BAGIAN KE DUA BELAS:








VI.  MENGISI KEKOSONGAN

1.     Berawal pada Acara Haul
Sejak Agustus 1980. Banyak pengajian masyarakat di Blangpidie dan Krueng Batee terhenti pelaksana­an­nya. Di Krueng Batee pengajian rutin yang disampai­kan Abuya ke­pada masyarakat di Mesjid Mukhlisin pa­da setiap malam Selasayang diikuti banyak masya­ra­kat dari berbagai desa dan gampong-gampong di seki­tar­nya kini telah terhenti. Sejak beliau sakit kegiatan pengajian itu terhenti.Demikian juga jad­wal pengajian yang dilakukan untuk kaum ibu pada setiap hari Selasa di Dayyah Kaum Ibu Mimbaryah juga tidak terlaksana lagi.
Hal yang sama juga terjadi di Blangpidie. Banyak jad­wal kuliyah yang disampaikan abuya untuk ma­sya­ra­kat di ber­bagai tempat di Blangpidie yang dilak­sa­na­kan secara rutin jadi terhenti juga. Sebelumnya,  se­waktu beliau sehat, kuli­yah dilaksanakan di Mesjid Ja­mik Baitul Adhiem Blangpidie pada setiap Jum’at ma­lam (malam Sabtu) ba’da Isya, di Mesjid jamik Kuta­tinggi pada setiap Kamis malam (malam Jum’at) juga dimulai ba’da Isya, di Meunasah gampong Keu­dee Sib­lah pada setiapmalam Minggu, diMeunasah gam­pong  Jalan Manyang, di Dayah Muslimat Abu (dayah ini terletak di depan rumah beliau di Blangpidie) pada se­ti­ap Jum’at siang, malam Sabtu selepas pengajian di Mesjid, hari Sabtu dan pagi Minggu  dan juga di be­berapa tempat lainnya.Jadwal kuliyah dan pe­ngajian untuk masyarakat itu semasa beliau sehat terlaksana setiap waktu. Dan, itu terjadi secara terus menerus sepanjang tahun dan bahkan ada yang sudah pu­luhan tahun. Kini kegiatan pengajian itu terhenti sejak be­liau sakit. Masyarakat sangat merindukan ter­lak­sananya kem­bali sistem pengajaran yang telah dilak­sa­nakan abuya itu, dan masyarakat merasakannya sangat ber­man­­faat. Kini masalahnya muncul. Jika abuya masih ada, tentu saja pelaksanaan kuliyah dan pengajian yang di­lak­sanakan be­liau, masyarakat mengikutinya dan bertanya jika ada yang tidak faham. Kini setelah abu­ya wafat, terjadi kehampaan, kekosongan dan keti­adaan harapan tentang tem­­pat bertanya dan siapa yang menjadi ikutan.
Tahun 1982, pada haul abuya ke dua, (haul wafat abu­ya dilaksanakan setiap 15 Syawal). Biasanya acara doa di­laksanakan di dua tempat yaitu di rumah beliau di Blang­pidie yang dilaksanakan pada malam 15 Syaw­wal (dan aca­ra doa tersebut masih berlangsung sam­pai sekarang), se­dang­­kan acara haul dilaksanakan juga di Dayah Raudhatul Ulum Alue Pisang Kuala Batee pa­da siang 15 syawwal. Aca­ra haul tersebut dilak­sa­na­kan setiap tahun. Pada tahun 1982, artinya, abuya telah wafat lebih dari dua tahun. Ber­ar­ti telah terjadi kekosongan pe­ngajaran di Blangpidie dan Krueng Bate sudah lebih dari dua tahun pula.
Pada acara haul yang dilaksanakan di rumah beliau di Blangpidie, biasanya dihadiri oleh banyak jamaah dan juga hadir tokoh masyarakat baik dari Blangpidie maupun Krueng Batee. Saat itu, terjadi pem­bi­caraan beberapa to­koh masyarakat Blangpidie. Pembi­cara­an itu pada awal­nya terkait dengan penanganan pendi­di­kan di Dayah Bustanul Huda Blangpidie dan Dayah Raudhatul Ulum di Alue Pisang Kuala Batee, kemu­dian pembicaraan meluas ke berbagai hal yang lain ter­masuk siapa yang dapat dijadikan untuk me­ngajar di Bus­ta­nul Huda dan Raudhatul Ulum dan me­lan­jutkan kembali sistem pengajaran yang telah terhenti setelah abuya wafat.
Sesungguhnya pembicaraan tentang teungku yang a­kan melanjutkan sistem pengajaran pada ke dua Da­yah ter­sebut sudah mulai dibahas di dalam keluarga. Karena Umi Cut Ridhwan Mahmud dan anak-anak abu­ya serta be­be­rapa murid-murid beliau telah me­ra­sa­kan dan harus mengambil langkah-langkah untuk men­datangkan guru yang dapat menlanjutkan pelak­sa­naan pendidikan di ke dua dayah tersebut. Selama sudah dua tahun itu, Dayah Raudhatul Ulum masih berlangsung pendidikan dan pe­ngajaran yang dita­nga­ni oleh teungku-teungku dan para alumni yang berdo­mi­sili di sekitar dayah, tetapi pada da­yah Bustanul Huda setelah dua tahun abuya wafat telah ter­jadi kekosongan yang sangat kentara. Para santri sudah ber­pindah ke dayah lain karena lambat laun sistem pen­di­di­kan dan pengajaran makin berkurang bahkan telah mulai berhenti. Rangkang-rangkang santri yang ada di Bustanul Huda sudah mulai diisi oleh murid-murid sekolah baik SMP maupun SMA yang datang dari luar Blangpidie, sedangkan pendidikan dayah salafi yang mengajarkan berbagai kitab sudah terhenti sama-sekali.

2.     Rapat di Langkan Mesjid
Sebenarnya, pada malam haul ke dua wafatnya abuya itu oleh beberapa tokoh masyarakat yang hadir telah di­usul beberapa na­ma tetapi masih belum sepakat. Setelah dibahas lebih intensif dan menyam­pai­kan pikiran-pikiran ke­pada Umi Cut Ridhwan Mah­mud, maka masalah itu per­lu dibahas lebih lanjut. Dan, pada saat itu disepa­kati bah­wa masalah itu perlu dibahas lebih lanjut dengan mem­bu­at rapat kembali dengan mengundang beberapa pi­hak yang dianggap perlu. Untuk Blangpidie diputuskan di­ada­kan rapat pada malam Sabtu di Mesjid jamik (sekitar dua pe­kan setelah pembahasan awal di acara haul abuya), se­dang­kan untuk Krueng Batee perlu difikirkan khusus juga kare­na terkait dengan pelaksanaan pendidikan di dayah Rau­dhatul Ulum.
Rapat di Blangpidie dilaksanakan dengan meng­gu­na­­­kan tempat di “langkan” (teras) Mes­jid Jamik Baitul A­dhiem. Rapat itu dihadiri oleh berbagai pihak teru­ta­ma pe­­­­ngurus masjid, pengurus kuliyah di masjid, be­be­rapa to­koh masyarakat Blangpidie. Juga hadir da­lam rapat itu be­be­rapa tokoh masyarakat Kuta TInggi dan beberapa pihak lainnya termasuk juga sebahagian jamaah kuliyah rutin yang dilaksanakan abuya di mesjid.
Rapat yang dimulai selepas Isya itu pada awalnya mem­­bahas tentang lembaga pendidikan Dayah Bus­ta­nul Hu­da yang dinilai sangat penting untuk ditangani sehingga lem­baga itu tetap terus hidup karena Dayah Bustanul Hu­da merupakan Dayah tertua di pantai ba­rat selatan aceh dan telah menghasilkan banyak ula­ma. Berbagai pemikiran disam­pai­­kan tentang bagai­ma­na lembaga Dayah ini dapat ber­jalan seperti semu­la. Masyarakat sangat membutuhkan Dayah Bustanul Huda untuk hidup dan berjalan kembali, sehingga da­yah itu dapat mengisi pendidikan agama bagi anak-anak dan remaja sebagai generasi yang akan me­mim­pin dae­rah di masa datang. Saat itu masyarakat telah me­rasakan bahwa anak genarasi muda kita harus men­da­pat­kan pendidikan berimbang. Satu sisi pen­di­dikan formal ha­rus dijalaninya dengan baik, dan untuk menghasilkan ge­ne­rasi ke depan yang baik dan religi perlu pula mendapat pendidikan agama yang cukup. Dalam kerangka pemikiran itulah rapat itu berjalan. Masalahnya, untuk menghi­dup­kan kembali dayah Bus­tanul Huda harus ada seorang teungku yang me­mim­pin. Dan, teungku yang memimpin itu yang diha­rapkan untuk mengisi kekosongan ulama di Blang­pidie dan sekitarnya.

3.     Banyak usulan nama
Ada banyak usulan nama teungku yang saat itu ber­­domisili di be­berapa tempat (di luar daerah) yang diusul­kan oleh peser­ta rapatuntuk dapat dibawa pu­lang ke Blangpidie untuk memimpin dan menjalankan pen­didikan di Pesantren Bustanul Huda.Pada awalnya diusulkan be­be­rapa nama teungku di Aceh yang di­ang­gap mungkin bisa diminta untuk mengajar di Bus­ta­nul Huda. Umumnya teungku yang diusulkan itu alumni Bustanul Huda yang di­anggap mampu untuk memimpin dayah dan dapat dija­di­kan tempat berta­nya masyarakat. Diantara beberapa na­ma alumni da­yah Bustanul Huda yang diusulkan itu adalah Teungku Abdur Rafar Lhoknga Aceh Besar, Teungku H. Muhammad Nur Yusuf Lamlhom Aceh Besar, Teungku Mutsannief di Aceh Selatan, Teungku Muhammad Ali di Aceh Te­ngah, Teungku Ubai­dillah di Aceh Barat, Teungku Ba­syah di Bireuen dan banyak nama-nama lainnya.
Usulan nama-nama ini dibahas serta didalami lebih lan­jut. Bahwa sebahagian besar dari mereka itu sudah mem­buka dayah sendiri, sehingga dianggap meru­pa­kan sebuah kendala untuk dapat diminta agar dapat me­mimpin dayah Bustanul Huda. Kajian lain bahwa me­reka itu bukan putra Blangpidie dan mereka juga sudah berkeluarga dan telah bertempat tinggal di da­e­rah masing-masing. Beberapa hal inilah yang di­ang­gap kendala utama jika mereka diminta untuk me­mim­pin dayah Bustanul Huda, walaupun mereka a­lum­ni dayah itu dan sudah dianggap mampu untuk me­mim­pin.
Kemudian peserta rapat mengusulkan agar teung­ku yang memimpin dayah Bustanul Huda tidak hanya da­ri a­lumni, tetapi juga dari dayah lain, misalnya, a­lum­ni Pe­san­tren Darussalam Labuhan Haji yang bera­da diberbagai dae­rah di Aceh Selatan atau sekitarnya. Kemudian dengan ber­bagai pertimbangan, usulan na­ma itu dipersempit un­tuk alumni dayah Bustanul Hu­da  dan alumni Pesantren Darussalam yang berada di Aceh Se­la­tan atau Aceh Barat. Pada sa­at itu banyak usulan tentang nama-nama alumni Bustanul Huda dan Darussalam yang berada di bebe­ra­pa daerah baik di Aceh Selatan maupun di luar Aceh Sela­tan.
4.     Penetapan Teungku Muhammad Syam Mar­faly
Pada mendekati larut malam, kemudian ada pula usu­lan teungku yang mengajar di Bustanul Huda ada­lah se­baik­nya dari putra Blangpidie, sehingga akan le­bih mudah menetap dan bertempat tinggal secara per­manen untuk mengajar di Bustanul Huda.Degan ser­­ta merta usulan ini diterima rapat, dan kemudian dilanjutkan dengan usulan nama-nama. Diantara ba­nyak nama yang diusulkan itu salah satu diantaranya adalah Teungku Muhammad Syam Marfaly, dan satu atau dua nama lain,  nama yang diha­rap­kan dapat di­hu­bungi untuk dimintakan kesediaannyame­mim­pin dan melanjutkan pelaksanaan pendidikan di Dayah Bustanul Huda.
Acara rapat malam itu memutuskan nama-nama yang akan dihubungi untuk dimintakan kesediaannya. Tetapi ke­pu­tusan itu juga disampaikan kepada Umi Cut Ridhwan Mahmud. Saat itu Umi langsung me­min­ta agar dapat menghubungi Teungku Muhammad Syam Marfaly, karena me­nu­rut pertimbangan beliau, ia merupakan putra gampong Lhueng Tarok Blang­pi­die, sehingga lebih mudah me­lan­jut­kan kepemim­pi­nan di dayah Bustanul Huda dan juga me­lan­jutkan berbagai kuliyah yang telah dilaksanakan abuya dulu di berbagai tempat. Jika yang lain, maka ia akan perlu memperkenalkan diri kepada masyarakat dulu dan ma­sih banyak hal yang harus dilakukan.
Setelah pembicaraan itu dan Umi mengusulkan pen­da­pat­nya, maka ditetapkan bahwa akan dihubungi Teungku Muhammad Syam Marfaly dengan pertim­ba­ngan bahwa ia adalah putra Blangpidie yang saat itu sebagai salah seoang guru di Pesan­tren Darussalam Labu­han Haji. Diputuskan Teungku Muham­mad Syam Marfaly untuk memimpin Pesan­tren Bustanul Huda karena ada beberapa pertimbangan: Pertama, beliau adalah putra Blangpidie yang sudah diang­gap alim dan saat itu mengajar di Darussalam Labuhan Haji. Kedua, beliau sering diundang Abuya Syech H. Abdul Hamid Kamal untuk berceramah di Blangpidie maupun Krueng Batee. Ketiga, Teungku Muhammad Syam Mar­faly se­ring ber­dis­kusi dengan abuya pada saat be­liau pulang ke Blangpidie dan amat sering berkunjung dalam rangka si­la­tur­rahmi. Karena beberapa hal itu beliau tidak asing lagi bagi ma­sya­rakat di daerah Blangpidie dan berbagai pihak memutuskan untuk menghubungi beliau agar dapat me­mim­pin Dayah Bus­tanul Huda.

5.     Utusan yang menghubungi.
Rapat juga memu­tus­kan bah­wa yang datang untuk mem­bahas hal itu dengan Teungku Muhammad Syam Marfaly di Labuhan Haji disam­ping be­berapa orang to­koh masyarakat juga diikutkan putra Abuya. Kei­kut­sertaan pu­tra abuya Syech Haji Abdul Hamid Kamal dianggap sangat penting saat itu, karena disamping menyampaikan kepada masyarakat bahwa Dayah Bus­ta­nul Huda yang dibangun oleh abuya Syech T. Mah­mud  dan kemudian dilanjutkan oleh Abuya Syech Haji Abdul Hamid Kamal (menantu beliau) tidak ter­putus sistem penanganannya walaupun ke dua abuya ter­sebut sudah wafat. Kehadiran dan keikut­ser­ta­an putra abuya yang merupakan cucu dari pendiri dayah Bus­ta­nul Huda tersebut sebagai pengganti keturunan be­li­au dalam menangani dayah tersebut. Disamping itu, ke­ha­di­ran putra abuya menunjukkan sikap yang baik dari kelu­ar­ga bahwa Dayah Bustanul Huda perlu dilan­jutkan aktivitasnya.
Setelah kesediaan Teungku Muhammad Syam Mar­­faly un­tuk memimpin Dayah Bustanul Huda, maka di­buat rapat lan­jutanuntuk membahas segala sesuatu dalam rangkamenyiap­kan kelengkapan sarana utama yang dibutuhkan saat itu.
Masyarakat dengan segera menyiapkan rumah pang­­gung sederhana sebagai tempat tinggal yang di­ba­ngun di lo­kasi Dayah Bustanul Huda (di sekitar masjid jamik Baitul Adhiem Blangpidie). Sebagaimana ma­na dimak­lu­mi bahwa Dayah Bustanul Huda berada da­lam pekarangan masjid Jamik Baitul Adhiem, maka rumah panggung se­der­ha­na itu dibangun di dalam lo­ka­si pekarangan masjid ter­se­but.
Begitulah, pada tahun 1983, Teungku Muhammad Syam Marfaly, sudah berada di Blangpidie untuk me­nge­lo­la Pesantren Bustanul Huda yang didirikan oleh Abuya Teungku Syech. T. Mahmud yang terletak di sekitar masjid Ja­mik Blangpidie.**
Abuya Syech H. Abdul Hamid kamal



SUPLEMEN:

Sangat Memagang Komitmen
Suatu waktu pada tahun 1971, datang beberapa o­rang tokoh masyarakat Ladang Neubok (daerah itu lebih dikenal de­ngan Guhang) ke rumah beliau di Blang­pidie. Semula me­­­reka datang pada hari Rabu, tetapi karena abuya masih di Krueng Batee (abuya pulang ke Blangpidie pada setiap Ka­mis sore, dan baru kembali lagi ke Krueng Batee pada Minggu sore), mereka hanya dite­ri­ma oleh beberapa orang murid beliau yang kebetulan saat itu berada di rumah a­bu­ya di Blangpidie. Mereka me­nyampaikan akan kem­ba­­li hari Jum’at pada saat abuya telah berada di Blang­pi­die.
Benar saja, para tokoh masyarakat Ladang Neubok kem­bali datang menjumpai Abuya ba’da Jumat. Ada be­be­ra­pa orang datang men­jum­pai abuya. Inti pem­bi­ca­raan sa­at itu bahwa masyarakat Ladang Neubok a­kan menga­da­kan peringatan Nuzulul Qur­an pada hari yang telah di­ten­tu­kan me­mo­hon kesediaan abuya mem­beri tausiah pada ma­lam itu. Setelah melihat jad­wal kegiatan abuya, beliau  memenuhi undangan ma­syarakat itu. Me­re­ka juga memin­ta agar abuya datang sebelum maghrib ka­re­­na masyarakat juga melakukan buka puasa bersama dan melaksanakan shalat Tara­weh berjamaah. Sam­pai di situ ke­sepakatan te­lah ter­jadi dan abuya men­ca­tat­ undangan ma­syarakat La­dang Neubok agar tidak lupa. Suatu ke­bi­a­sa­an abuya bah­wa setiap undangan ma­sya­ra­kat akan di­pe­nu­hi be­liau dan beliau meng­utama­kan yang lebih awal me­nyam­paikan un­da­ngan, walaupun undangan itu di per­kam­pu­ngan udik, jika sudah disepakati tetap akan di­pe­nuhi be­li­au, walau ke­mu­dian ada undangan yang lebih be­sar lagi dan yang me­ngun­dang orang terhor­mat, Unda­ng­an itu a­kan ditolak beliau.
Ladang Neubok secara geografis tidak terlalu jauh dari Blangpidie. Jaraknya hanya terpaut tiga kilometer saja. Te­ta­pi untuk menuju ke daerah itu harus mela­wa­ti sungai yang airnya sangat deras yaitu Krueng Beu­kah. Orang me­lewati Krueng Beukah meng­gu­na­kan rakit yang hanya me­ngang­kut orang dan sepeda saja. Sedang jalan transportasi untuk angkutan umum misalnya Bus, truk dan lain lain, menggunakan jalan na­sional yang melewati Susoh, Pulo Ka­yu, Ujong Pa­dang, Cot Manee. Jika menggunakan jalan itu sangat jauh. Dari Blangpidie menuju Ladang Neubok lebih dari 14 Km. Tetapi untuk menuju Ladang Neubok me­lalui jalan ringkas tergolong berat. Di samping harus me­nye­berang sungai, juga masih jalan tanah dengan kondisi ja­lan jika hujan amat licin. Pada tahun 70-an, keadaan gam­pong-gampong amat memprihatinkan. Rumah-rumah ha­nya diterangi dengan lampu culot dan jika sedikit berada menggunakan lampu pakai semprong. Sangat sedikit ru­mah yang menggunakan penerangan lampu strongkeng yang cahayanya lebih terang.
Pada jadwal yang telah disepakati, abuya dengan bebe­ra­pa orang sahabat beliau mendekati maghrib datang ke gampong Ladang Neubok. Rombongan abu­ya ada sekitar 5-6 orang berjalan dengan meng­gu­nakan sepeda.
Abuya melambatkan datang karena sebelumnya di Blangpidie dan sekitarnya turun hujan walau tidak terlalu le­bat, tetapi saat itu di langit mendung me­nga­rak sangat ke­lam, pertanda nanti malam akan turun hujan lebat. Rom­bongan abuya sebelum berangkat ada yang curiga bah­wa jika hujan lebat bakal tidak bisa pulang Kreung Beu­kah akan  banjir dan rakit tidak bisa dijalankan. Tetapi abu­ya saat itu hanya ter­se­nyum saja.
Beberapa waktu kemudian mereka sudah berada di mas­jid Ladang Neubok. Tetapi ada yang aneh, mas­jid ma­sih tertutup, tidak ada tanda-tanda akan ada pera­ya­an Nu­zu­lul Quran. Panitia yang mengundang dulu tidak nampak se­orangpun, apalagi masyarakat. Saat rombongan tiba di masjid hujanpun turun de­ngan lebatnya, sehingga rom­bo­ngan terkurung tidak bisa ke mana-mana.
Hari mulai larut, tidak lama kemudian maghribpun ti­ba. Rombongan abuya sudah mulai mengeluh, ba­gai­mana dan dengan apa berbuka puasa. Abuya hanya du­duk saja dilangkan masjid. Setelah saat berbuka tiba, maka abuya melibat di langkan masjid ada be­be­ra­pa buah mangkok dan rantang (mungkin dipakai untuk minum orang tada­ru­san), abuya meminta agar menggunakan mangkok ter­se­but menampung air hu­jan, dan abuya beserta rombongan ber­buka puasa de­ngan itu.
Setelah shalat hujan masih lebat, tiba-tiba datang sing­gah seseorang untuk shalat dimesjid. Orang itu  ma­sya­ra­kat Seunaloh. Setelah tahu masalah, Ia me­min­ta abu­ya un­tuk datang ke Sinaloh saja, maka abuya ikut ke Sinaloh un­tuk shalat Isya dan Taraweh serta memberi tausiah di situ.
Karena hujan lebat abuya dan rombongan tidak bisa kem­bali ke Blangpidie (rakit tidak dapat dija­lan­kan dan su­ngai sudah banjir). Dan abuya bersama rom­bongan mengi­nap di situ.
Beberapa hari kemudian tokoh masyarakat Ladang Neu­bok datang menjumpai abuya dan memohon ma­af atas kejadian itu. Mereka menjelaskan bahwa acara Nuzu­lul Quran telah bergeser hari dan oleh ma­sya­ra­kat telah mengutus beberapa orang untuk menyam­pai­kan pergese­ran hari itu kepada abuya. Karena abuya tidak berada di Blangpidie maka informasi itu tidak sampai. Mereka tetap mengundang abuya untuk memberikan tausiah pada acara yang telah digeser harinya itu. Saat itu banyak orang me­nya­rankan agar abuya tidak memenuhi permintaan mere­ka dan mem­ba­talkan saja kehadairan abuya. Berbagai cara orang menyampaikan agar abuya tidak memenuhi undang­an itu. Abuya hanya mendengarkan saja, tidak mem­ban­tah dan tidak pula mengiyakan. Paling-paling abuya hanya tersenyum.
Setelah sampai pada jadwal yang telah disepakati, a­bu­ya datang memenuhi undangan masyarakat La­dang Neu­bok dengan hanya mengajak dua orang te­man beliau. Sa­at itu beliau hanya mengajak Tgk. Ab­dus­samad (guru di Bus­ta­nul Huda) dan Geusyik Mu­ham­mad Hasan (tokoh ma­sya­ra­kat Keudee Siblah). Abuya tidak mengajak yang lainnya karena mungkin abuya takut akan timbul dampak ne­gative pada saat acara di Ladang Neubok itu ber­lang­sung.
Begitulah keadaannya. Saat orang dengan emosi mem­protes keadaan itu, abuya dengan enteng men­ja­wab, “ma­sya­­rakat kalheih geupeuetrok soe keuno, te­ta­pi informasi dan peusan hana trouk sempurna, ma­ka juet keue lagee nyan”. Beliau sering berkata: “Nyan salah saboh cara Allah mencoba kesabaran”, kata be­liau. Allahuyarham…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini