BAGIAN KE DELAPAN


Silman Haridhy

 BIOGRAFI
ABUYA SYECH H. ABDUL HAMID KAMAL
"Ulama Bersifat Diplomat"


Unit PerpustakaanYayasan AHKAM

DAYAH RAUDHATUL ULUM



VI.     BERUMAH TANGGA

1.     Datang seulangkee

Sekarang telah tibalah waktunya, Teungku Abdul Ha­mid menjadi pemuda yang matang, umurnya telah 21 atau 22 tahun. Masyarakat mulai meushah-shah (berbisik-bisik) tentang kehi­dupan beliau untuk masa depan. Beliau telah layak men­dapatkan jodoh, se­hing­ga kehidupan beliau ti­dak sendiri seperti sekarang ini.Tokoh-tokoh masyarakat dikemu­kim­an itu mulai be­rembuk. Hasil rembukan akan diutus be­berapa tokoh masyarakat untuk menjumpai Abu Kama di Tangan-Tangan. Datanglah Teungku Sida Maksae dan be­be­ra­pa orang lainnya men­jumpai Abu Kama dan mena­nya­kan tentang apakah Teungku Abdul Hamid te­lah ada pi­lihan untuk calon keluarga.Jika belum ada, ba­gai­ma­na jika dijo­doh­kan dengan putri Abu Syech Mud Blangpidie.
Mendengar saran dari tokoh masyarakat Krueng Ba­­tee itu Abu Kama lama terdiam, pikirannya kacau dan bim­bang.Apakah layak Abdul Hamid menjadi me­nan­tu Abu Syech Mud seorang ulama yang sangat dihorma­ti.Per­tanyaan dan kebimbangan itulah yang menera­wang dalam pikirannya.Agaknya, tokoh ma­sya­rakat paham betul ter­ha­dap galaunya pikiran Abu Kama saat itu sehingga me­rekapun me­nyampaikan pikirannya.“Jika Abu Kama se­pakat dan setuju, biar kami yang datang untuk bermohon kepada Abu Syech Mud”, kata mereka.
Tidak lama berselang, datanglah beberapa tokoh ma­sya­rakat kemu­kim­an Krueng Batee menjumpai Abu Syech Mud di Blangpidie. Maksudtujuan mereka da­tang hanya untuk menyambung kalam un­tukme­nyam­pai­kan maksud masyarakat agar Teungku Abdul Hamid dapat dijodohkan de­ngan putri Abu. Abu Syech Mud menyambut baik ke­da­tang­an mereka dan me­ma­ha­mi apa yang mereka sam­paikan.
Abu memiliki dua orang anak perempuan yaitu yang tertua ber­nama Cut Ridhwan dan adiknya ber­na­ma Cut Asmanidar.Sebe­narnya anak abu Syech Mud ada tiga orang. Yang tertua adalah laki-laki yanglahir pada tahun 1933 di Lamlhom Lhoknga Aceh Besar, te­tapi meninggal dunia beberapa hari setelah dilahir­kan.Baru pada ta­hun 1935 lahir putri pertama beliau di Lamlhom Lhoknga. Setelah a­nak tersebut kuat dan be­r­umur sekitar 2 tahun, dengan menumpang kapal laut,Abu Syech Mud membawa keluarga beliau Cut Maryam un­tuk tinggal bersama di Blangpidie. Dan pada tahun 1941 lahir pula putri kedua beliau.
Anak Abu Syech Mud besar dan bersekolah di Blang­­­pidie.Walaupun anak beliau perempuan, yang sa­at itu pandangan masya­ra­kat tidak layak untuk ber­se­kolah di sekolah buatan Belanda, tetapiAbu Syech Mud juga me­nye­kolahkannya di sekolah umum yang di­bangun Belanda.Sekolah rendah 3 tahun diikutinya di sekolah yang di­bangun Belanda di keudee Siblah Blangpidie.Setelah tamat sekolah tersebut mereka se­lanjutnya melanjutkan pendidikan di sekolah dini­yah putri Darussalam Labuhan Haji yang di bangun oleh Abuya Syech Muda Wali Al kha­lidi.
Saat datang tokoh masyarakat Kemukiman Krueng Ba­tee men­­jumpaiAbu Syech Mud untukmenyam­pai­kan maksud ingin men­jo­dohkan Teungku Abdul Hamid dengan anak abu, saat itu anak-anak abu syech Mud se­dang berada di Darussalam Labuhan Haji.Pendek kata, ke­inginan masyarakat kemukiman Krueng Batee un­tuk menjodohkan Teungku Abdul Hamid dengan putri tertua abu Syech Mud yaitu Cut Ridhwan ber­sam­but.
Pada 15 hari bulan Syakban  1372 H atau ber­te­pa­tan dengan 24 April 1951 M mereka dinikahkan di rumah Abu Syech Mud di Blang­pidie.
Saat khenduri walimah Urusy, linto baro diusung dan diturun­kan dari kemukiman Krueng Batee.Teungku Abdul Hamid diantar oleh ra­tu­san masyara­kat sebagai rom­bongan intat linto ke rumah Abu Syech Mud. Turut dalam rombongan  itu Abu Kama dan keluarga.
Tgk. Abdul Hamid saat nikah dan acara walimatul ‘u­rusy tidak turun dari rumah Abu Kama di Tangan-Tangan, tetapi turun dari Kemu­kiman Krueng Batee, karena oleh ma­syarakat tidak melepas­kan­nya dan sudah menganggap sebagai anak mereka. Karena itu, Abu Kama mengalah dan menyetujui bahwa Teungku Abdul Hamid tidak ditu­run­kan dan diantar dari rumah beliau di Tangan-Tangan, tetapi setuju diturunkan dari Krueng Batee, karena Abu Kama melihat bahwa sam­butan masyarakat terhadap Teungku Abdul Hamid sangat tinggi, dan tentu saja Abu Kama tidak ingin me­ma­tahkan semangat yang tinggi dari masayarakat itu.
Setelah menikah, Teungku. Abdul Hamid membagi wak­tunya. Hari Senin sampai Kamis, ia berada di Krueng Batee mengajar masyarakat dan di Dayah Mimbariyah, selebih­nya hari Jumat sampai Minggu be­­­ra­da di Blangpidie. Seiring dengan itu, Teungku Abdul Hamid diangkat pula sebagai khatib Mesjid ja­mik Blangpidie menggantikan Abu yang saat itu sudah sering terserang reumatik.



2.     Kelahiran Putra dan putri
Pasangan Tgk Syech H. Abdul Hamid Kamal dan Hj. Cut Ridh­wan Mahmud dikaruniai 5 orang anak yaitu Zoel Helmi Haridhy lahir08 Oktober 1953, Silman Haridhy lahir 21 Agustus 1955, Musfiari Haridhy lahir 12 September 1957, Ridhani Haridhy lahir 03 Maret 1960 dan Murina Haridhy lahir 29 November 1963. Putra putri beliau dididik secara kombinasi antara pen­didikan formal disekolah umum dengan pen­di­di­kan agama baik di rumah maupun di dayah.
Pendidikan yang dilakukan oleh Abuya kepada anak-anak be­liau saat itu tergolong moderat. Saat itu, para teungku apa lagi ter­go­long ulama seperti beliau tidak ada yang menyekolahkan anak-anak­nya ke sekolah umum. Paling-paling untuk pendidikan umum hanya di­lakukan pada tingkat sekolah dasar atau paling tinggi pada tingkat seko­lah menengah pertama atau sekolah menengah atas. Selebihnya pendidikan formal untuk anak-anak teungku cukup sampai disitu, se­lan­jutnya diantar ke berbagai lembaga dayah atau pesantren. Jika ti­dak dilakukan seperti itu, maka teung­ku tersebut akan dihujat oleh banyak pihak.
Sistem pendidikan seperti itu tidak berlaku dalam ke­luarga Abuya Teungku Syech H. Abdul Hamid Kamal. Beliau memandang pen­di­dikan formal harus ditem­puh oleh anak-anak. Agar anak-anak tidak salah jalan di kemu­dian hari setelah dewasa, maka pendidikan untuk anak-anak tidak semata-mata hanya pendidikan formal saja, tetapi harus dibekali dengan pendidikan agama yang kuat. Dengan demikian anak-anak akan memahami agama seca­ra baik dan akan menghasilkan generasi teknokrat yang agamis yang mampu me­man­faatkan potensi yang ada sesuai dengan keinginan aga­ma dan anjuran agamanya. Boleh jadi, beliau sangat memahami bahwa mengarahkan anak-anak un­tukmengikuti keinginan orang tua saja akan men­ja­di sia-sia juga. Banyak orang tua yang memaksakan ke­inginannya dalam pendidikan terhadap anaknya akan menjadi “arang habis besi binasa”. Banyak orang tua yang tergolong berada (mampu) saat itu, me­nga­rah­kan pen­di­dikan untuk anaknya keluar daerah tan­pa membekali bah­wa pendidikan yang ditempuh­nya itu pada dasarnya bukan untuk orang tua tetapiuntuk diri sendiri, karena banyakyangtidak paham ter­hadap itu maka anak-anak hanya mengikuti keinginan orang tuanya saja, tetapi mereka tidak menggunakan poten­si­nya untuk belajar yang baik, akhirnya banyak yang pulang hampa tanpa hasil apa-apa.
Sistem pendidikan yang dikembangkan abuya mung­kin ber­be­da dari apa yang dilakukan oleh banyak o­rang. Sejak pendidikan awal abuya meng­kom­bi­na­si­kan pendidikan formal dengan pendidikan aga­ma. Sebelum se­orang anak belajar di sekolah dasar (se­ko­lah formal) harus telah diajarkan pendidikan agama dirumah. Pendidikan agama yang paling dasar diajarkan adalah thaharah (bersuci), shalat (gerakan dan doa-doanya), dan diajarkan membaca al quran. Seluruh pengajar­an tersebut memang masih dalam bentuk pendidikan dasar. Abuya menerapkan pen­didikan da­sar-dasar agama terhadap anak-anaknya mulai umur 4 tahun bahkan mungkin lebih awal lagi dari itu. Pa­da umur balita itu telah diperkenalkan pendidikan aga­ma,missal­nya, tentang udhuk, gerakan shalat, bacaan shalat dan mengenalkan huruf arab.
Pada tahun 50-an methode iqra’ seperti sekarang be­­lum di­ke­nal dan belum ditemukan. Anak-anak be­la­jar Al-Quran melalui juz amma yang isinya perkenalan terhadap huruf arab dan merangkaikan huruf-huruf arab dalam bentuk kalimat. Seorang anak harus me­na­mat­kan juzamma dan memahami­nya terlebih da­hulu baru dapat me­lanjutkannya pada bacaan Al-Quran. Sistem belajar se­perti itu saat inidianggap tidak praktis karena seorang anak memerlukan waktu yang lama untuk menamatkan juz amma, tidak jarang anak-anak yang sedikit “benak” ha­tinya memerlukan waktu lebih dari setahun dalam belajar di juz amma itu saja. Tetapi abuya untuk mengajarkan bacaan Al-Quran kepada anak-anak beliau yang masih kecil tidak mengguna­kan juz amma sebagaimana lazim digu­na­kan saat itu, tetapi beliau menu­lisnya sendiri pada bu­ku beberapa halaman saja dalam bentuk pengenalan huruf, membariskan huruf, menyambung huruf dalam bentuk kalimat dari kalimat pendek menuju ke kalimat sedang dan panjang. Boleh jadi, dengan system pe­nga­jaran itu sianak hanya beberapa minggu saja da­lam memahami system be­la­jar tersebut dan langsung dapat pindah ke alquran. Pola belajar al quran itu te­lah diterapkan abuya pada akhir ta­hun 1950-an, pada saat beliau mengajarkan anak-anaknya membaca al quran jauh sebelum methode iqra’ ditemukan bela­ka­ngan ini (uraian system pendidikan akan dibahas lebih lanjut).
Anak beliau yang laki-laki dapat menyelesaikan pen­­di­di­kan di ber­bagai fakultas pada Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala dan telah me­lan­jutkan pada jenjang pendi­di­kan di atasnya. Adapun anak perem­puan be­liau hanya ber­sekolah formal sampai tingkat sekolah menengah atas baik umum maupun kejuruan.
Anak beliau yang tertua Teungku H. Zoel Helmi Haridhy, se­telah belajar di Dayah Raudhatul Ulum, melanjutkan pen­didikan S1 di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), dan menye­le­saikan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Managemen (STIM) Medan. Sedangkan putra ke dua Teungku H. Silman Haridhy  menye­lesaikan S1 di Fakultas Pertanian Un­syiah tahun 1982, dan menye­le­saikan S2 di Institute Pertanian Bogor (IPB) tahun 1999. Adapun putra ke tiga Teunghku H. Musfiari Haridhy menye­lesaikan S1 di FakultasEkonomi Unsyiah dan menyelesaikan S2 di Ohio University  Amerika Serikat. Adapun anak perempuan beliau yaitu Teungku Ridhani Haridhy, Teungku Murina Haridhy (almh), Teungku Wardina Haridhy dan Teungku Haryani Haridhy hanya menyelesaikan sekolah formal lanjutan.
Di samping itu, menantu beliau terdiri dari Hj. Nur Syardi SAg lahir di Sawang Ba’u Aceh Selatan 08 Juni 1963, alumnus dari IAIN Arraniry Darus­salam, se­ka­rang menetap di Blangpidie dan saat ini bertugas se­ba­gai guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Blang­pidie. Selanjutnya Hj. Laila Junaina SPd, lahir di Blang­pidie 09 Januari 1965 meru­pa­kan alumnus Universitas Abul­yatama  Aceh Besar jurusan Bahasa Inggris saat ini bertugas sebagai guru pada SMA Negeri 1 Blang­pidie dan tinggal di Blangpidie. Dra. Hj. Fikriah, MSi lahir di Banda Aceh 12 Agustus 1958 me­ru­pakan alumnus dari Fakultas Ekonomi Unsyiah dan saat ini bertugas sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah  dan ting­gal di Banda Aceh. Menantu Abuya  selan­jut­nya adalah M. Daud Ali (alm) meninggal dunia di Ban­da Aceh tahun 2004, saat ini keluarganya (Ridhani Haridhy) tinggal di Banda Aceh. Selanjutnya Adnan Sulaiman SH lahir di Blang­pidie pada tahun 1962, saat ini sebagai bertugas sebagai PNS Aceh Barat Daya dan tinggal di Blangpidie. Adapun me­nantu dari anak pada Umi Radhiah adalah Mu­hammad Nyak Daud SPd dan Akha Rahmad Fauzari SP.
Putra-Putri, menantu dan cucu dari Pasangan Abu­ya Syech H. Abdul Hamid Kamal dan Umi Hj. Cudhwan Mah­mud dan Umi Radhiah sebagaimana tertera dalam tablelLampiran.



3.     Menunaikan ibadah haji

Pada tahun 1954, Tgk Abdul Hamid Kamal menu­nai­kan ibadah Haji. Perjalanan menunaikan ibadah Hajike Mek­kah saat itu meng­gu­na­kan kapal laut yang meng­habiskan waktu tidak kurang dari enam bulan. Saat menunaikan ibadah haji beliau tidak mengambil kesem­pa­tan tinggaldi Mekkah atau Madinah untuk belajar sebagaimana sering dilakukan oleh orang-orang yang ingin menambah ilmu di Mekkah atau Ma­di­nah saat itu. Beliau tidak tinggal sebagai orang yang be­­lajar di Mekkah sebagaimana juga lazim dilakukan oleh jamaah yang ingin melanjutkan belajar di Arab, walaupun kesempatan itu bisa saja dilakukan. Pada masa itu orang yang berkeinginan belajar dan me­nun­tut ilmu agama diberi kebebasan tinggal di Mekkah atau Ma­di­nah. Tetapi kesempatan itu tidak diambil beliau. Teungku Ab­dul Hamid setelah se­lesai mela­ku­kan ibadah haji lang­sung pulang bersama rombongan ke Aceh karena di­sebabkan oleh sekurang-kurang ada empat alasan: Pertama,Pada sa­at berangkat dulu be­liau menyampaikan kepada gurunya Abu Syech T. Mahmud hanya menunaikan ibadah hajji ti­dak me­nyam­paikan bahwa kemungkinan untuk tinggal di Mekkah atau Madinah untuk menuntut ilmu agama. Ka­re­na itu izin yang disampaikan kepada Abu Syech Mud dan Abu Kamaluddin (abu Kama ayah beiiau) hanya untuk me­nu­naikan Ibadah haji bukan untuk tu­ju­an yang lain, mi­sal­nya untuk melanjutkan pendi­di­kan di Arab. Karenanya, wa­laupun saat itu jamaah haji dapat saja ting­gal di Mekkah atau Madinah untuk melanjutkan pen­didi­kan­nya tanpa a­da larangan oleh pemerintah setempat dengan mengurus ad­minstrasi persyaratan tinggal setelah mereka menetap dan be­la­jar. Walaupun demikian selama beliau di Medinah dan Mekkah beliau rajin sekali mengikuti halqah ilmu yang disampaikan syech-syech yang mengambil tem­pat di Mes­jid Nabawi dan di mesjidil Haram. Belajar yang diperoleh beliau adalah saat melaksanakan Ar­ba’in di Madinah dan saat melaksanakan rukun haji di Mekkah.Kedua, beliau te­lah berkeluarga dan telah mempunyai satu orang anak yang masih kecil, tentu sa­ja sangat mem­butuhkan kebe­radaan beliau. Ketiga, beliau harus segera pulang untuk mendidik santri-santri di Mimbariyah dan masyarakat Krueng Batee yang sangat membutuhkan beliau. Saat be­liau be­rang­kat menunaikan ibadah haji Dayah Mimbariyah memi­li­ki santri yang sangat banyak sehingga seluruh ba­ha­gi­an luar pekarangan masjid Mukhlisin di Krueng Ba­tee dipenuhi oleh rangkang-rangkang santri. Tentu sa­ja Dayah ini sangat memerlukan  kepemimpinan Abu­ya. Tanpa be­li­au dayah Mimbariyah akanterhentike­gi­atannya, dan ten­tu saja keadaan itu tidak diinginkan oleh beliau. Ke empat, Pesantren Bustanul Huda mem­butuhkan tenaga beliau un­tuk membantu Abu Syech Mud (guru dan sekaligus mertua beliau) dalam me­ngajar dan mengatur pendidikan para san­tri. Ka­rena selama kurun waktu itu banyak kegiatan di Bus­tanul Huda yang sudah dilimpahkan untuk dikelola be­liau, misalnya mengajar santri, menjadi khatib tetap di mas­jid jamik Baitul Adhiem Blangpidie dan beberapa ke­giatan lain. Boleh jadi, karena beberapa per­tim­ba­ngan itu­lah sehingga beliau tidak meninggalkan diri di Mekkah saat itu dan pulang bersama rombongan. Be­nar saja setelah kem­bali beliau disibukkan oleh kegi­a­tan mengajar di dayah dan memberi pengetahuan ma­syarakat baik di Blangpidie mau­pun di Krueng Ba­tee dan sekitarnya.





                                           Abuya  Syech H. Abdul Hamid Kamal menyampaikan Khutbah
                                                     di Mesjid Jamik Baitul Adhim Balang Pidie.




                                                                   Abuya dan Mastarakat Krueng Batee


Suplemen
Pendidikan Umat

Keberadaan leube, tungku dan ulama adalah untukmen­di­dik umat dari mereka tidak tahu menjadi fa­ham,dari be­lum mengamalkan syariat menjadi ahli syariat. Itulah tu­juan adanya teungku, leube dan ula­ma. Dalam struktur masyarakat Aceh para pemuka agama itu terbagi dalam berbagai tingkatan. Teungku yang membina masyarakat di gampong dibanyak daerah disebut teungku Sago atau teungku menasah. Di tingkat Kemukiman ada teungku yang gelar Imum Syik. Imum Syik adalah teungku yang men­jadi imam dan khatib di masjid tingkat kemukiman. Mereka juga berkewajiban unyuk membina dan pendidik umat di daerahnya. Tetapi ada pula teungku yang lebih alim dari imum syik, biasanya teungku yang mengelola tempat pengajian dan mengajarkan anak-anak dan re­ma­ja tentang agama serta membuka pengajian, majlis tab­ligh dan wirid untuk masyarakat.
   Abuya Syech. H. Abdul Hamid Kamal mewaqafkan se­lu­ruh hidupnya untuk ummat. Seluruh aktivitas yang dila­kukan beliau sebahagiam besar hanya men­didik umat. Walau­pun pola aktivitas di Krueng Batee dan Blangpidie tidak sama tetapi nyatanya hamper seluruh aktivitas beliau hanya dalam mendidik umat. Di Kreung Batee misalnya, beliau sudah berada di sana setiap Senin sampai dengan Kamis, hamper seluruh waktunya dalam mengajar. Me­mang selama di Krueng Batee kegiatan beliau berada di Dayah dan mengajar santri, tetapi diwaktu malam mem­beri pula kuliyah kepada masyarakat di masjid Mukhlisin, di Dayah Ibu-Ibu dan di beberapa tempat lainnya. Saban hari ak­ti­vi­tas beliau penuh dan jadwalnya tidak berubah.
   Di Blangpidiepun kegiatan beliau sangat padat. Jika di Krueng Batee aktivitas lebih banyak mendidik santri di Da­yah Raudhatul Ulum, tetapi di Blangpidie lebih banyak mem­beri pengajian dan kuliyah kepada ma­sya­rakat. Beliau be­rada di Blangpidie sejak sore Kamis sam­pai sore Minggu. Se­lama jadwal itu seluruh wak­tu­nya dalam memndidik um­mat.
   Suatu ketika Teuku Badai Mahmud (Let TeBe) purna­wirawan me­­liter dan mantan anggota DPRD Aceh Se­la­tan me­nya­ran­kan agar abuya mengurangi kegia­tan­nya. “abu… kegiatan seperti itu enggak bagus. Abu ha­rus ada istirahat yang cukup, berolah raga dan rekreasi” katanya menyaran­kan, setelah melihat jad­wal abu yang begitu penuh. Abuya dengan santai men­jawab, “ia pak Let, jika kerja dengan pemerintah ada jadwal istirahat, ada cuti, ada jalan-jalan. Tapi yang ini tugas teungku. Allah suruh teungku ber­ke­wa­jiban untuk berdakwah dan mendidik umat. Tugas itu enggak ada cuti, karena teungku telah mewaqafkan umur dan dirinya ke jalan Allah, makanya cuti dan istirahat sambil jalan saja” kata beliau santai. Allahu akbar, itulah jika komitmen umur telah diwaqafkan. (**)
Abuya pada suatu kegiatan bersama Pemda Aceh Selatan


                                                                     Abuya dengan murid-murid dan masyarakat


                                                                                Abuya fot doc. 1973





VI.     BERUMAH TANGGA

1.     Datang seulangkee

Sekarang telah tibalah waktunya, Teungku Abdul Ha­mid menjadi pemuda yang matang, umurnya telah 21 atau 22 tahun. Masyarakat mulai meushah-shah (berbisik-bisik) tentang kehi­dupan beliau untuk masa depan. Beliau telah layak men­dapatkan jodoh, se­hing­ga kehidupan beliau ti­dak sendiri seperti sekarang ini.Tokoh-tokoh masyarakat dikemu­kim­an itu mulai be­rembuk. Hasil rembukan akan diutus be­berapa tokoh masyarakat untuk menjumpai Abu Kama di Tangan-Tangan. Datanglah Teungku Sida Maksae dan be­be­ra­pa orang lainnya men­jumpai Abu Kama dan mena­nya­kan tentang apakah Teungku Abdul Hamid te­lah ada pi­lihan untuk calon keluarga.Jika belum ada, ba­gai­ma­na jika dijo­doh­kan dengan putri Abu Syech Mud Blangpidie.
Mendengar saran dari tokoh masyarakat Krueng Ba­­tee itu Abu Kama lama terdiam, pikirannya kacau dan bim­bang.Apakah layak Abdul Hamid menjadi me­nan­tu Abu Syech Mud seorang ulama yang sangat dihorma­ti.Per­tanyaan dan kebimbangan itulah yang menera­wang dalam pikirannya.Agaknya, tokoh ma­sya­rakat paham betul ter­ha­dap galaunya pikiran Abu Kama saat itu sehingga me­rekapun me­nyampaikan pikirannya.“Jika Abu Kama se­pakat dan setuju, biar kami yang datang untuk bermohon kepada Abu Syech Mud”, kata mereka.
Tidak lama berselang, datanglah beberapa tokoh ma­sya­rakat kemu­kim­an Krueng Batee menjumpai Abu Syech Mud di Blangpidie. Maksudtujuan mereka da­tang hanya untuk menyambung kalam un­tukme­nyam­pai­kan maksud masyarakat agar Teungku Abdul Hamid dapat dijodohkan de­ngan putri Abu. Abu Syech Mud menyambut baik ke­da­tang­an mereka dan me­ma­ha­mi apa yang mereka sam­paikan.
Abu memiliki dua orang anak perempuan yaitu yang tertua ber­nama Cut Ridhwan dan adiknya ber­na­ma Cut Asmanidar.Sebe­narnya anak abu Syech Mud ada tiga orang. Yang tertua adalah laki-laki yanglahir pada tahun 1933 di Lamlhom Lhoknga Aceh Besar, te­tapi meninggal dunia beberapa hari setelah dilahir­kan.Baru pada ta­hun 1935 lahir putri pertama beliau di Lamlhom Lhoknga. Setelah a­nak tersebut kuat dan be­r­umur sekitar 2 tahun, dengan menumpang kapal laut,Abu Syech Mud membawa keluarga beliau Cut Maryam un­tuk tinggal bersama di Blangpidie. Dan pada tahun 1941 lahir pula putri kedua beliau.
Anak Abu Syech Mud besar dan bersekolah di Blang­­­pidie.Walaupun anak beliau perempuan, yang sa­at itu pandangan masya­ra­kat tidak layak untuk ber­se­kolah di sekolah buatan Belanda, tetapiAbu Syech Mud juga me­nye­kolahkannya di sekolah umum yang di­bangun Belanda.Sekolah rendah 3 tahun diikutinya di sekolah yang di­bangun Belanda di keudee Siblah Blangpidie.Setelah tamat sekolah tersebut mereka se­lanjutnya melanjutkan pendidikan di sekolah dini­yah putri Darussalam Labuhan Haji yang di bangun oleh Abuya Syech Muda Wali Al kha­lidi.
Saat datang tokoh masyarakat Kemukiman Krueng Ba­tee men­­jumpaiAbu Syech Mud untukmenyam­pai­kan maksud ingin men­jo­dohkan Teungku Abdul Hamid dengan anak abu, saat itu anak-anak abu syech Mud se­dang berada di Darussalam Labuhan Haji.Pendek kata, ke­inginan masyarakat kemukiman Krueng Batee un­tuk menjodohkan Teungku Abdul Hamid dengan putri tertua abu Syech Mud yaitu Cut Ridhwan ber­sam­but.
Pada 15 hari bulan Syakban  1372 H atau ber­te­pa­tan dengan 24 April 1951 M mereka dinikahkan di rumah Abu Syech Mud di Blang­pidie.
Saat khenduri walimah Urusy, linto baro diusung dan diturun­kan dari kemukiman Krueng Batee.Teungku Abdul Hamid diantar oleh ra­tu­san masyara­kat sebagai rom­bongan intat linto ke rumah Abu Syech Mud. Turut dalam rombongan  itu Abu Kama dan keluarga.
Tgk. Abdul Hamid saat nikah dan acara walimatul ‘u­rusy tidak turun dari rumah Abu Kama di Tangan-Tangan, tetapi turun dari Kemu­kiman Krueng Batee, karena oleh ma­syarakat tidak melepas­kan­nya dan sudah menganggap sebagai anak mereka. Karena itu, Abu Kama mengalah dan menyetujui bahwa Teungku Abdul Hamid tidak ditu­run­kan dan diantar dari rumah beliau di Tangan-Tangan, tetapi setuju diturunkan dari Krueng Batee, karena Abu Kama melihat bahwa sam­butan masyarakat terhadap Teungku Abdul Hamid sangat tinggi, dan tentu saja Abu Kama tidak ingin me­ma­tahkan semangat yang tinggi dari masayarakat itu.
Setelah menikah, Teungku. Abdul Hamid membagi wak­tunya. Hari Senin sampai Kamis, ia berada di Krueng Batee mengajar masyarakat dan di Dayah Mimbariyah, selebih­nya hari Jumat sampai Minggu be­­­ra­da di Blangpidie. Seiring dengan itu, Teungku Abdul Hamid diangkat pula sebagai khatib Mesjid ja­mik Blangpidie menggantikan Abu yang saat itu sudah sering terserang reumatik.

2.     Kelahiran Putra dan putri
Pasangan Tgk Syech H. Abdul Hamid Kamal dan Hj. Cut Ridh­wan Mahmud dikaruniai 5 orang anak yaitu Zoel Helmi Haridhy lahir08 Oktober 1953, Silman Haridhy lahir 21 Agustus 1955, Musfiari Haridhy lahir 12 September 1957, Ridhani Haridhy lahir 03 Maret 1960 dan Murina Haridhy lahir 29 November 1963. Putra putri beliau dididik secara kombinasi antara pen­didikan formal disekolah umum dengan pen­di­di­kan agama baik di rumah maupun di dayah.
Pendidikan yang dilakukan oleh Abuya kepada anak-anak be­liau saat itu tergolong moderat. Saat itu, para teungku apa lagi ter­go­long ulama seperti beliau tidak ada yang menyekolahkan anak-anak­nya ke sekolah umum. Paling-paling untuk pendidikan umum hanya di­lakukan pada tingkat sekolah dasar atau paling tinggi pada tingkat seko­lah menengah pertama atau sekolah menengah atas. Selebihnya pendidikan formal untuk anak-anak teungku cukup sampai disitu, se­lan­jutnya diantar ke berbagai lembaga dayah atau pesantren. Jika ti­dak dilakukan seperti itu, maka teung­ku tersebut akan dihujat oleh banyak pihak.
Sistem pendidikan seperti itu tidak berlaku dalam ke­luarga Abuya Teungku Syech H. Abdul Hamid Kamal. Beliau memandang pen­di­dikan formal harus ditem­puh oleh anak-anak. Agar anak-anak tidak salah jalan di kemu­dian hari setelah dewasa, maka pendidikan untuk anak-anak tidak semata-mata hanya pendidikan formal saja, tetapi harus dibekali dengan pendidikan agama yang kuat. Dengan demikian anak-anak akan memahami agama seca­ra baik dan akan menghasilkan generasi teknokrat yang agamis yang mampu me­man­faatkan potensi yang ada sesuai dengan keinginan aga­ma dan anjuran agamanya. Boleh jadi, beliau sangat memahami bahwa mengarahkan anak-anak un­tukmengikuti keinginan orang tua saja akan men­ja­di sia-sia juga. Banyak orang tua yang memaksakan ke­inginannya dalam pendidikan terhadap anaknya akan menjadi “arang habis besi binasa”. Banyak orang tua yang tergolong berada (mampu) saat itu, me­nga­rah­kan pen­di­dikan untuk anaknya keluar daerah tan­pa membekali bah­wa pendidikan yang ditempuh­nya itu pada dasarnya bukan untuk orang tua tetapiuntuk diri sendiri, karena banyakyangtidak paham ter­hadap itu maka anak-anak hanya mengikuti keinginan orang tuanya saja, tetapi mereka tidak menggunakan poten­si­nya untuk belajar yang baik, akhirnya banyak yang pulang hampa tanpa hasil apa-apa.
Sistem pendidikan yang dikembangkan abuya mung­kin ber­be­da dari apa yang dilakukan oleh banyak o­rang. Sejak pendidikan awal abuya meng­kom­bi­na­si­kan pendidikan formal dengan pendidikan aga­ma. Sebelum se­orang anak belajar di sekolah dasar (se­ko­lah formal) harus telah diajarkan pendidikan agama dirumah. Pendidikan agama yang paling dasar diajarkan adalah thaharah (bersuci), shalat (gerakan dan doa-doanya), dan diajarkan membaca al quran. Seluruh pengajar­an tersebut memang masih dalam bentuk pendidikan dasar. Abuya menerapkan pen­didikan da­sar-dasar agama terhadap anak-anaknya mulai umur 4 tahun bahkan mungkin lebih awal lagi dari itu. Pa­da umur balita itu telah diperkenalkan pendidikan aga­ma,missal­nya, tentang udhuk, gerakan shalat, bacaan shalat dan mengenalkan huruf arab.
Pada tahun 50-an methode iqra’ seperti sekarang be­­lum di­ke­nal dan belum ditemukan. Anak-anak be­la­jar Al-Quran melalui juz amma yang isinya perkenalan terhadap huruf arab dan merangkaikan huruf-huruf arab dalam bentuk kalimat. Seorang anak harus me­na­mat­kan juzamma dan memahami­nya terlebih da­hulu baru dapat me­lanjutkannya pada bacaan Al-Quran. Sistem belajar se­perti itu saat inidianggap tidak praktis karena seorang anak memerlukan waktu yang lama untuk menamatkan juz amma, tidak jarang anak-anak yang sedikit “benak” ha­tinya memerlukan waktu lebih dari setahun dalam belajar di juz amma itu saja. Tetapi abuya untuk mengajarkan bacaan Al-Quran kepada anak-anak beliau yang masih kecil tidak mengguna­kan juz amma sebagaimana lazim digu­na­kan saat itu, tetapi beliau menu­lisnya sendiri pada bu­ku beberapa halaman saja dalam bentuk pengenalan huruf, membariskan huruf, menyambung huruf dalam bentuk kalimat dari kalimat pendek menuju ke kalimat sedang dan panjang. Boleh jadi, dengan system pe­nga­jaran itu sianak hanya beberapa minggu saja da­lam memahami system be­la­jar tersebut dan langsung dapat pindah ke alquran. Pola belajar al quran itu te­lah diterapkan abuya pada akhir ta­hun 1950-an, pada saat beliau mengajarkan anak-anaknya membaca al quran jauh sebelum methode iqra’ ditemukan bela­ka­ngan ini (uraian system pendidikan akan dibahas lebih lanjut).
Anak beliau yang laki-laki dapat menyelesaikan pen­­di­di­kan di ber­bagai fakultas pada Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala dan telah me­lan­jutkan pada jenjang pendi­di­kan di atasnya. Adapun anak perem­puan be­liau hanya ber­sekolah formal sampai tingkat sekolah menengah atas baik umum maupun kejuruan.
Anak beliau yang tertua Teungku H. Zoel Helmi Haridhy, se­telah belajar di Dayah Raudhatul Ulum, melanjutkan pen­didikan S1 di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), dan menye­le­saikan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Managemen (STIM) Medan. Sedangkan putra ke dua Teungku H. Silman Haridhy  menye­lesaikan S1 di Fakultas Pertanian Un­syiah tahun 1982, dan menye­le­saikan S2 di Institute Pertanian Bogor (IPB) tahun 1999. Adapun putra ke tiga Teunghku H. Musfiari Haridhy menye­lesaikan S1 di FakultasEkonomi Unsyiah dan menyelesaikan S2 di Ohio University  Amerika Serikat.Adapun anak perempuan beliau yaitu Teungku Ridhani Haridhy, Teungku Murina Haridhy (almh), Teungku Wardina Haridhy dan Teungku Haryani Haridhy hanya menyelesaikan sekolah formal lanjutan.
Disamping itu, menantu beliau terdiri dari Hj. Nur Syardi SAg lahir di Sawang Ba’u Aceh Selatan 08 Juni 1963, alumnus dari IAIN Arraniry Darus­salam, se­ka­rang menetap di Blangpidie dan saat ini bertugas se­ba­gai guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Blang­pidie. Selanjutnya Hj. Laila Junaina SPd, lahir di Blang­pidie 09 Januari 1965 meru­pa­kan alumnus Universitas Abul­yatama  Aceh Besar jurusan Bahasa Inggris saat ini bertugas sebagai guru pada SMA Negeri 1 Blang­pidie dan tinggal di Blangpidie. Dra. Hj. Fikriah, MSi lahir di Banda Aceh 12 Agustus 1958 me­ru­pakan alumnus dari Fakultas Ekonomi Unsyiah dan saat ini bertugas sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah  dan ting­gal di Banda Aceh. Menantu Abuya  selan­jut­nya adalah M. Daud Ali (alm) meninggal dunia di Ban­da Aceh tahun 2004, saat ini keluarganya (Ridhani Haridhy) tinggal di Banda Aceh. Selanjutnya Adnan Sulaiman SH lahir di Blang­pidie pada tahun 1962, saat ini sebagai bertugas sebagai PNS Aceh Barat Daya dan tinggal di Blangpidie. Adapun me­nantu dari anak pada Umi Radhiah adalah Mu­hammad Nyak Daud SPd dan Akha Rahmad Fauzari SP.
Putra-Putri, menantu dan cucu dari Pasangan Abu­ya Syech H. Abdul Hamid Kamal dan Umi Hj. Cudhwan Mah­mud dan Umi Radhiah sebagaimana tertera dalam tablelLampiran.

3.     Menunaikan ibadah haji

Pada tahun 1954, Tgk Abdul Hamid Kamal menu­nai­kan ibadah Haji. Perjalanan menunaikan ibadah Hajike Mek­kah saat itu meng­gu­na­kan kapal laut yang meng­habiskan waktu tidak kurang dari enam bulan. Saat menunaikan ibadah haji beliau tidak mengambil kesem­pa­tan tinggaldi Mekkah atau Madinah untuk belajar sebagaimana sering dilakukan oleh orang-orang yang ingin menambah ilmu di Mekkah atau Ma­di­nah saat itu. Beliau tidak tinggal sebagai orang yang be­­lajar di Mekkah sebagaimana juga lazim dilakukan oleh jamaah yang ingin melanjutkan belajar di Arab, walaupun kesempatan itu bisa saja dilakukan. Pada masa itu orang yang berkeinginan belajar dan me­nun­tut ilmu agama diberi kebebasan tinggal di Mekkah atau Ma­di­nah. Tetapi kesempatan itu tidak diambil beliau. Teungku Ab­dul Hamid setelah se­lesai mela­ku­kan ibadah haji lang­sung pulang bersama rombongan ke Aceh karena di­sebabkan oleh sekurang-kurang ada empat alasan: Pertama,Pada sa­at berangkat dulu be­liau menyampaikan kepada gurunya Abu Syech T. Mahmud hanya menunaikan ibadah hajji ti­dak me­nyam­paikan bahwa kemungkinan untuk tinggal di Mekkah atau Madinah untuk menuntut ilmu agama. Ka­re­na itu izin yang disampaikan kepada Abu Syech Mud dan Abu Kamaluddin (abu Kama ayah beiiau) hanya untuk me­nu­naikan Ibadah haji bukan untuk tu­ju­an yang lain, mi­sal­nya untuk melanjutkan pendi­di­kan di Arab. Karenanya, wa­laupun saat itu jamaah haji dapat saja ting­gal di Mekkah atau Madinah untuk melanjutkan pen­didi­kan­nya tanpa a­da larangan oleh pemerintah setempat dengan mengurus ad­minstrasi persyaratan tinggal setelah mereka menetap dan be­la­jar. Walaupun demikian selama beliau di Medinah dan Mekkah beliau rajin sekali mengikuti halqah ilmu yang disampaikan syech-syech yang mengambil tem­pat di Mes­jid Nabawi dan di mesjidil Haram. Belajar yang diperoleh beliau adalah saat melaksanakan Ar­ba’in di Madinah dan saat melaksanakan rukun haji di Mekkah.Kedua, beliau te­lah berkeluarga dan telah mempunyai satu orang anak yang masih kecil, tentu sa­ja sangat mem­butuhkan kebe­radaan beliau. Ketiga, beliau harus segera pulang untuk mendidik santri-santri di Mimbariyah dan masyarakat Krueng Batee yang sangat membutuhkan beliau. Saat be­liau be­rang­kat menunaikan ibadah haji Dayah Mimbariyah memi­li­ki santri yang sangat banyak sehingga seluruh ba­ha­gi­an luar pekarangan masjid Mukhlisin di Krueng Ba­tee dipenuhi oleh rangkang-rangkang santri. Tentu sa­ja Dayah ini sangat memerlukan  kepemimpinan Abu­ya. Tanpa be­li­au dayah Mimbariyah akanterhentike­gi­atannya, dan ten­tu saja keadaan itu tidak diinginkan oleh beliau. Ke empat, Pesantren Bustanul Huda mem­butuhkan tenaga beliau un­tuk membantu Abu Syech Mud (guru dan sekaligus mertua beliau) dalam me­ngajar dan mengatur pendidikan para san­tri. Ka­rena selama kurun waktu itu banyak kegiatan di Bus­tanul Huda yang sudah dilimpahkan untuk dikelola be­liau, misalnya mengajar santri, menjadi khatib tetap di mas­jid jamik Baitul Adhiem Blangpidie dan beberapa ke­giatan lain. Boleh jadi, karena beberapa per­tim­ba­ngan itu­lah sehingga beliau tidak meninggalkan diri di Mekkah saat itu dan pulang bersama rombongan. Be­nar saja setelah kem­bali beliau disibukkan oleh kegi­a­tan mengajar di dayah dan memberi pengetahuan ma­syarakat baik di Blangpidie mau­pun di Krueng Ba­tee dan sekitarnya.


Sebahagian cucu Abuya

 
















Abuya foto doc 1973

Abuya dan umi di tahuan 1970-an.

Abuya Syech H. Abdul Hamid Kamal menyampaikan Khutbah
di Mesjid Jamik Baitul Adhim Balang Pidie.
Abuya dan Mastarakat Krueng Batee

Pendidikan Umat

Keberadaan leube, tungku dan ulama adalah untukmen­di­dik umat dari mereka tidak tahu menjadi fa­ham,dari be­lum mengamalkan syariat menjadi ahli syariat. Itulah tu­juan adanya teungku, leube dan ula­ma. Dalam struktur masyarakat Aceh para pemuka agama itu terbagi dalam berbagai tingkatan. Teungku yang membina masyarakat di gampong dibanyak daerah disebut teungku Sago atau teungku menasah. Di tingkat Kemukiman ada teungku yang gelar Imum Syik. Imum Syik adalah teungku yang men­jadi imam dan khatib di masjid tingkat kemukiman. Mereka juga berkewajiban unyuk membina dan pendidik umat di daerahnya. Tetapi ada pula teungku yang lebih alim dari imum syik, biasanya teungku yang mengelola tempat pengajian dan mengajarkan anak-anak dan re­ma­ja tentang agama serta membuka pengajian, majlis tab­ligh dan wirid untuk masyarakat.
   Abuya Syech. H. Abdul Hamid Kamal mewaqafkan se­lu­ruh hidupnya untuk ummat. Seluruh aktivitas yang dila­kukan beliau sebahagiam besar hanya men­didik umat. Walau­pun pola aktivitas di Krueng Batee dan Blangpidie tidak sama tetapi nyatanya hamper seluruh aktivitas beliau hanya dalam mendidik umat. Di Kreung Batee misalnya, beliau sudah berada di sana setiap Senin sampai dengan Kamis, hamper seluruh waktunya dalam mengajar. Me­mang selama di Krueng Batee kegiatan beliau berada di Dayah dan mengajar santri, tetapi diwaktu malam mem­beri pula kuliyah kepada masyarakat di masjid Mukhlisin, di Dayah Ibu-Ibu dan di beberapa tempat lainnya. Saban hari ak­ti­vi­tas beliau penuh dan jadwalnya tidak berubah.
   Di Blangpidiepun kegiatan beliau sangat padat. Jika di Krueng Batee aktivitas lebih banyak mendidik santri di Da­yah Raudhatul Ulum, tetapi di Blangpidie lebih banyak mem­beri pengajian dan kuliyah kepada ma­sya­rakat. Beliau be­rada di Blangpidie sejak sore Kamis sam­pai sore Minggu. Se­lama jadwal itu seluruh wak­tu­nya dalam memndidik um­mat.
   Suatu ketika Teuku Badai Mahmud (Let TeBe) purna­wirawan me­­liter dan mantan anggota DPRD Aceh Se­la­tan me­nya­ran­kan agar abuya mengurangi kegia­tan­nya. “abu… kegiatan seperti itu enggak bagus. Abu ha­rus ada istirahat yang cukup, berolah raga dan rekreasi” katanya menyaran­kan, setelah melihat jad­wal abu yang begitu penuh. Abuya dengan santai men­jawab, “ia pak Let, jika kerja dengan pemerintah ada jadwal istirahat, ada cuti, ada jalan-jalan. Tapi yang ini tugas teungku. Allah suruh teungku ber­ke­wa­jiban untuk berdakwah dan mendidik umat. Tugas itu enggak ada cuti, karena teungku telah mewaqafkan umur dan dirinya ke jalan Allah, makanya cuti dan istirahat sambil jalan saja” kata beliau santai. Allahu akbar, itulah jika komitmen umur telah diwaqafkan. (**)
Abuya pada suatu kegiatan bersama Pemda Aceh Selatan


             Abuya dengan murid-murid dan masyarakat


          Abuya fot doc. 1973

Komentar

Postingan populer dari blog ini