud adalah mertua dari Tgk Syech H. Abdul Hamid Kamal karena memperistrikan
Cut Ridhwan putri tertua Tgk. Syech T. Mahmud.
Tgk. Syech
T. Mahmud wafat di Blangpidie pada 1 Ramadhan
1385 H atau tahun 1966 M dan dikebumikan di depan rumah beliau di
Blangpidie dibawah qubah yang dibuat masyarakat untuk beliau.
5.
Cut
Nyak Maryam binti T. Cut Mamad
Cut Nyak Maryam adalah anak ulee
balang Lam Seukee Lamlhom Lhoknga. Ia lahir pada tahun 1918 di Lamlhom. Sejak kecil ia tidak mengecap
pendidikan formal, tetapi walaupun demikian ia dapat membaca dan menulis
tulisan arab jawi dengan chad yang baik. Pendidikan Cut Nyak Maryam
ditempuhnya melalui pendidikan teungku gampongdi desa Lamlhom. Saat itu anak
perempuan hanya belajar kitab agama dan tulisan arab jawi saja dan sangat
jarang yang menempuh pendidikan formal.
Pada usia 13 tahun diperisterikan oleh
Tgk Syech T. Mahmud yang saat itu telah tinggal di Blangpidie. Cut Nyak Maryam
tidak langsung pindah ke Blangpidie tetapi tetap tinggal di Lhamlhom sampai
tahun 1937. Selanjutnya tinggal di Blangpidie sampai tahun 1986. Kemudian beliau
kembali menetap di Lamlhom dan meninggal serta dikebumikan di Meunasah
Manyang Lamlhom Lhoknga Aceh Besar pada tahun 2006.
Tgk.
Cut Nyak Maryam
6. Umi Cut Ridhwan Mahmud
Umi Cut Ridhwan Mahmud anak tertua
dari Tgk. Syech. T. Mahmud. Ia lahir di Lamlhom Kecamatan Lhoknga Aceh Besar
pada 4 Juni 1935. Semasa kecil sampai umur dua tahun ia tinggal bersama Cut
Nyak Maryam di Lamlhom, sedangkan abunya tgk. Syech. T. Mahmud tinggal di
Blangpidie. Pada tahun 1937 baru ia berangkat bersama Nyak nya untuk tinggal
bersama Abu syech Mud di Blangpidie.
Abu
memiliki dua orang anak perempuan yaitu yang tertua bernama Cut Ridhwan dan
adiknya bernama Cut Asmanidar.Sebenarnya anak abu Syech Mud ada tiga orang.
Yang tertua adalah laki-laki yanglahir pada tahun 1933 di Lamlhom Lhoknga Aceh
Besar, tetapi meninggal dunia beberapa
hari setelah dilahirkan.Baru pada tahun 1935 lahir putri pertama beliau di
Lamlhom Lhoknga. Setelah anak tersebut kuat dan berumur sekitar 2 tahun,
dengan menumpang kapal laut Abu Syech Mud membawa keluarga beliau Cut Maryam untuk
tinggal bersama di Blangpidie. Dan pada tahun 1941 lahir pula putri kedua
beliau.
Anak
Abu Syech T. Mahmud besar dan bersekolah di Blangpidie.Walaupun anak beliau
perempuan, yang saat itu pandangan masyarakat tidak layak untuk bersekolah di
sekolah buatan Belanda, tetapiAbu Syech Mud juga menyekolahkannya di sekolah
umum yang dibangun Belanda.Sekolah rendah 3 tahun diikutinya di sekolah yang
dibangun Belanda di desa Keudee Siblah Blangpidie.Setelah tamat sekolah
tersebut mereka selanjutnya melanjutkan pendidikan di sekolah diniyah putri
Darussalam Labuhan Haji yang di bangun oleh Abuya Syech Muda Wali Al khalidi.
UmiCut Ridhwan Mahmud merupakan isteri pertama Tgk. Syech Haji Abdul
Hamid Kamal. Beliau tinggal di Blangpidie.
Abuya Syech H. Abdul Hamid Kamal dan Ummi Cut Ridhwan Mahmud (foto
1950).
7.
Umi
Radhiah
UmiRadhiah lahir di dusun IV Alue
Teungku Muda Alue Sungai Pinang (sekarang setelah dimekarkan menjadi Alue
Teungku Muda Desa Alue Rambot) Blangpidie pada tahun 1955, merupakan anak tertua
dari Teungku Muhammad Yani. Sejak dari kecil sampai menikah tinggal di Alue
Rambot. Selanjutnya setelah diperisterikan oleh Teungku Syech H. Abdul Hamid
Kamal, Umi Radhiah begitu ia sering disapa oleh masarakat tinggal di Krueng
Batee. Abuya Syech Haji Abdul Hamid bersama umi Radhiah dikaruniai 2 (dua)
orang anak perempuan yaitu Wardina Haridhy lahir tahun 1973 dan Hariyani
Haridhy lahir pada tahun 1976.**
Abuya Syech Haji Abdul Hamid Kamal
(foto doc. 1955.
Bertanggung Jawab
dan Segera
Mohon Maaf
Suatu
hari di Hari Raya Iedul Fitri 1421 H/ 2000 M, penulis bersilaturrahmi kepada
Ustaz Budi Faisal di Blangpidie. Ustaz Budi Faisal merupakan teman satu Sekolah
Rendah dengan Abuya Syech H. Abdul Hamid Kamal di Meukek. Menurut beliau, umur
mereka terpaut hanya satu tahun saja, karena Ustaz Budi lahir tahun 1927 dan
Abuya lahir pada tahun 1928 M. Walaupun letak desa mereka terpisah,tetapi karena
sekolah mereka sama, maka mereka bisa berteman.
Beliau bercerita banyak tentang masa
kecil mereka di Meukek. “Ustaz Hamid dari kecil memang sudah nampak pintarnya
dan tidak pemarah, sangat toleran dengan teman sehingga ia banyak
teman-temannya baik disekolah maupun di luar sekolah. Beda dengan adik beliau
Abdul Majid, ia lebih pemarah, cengeng dan suka mau menang sendiri” katanya. Menurut
ustaz Budi, Abdul Hamid diantar masuk ke sekolah rendah juga bersama-sama
dengan Abdul Majid adik beliau yang beda umur hanya dua tahun. Disekolah
mereka hanya beda kelas. Menurut Ustaz Budi, Abdul Majid setiap waktu diurus
oleh abangnya Abdul Hamid. “Dulu saat kami sekolah tidak ada buku tulis seperti
sekarang, kami sekolah menggunakan batu tulis dan alat menulis gerep namanya”,
ceritera beliau mengenang masa lalu. “Tapi dengan fasilitas sekolah seperti
itu banyak orang telah jadi pemimpin, malah ada yang mampu mengajarkan umat
lagi seperti Abu Abdul Hamid”,
lanjutnya.
Diceriterakan, seuatu ketika di sekolah seorang murid namanya Abdo
Kade, mengganggu Abdul Majid (adik dari Abdul Hamid) sampai batu tulisnya
pecah. Abdul Majid menangis berat sehingga suaranya menjadi gaduh. Abdul
Hamid segera datang untuk menyelesaikan masalah tersebut, tetapi Abdo Kade
melawan tidak mau didamaikan. Teman-teman waktu itu menyarankan didamaikan
saja. Damai yang ditempuh menurut saran teman-teman: batu tulis yang sudah
pecah sebahagian itu ditukar saja. Batu tulis AbdoKade di tukar dengan punya
Abdul Majid, tapi Abdo Kade bertahan walaupun sudah nyata bahwa ia dengan
sengaja memecahkannya. Abdo Kade menantang sang abang untuk berkelahi, tetapi
Abdul Hamid menghindar. Karena perlakuan sudah kelewat batas dan Abdo Kade
sudah mulai memukul beberapa kali, maka dibalaslah dengan satu pukulan yang
mengenai wajah. Rupanya tinju sang abangtepat mengenai sasaran di kening dan
serta merta bengkak. Karena mendapat balasan yang telak itu, Abdo Kadepun
menangis. Bengkaknya kening Abdo Kade karena Abdul Hamid memakai “cincin boh jok”, cincin yang dibuat dari
biji kolang kaling tua, dan cincin seperti itu memang lazim digunakan
anak-anak sebagai mainan saja.
Perselisihan itu segera sampai kepada Ketua Guru (kepala sekolah) sehingga mereka yang berselisih dipanggil.
Saat menghadap kepala sekolah,Abdul Hamid menunduk mencium tangan kepala sekolah
dan segera mohon maaf atas ketelanjurannya meladeni ajakan berkelahi Abdo
Kade. Banyak guru saat itu memang membela Abdul Hamid dan menyatakan Abdul
Hamid tidak bersalah, tetapi Abdul Hamid merasa sangat menyesal telah membalas
pukulan yang menyebabkan Abdo Kadee bengkak. Ia tanpa disuruh langsung
bangun dan mendekati Abdo Kade untuk mohon maaf atas kekeliruan meladeni
ajakan yang bersangkutan.
Saat itu, Abdul Hamid merasa serba salah. Satu pihak ia harus membela
adiknya yang telah diganggu oleh orang lain, tetapi dipihak lain telah menyeret
pula dirinya dalam masalah baru yang semula tidak terkait antara dirinya dengan
Abdo Kadee. Penyesalan terhadap kejadian itu memang diingatsampai beliau dewasa.
Beliau pernah bercerita tentang kejadian itu. Katanya, dalam hidup beliau
hanya sekali berkelahi, itu pun waktu sekolah dulu. Perkelahian itu sangat
disesali dan tidak pernah terjadi lagi.
Abuya Abdul Hamid dalam keseharian memang bukan orang bertemperamental
tinggi. Beliau amat jarang marah dan tidak pernah berbicara keras dan kasar.
Jika ada hal yang beliau tidak sukai cukup mengalihkan perhatiannya atau
berkata sinis saja. Akibatnya orang sangat memperhatikan, jika ada hal
yang beliau kurang menanggapi itupertanda hal tersebut tidak disukainya.
Suatu ketika seorang santri Dayah Raudhatul Ulum melakukan kesalahan.
Telah beberapa kali melanggar aturan yang telah dibuat. Pelanggaran itu telah
disampaikan dan diingatkan kepada yang bersangkutan oleh ketua santri agar
yang bersangkutan mengubahnya, tetapi nampaknya diabaikan. Disuatu malam
setelah pengajian umum, Abuya memanggil santri tersebut. Banyak santri lain
menganggap “habis ia bakal dimarahibahkan
mungkin diusir dari Raudhah”. Tapi nyatanya, santri bermasalah dipanggil
dan didudukan berhadapan dengan beliau, seperti berbisik dinasihati. Seketika
santri tersebut menunduk mencium lutut Abuya dan menangis tersedu-sedu.
Begitulah abuya menasihati seseorang, yangdisentuh nuraninya, bukan perasaannya.
Yang dinasihati qalbunya bukan jiwanya, yang dibina ruhnya bukan hanya raganya.
Setelah kejadian itu santri tersebut berubah prilaku, timbul kesungguhan untuk
belajar dan sangat taat beribadah. Dan, beberapa tahun kemudian ia telah
mampu mengajar kitab tinggi kepada santri santri lain di Dayah Raudhatul
Ulum.
Allahuyarham, memang
lebih banyak menyentuh qalbi, membina rohani dan mengubah prilaku. Dan, itu
telah nampak sejak kecil, saat beliau masih di bangu Sekolah Rendah. (**).
Abuya syech Haji Abdul Hamid Kamal
(dalam salah satu kegiatan Kabupaten Aceh Selatan).
Abuya dengan salah seorang putra
beliau







Komentar
Posting Komentar