BAGIAN KE DELAPAN
Silman Haridhy
Unit
PerpustakaanYayasan AHKAM
Silman Haridhy
BIOGRAFI
ABUYA SYECH H. ABDUL HAMID KAMAL
"Ulama Bersifat Diplomat"
DAYAH RAUDHATUL ULUM
VI.
BERUMAH TANGGA
1. Datang seulangkee
Sekarang
telah tibalah waktunya, Teungku Abdul Hamid menjadi pemuda yang matang,
umurnya telah 21 atau 22 tahun. Masyarakat mulai meushah-shah (berbisik-bisik) tentang kehidupan beliau untuk masa
depan. Beliau telah layak mendapatkan jodoh, sehingga kehidupan beliau tidak
sendiri seperti sekarang ini.Tokoh-tokoh masyarakat dikemukiman itu mulai berembuk.
Hasil rembukan akan diutus beberapa tokoh masyarakat untuk menjumpai Abu Kama
di Tangan-Tangan. Datanglah Teungku Sida Maksae dan beberapa orang lainnya
menjumpai Abu Kama dan menanyakan tentang apakah Teungku Abdul Hamid telah
ada pilihan untuk calon keluarga.Jika belum ada, bagaimana jika dijodohkan
dengan putri Abu Syech Mud Blangpidie.
Mendengar
saran dari tokoh masyarakat Krueng Batee itu Abu Kama lama terdiam,
pikirannya kacau dan bimbang.Apakah layak Abdul Hamid menjadi menantu Abu
Syech Mud seorang ulama yang sangat dihormati.Pertanyaan dan kebimbangan
itulah yang menerawang dalam pikirannya.Agaknya, tokoh masyarakat paham
betul terhadap galaunya pikiran Abu Kama saat itu sehingga merekapun menyampaikan
pikirannya.“Jika Abu Kama sepakat dan setuju, biar kami yang datang untuk
bermohon kepada Abu Syech Mud”, kata mereka.
Tidak lama
berselang, datanglah beberapa tokoh masyarakat kemukiman Krueng Batee
menjumpai Abu Syech Mud di Blangpidie. Maksudtujuan mereka datang hanya untuk
menyambung kalam untukmenyampaikan maksud masyarakat agar Teungku Abdul
Hamid dapat dijodohkan dengan putri Abu. Abu Syech Mud menyambut baik kedatangan
mereka dan memahami apa yang mereka sampaikan.
Abu memiliki dua
orang anak perempuan yaitu yang tertua bernama Cut Ridhwan dan adiknya bernama
Cut Asmanidar.Sebenarnya anak abu Syech Mud ada tiga orang. Yang tertua adalah
laki-laki yanglahir pada tahun 1933 di Lamlhom Lhoknga Aceh Besar, tetapi
meninggal dunia beberapa hari setelah dilahirkan.Baru pada tahun 1935 lahir
putri pertama beliau di Lamlhom Lhoknga. Setelah anak tersebut kuat dan berumur
sekitar 2 tahun, dengan menumpang kapal laut,Abu Syech Mud membawa keluarga
beliau Cut Maryam untuk tinggal bersama di Blangpidie. Dan pada tahun 1941
lahir pula putri kedua beliau.
Anak Abu Syech Mud
besar dan bersekolah di Blangpidie.Walaupun anak beliau perempuan, yang saat
itu pandangan masyarakat tidak layak untuk bersekolah di sekolah buatan
Belanda, tetapiAbu Syech Mud juga menyekolahkannya di sekolah umum yang dibangun
Belanda.Sekolah rendah 3 tahun diikutinya di sekolah yang dibangun Belanda di
keudee Siblah Blangpidie.Setelah tamat sekolah tersebut mereka selanjutnya
melanjutkan pendidikan di sekolah diniyah putri Darussalam Labuhan Haji yang
di bangun oleh Abuya Syech Muda Wali Al khalidi.
Saat datang tokoh
masyarakat Kemukiman Krueng Batee menjumpaiAbu Syech Mud untukmenyampaikan
maksud ingin menjodohkan Teungku Abdul Hamid dengan anak abu, saat itu
anak-anak abu syech Mud sedang berada di Darussalam Labuhan Haji.Pendek kata,
keinginan masyarakat kemukiman Krueng Batee untuk menjodohkan Teungku Abdul
Hamid dengan putri tertua abu Syech Mud yaitu Cut Ridhwan bersambut.
Pada 15 hari
bulan Syakban 1372 H atau bertepatan
dengan 24 April 1951 M mereka dinikahkan di rumah Abu Syech Mud di Blangpidie.
Saat khenduri walimah Urusy, linto baro diusung
dan diturunkan dari kemukiman Krueng Batee.Teungku Abdul Hamid diantar oleh ratusan
masyarakat sebagai rombongan intat
linto ke rumah Abu Syech Mud. Turut dalam rombongan itu Abu Kama dan keluarga.
Tgk. Abdul Hamid
saat nikah dan acara walimatul ‘urusy
tidak turun dari rumah Abu Kama di Tangan-Tangan, tetapi turun dari Kemukiman
Krueng Batee, karena oleh masyarakat tidak melepaskannya dan sudah menganggap
sebagai anak mereka. Karena itu, Abu Kama mengalah dan menyetujui bahwa Teungku
Abdul Hamid tidak diturunkan dan diantar dari rumah beliau di Tangan-Tangan,
tetapi setuju diturunkan dari Krueng Batee, karena Abu Kama melihat bahwa sambutan
masyarakat terhadap Teungku Abdul Hamid sangat tinggi, dan tentu saja Abu Kama
tidak ingin mematahkan semangat yang tinggi dari masayarakat itu.
Setelah menikah,
Teungku. Abdul Hamid membagi waktunya. Hari Senin sampai Kamis, ia berada di
Krueng Batee mengajar masyarakat dan di Dayah Mimbariyah, selebihnya hari
Jumat sampai Minggu berada di Blangpidie. Seiring dengan itu, Teungku Abdul
Hamid diangkat pula sebagai khatib Mesjid jamik Blangpidie menggantikan Abu
yang saat itu sudah sering terserang reumatik.
2. Kelahiran Putra dan putri
Pasangan Tgk Syech
H. Abdul Hamid Kamal dan Hj. Cut Ridhwan Mahmud dikaruniai 5 orang anak yaitu
Zoel Helmi Haridhy lahir08 Oktober 1953, Silman Haridhy lahir 21 Agustus 1955,
Musfiari Haridhy lahir 12 September 1957, Ridhani Haridhy lahir 03 Maret 1960
dan Murina Haridhy lahir 29 November 1963. Putra putri beliau dididik secara
kombinasi antara pendidikan formal disekolah umum dengan pendidikan agama
baik di rumah maupun di dayah.
Pendidikan yang dilakukan
oleh Abuya kepada anak-anak beliau saat itu tergolong moderat. Saat itu, para
teungku apa lagi tergolong ulama seperti beliau tidak ada yang menyekolahkan
anak-anaknya ke sekolah umum. Paling-paling untuk pendidikan umum hanya dilakukan
pada tingkat sekolah dasar atau paling tinggi pada tingkat sekolah menengah
pertama atau sekolah menengah atas. Selebihnya pendidikan formal untuk
anak-anak teungku cukup sampai disitu, selanjutnya diantar ke berbagai
lembaga dayah atau pesantren. Jika tidak dilakukan seperti itu, maka teungku
tersebut akan dihujat oleh banyak pihak.
Sistem pendidikan
seperti itu tidak berlaku dalam keluarga Abuya Teungku Syech H. Abdul Hamid
Kamal. Beliau memandang pendidikan formal harus ditempuh oleh anak-anak.
Agar anak-anak tidak salah jalan di kemudian hari setelah dewasa, maka
pendidikan untuk anak-anak tidak semata-mata hanya pendidikan formal saja,
tetapi harus dibekali dengan pendidikan agama yang kuat. Dengan demikian
anak-anak akan memahami agama secara baik dan akan menghasilkan generasi
teknokrat yang agamis yang mampu memanfaatkan potensi yang ada sesuai dengan
keinginan agama dan anjuran agamanya. Boleh jadi, beliau sangat memahami bahwa
mengarahkan anak-anak untukmengikuti keinginan orang tua saja akan menjadi
sia-sia juga. Banyak orang tua yang memaksakan keinginannya dalam pendidikan
terhadap anaknya akan menjadi “arang habis besi binasa”. Banyak orang tua yang
tergolong berada (mampu) saat itu, mengarahkan pendidikan untuk anaknya
keluar daerah tanpa membekali bahwa pendidikan yang ditempuhnya itu pada
dasarnya bukan untuk orang tua tetapiuntuk diri sendiri, karena banyakyangtidak
paham terhadap itu maka anak-anak hanya mengikuti keinginan orang tuanya saja,
tetapi mereka tidak menggunakan potensinya untuk belajar yang baik, akhirnya
banyak yang pulang hampa tanpa hasil apa-apa.
Sistem pendidikan
yang dikembangkan abuya mungkin berbeda dari apa yang dilakukan oleh banyak
orang. Sejak pendidikan awal abuya mengkombinasikan pendidikan formal
dengan pendidikan agama. Sebelum seorang anak belajar di sekolah dasar (sekolah
formal) harus telah diajarkan pendidikan agama dirumah. Pendidikan agama yang
paling dasar diajarkan adalah thaharah (bersuci), shalat (gerakan dan
doa-doanya), dan diajarkan membaca al quran. Seluruh pengajaran tersebut
memang masih dalam bentuk pendidikan dasar. Abuya menerapkan pendidikan dasar-dasar
agama terhadap anak-anaknya mulai umur 4 tahun bahkan mungkin lebih awal lagi
dari itu. Pada umur balita itu telah diperkenalkan pendidikan agama,missalnya,
tentang udhuk, gerakan shalat, bacaan shalat dan mengenalkan huruf arab.
Pada tahun 50-an
methode iqra’ seperti sekarang belum dikenal dan belum ditemukan. Anak-anak
belajar Al-Quran melalui juz amma yang isinya perkenalan terhadap huruf arab
dan merangkaikan huruf-huruf arab dalam bentuk kalimat. Seorang anak harus menamatkan
juzamma dan memahaminya terlebih dahulu baru dapat melanjutkannya pada
bacaan Al-Quran. Sistem belajar seperti itu saat inidianggap tidak praktis
karena seorang anak memerlukan waktu yang lama untuk menamatkan juz amma, tidak
jarang anak-anak yang sedikit “benak” hatinya memerlukan waktu lebih dari
setahun dalam belajar di juz amma itu saja. Tetapi abuya untuk mengajarkan bacaan
Al-Quran kepada anak-anak beliau yang masih kecil tidak menggunakan juz amma
sebagaimana lazim digunakan saat itu, tetapi beliau menulisnya sendiri pada
buku beberapa halaman saja dalam bentuk pengenalan huruf, membariskan huruf,
menyambung huruf dalam bentuk kalimat dari kalimat pendek menuju ke kalimat
sedang dan panjang. Boleh jadi, dengan system pengajaran itu sianak hanya
beberapa minggu saja dalam memahami system belajar tersebut dan langsung
dapat pindah ke alquran. Pola belajar al quran itu telah diterapkan abuya pada
akhir tahun 1950-an, pada saat beliau mengajarkan anak-anaknya membaca al
quran jauh sebelum methode iqra’ ditemukan belakangan ini (uraian system
pendidikan akan dibahas lebih lanjut).
Anak beliau yang
laki-laki dapat menyelesaikan pendidikan di berbagai fakultas pada
Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala dan telah melanjutkan pada jenjang
pendidikan di atasnya. Adapun anak perempuan beliau hanya bersekolah
formal sampai tingkat sekolah menengah atas baik umum maupun kejuruan.
Anak beliau yang
tertua Teungku H. Zoel Helmi Haridhy, setelah belajar di Dayah Raudhatul Ulum,
melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala
(Unsyiah), dan menyelesaikan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Managemen (STIM)
Medan. Sedangkan putra ke dua Teungku H. Silman Haridhy menyelesaikan S1 di Fakultas Pertanian Unsyiah
tahun 1982, dan menyelesaikan S2 di Institute Pertanian Bogor (IPB) tahun
1999. Adapun putra ke tiga Teunghku H. Musfiari Haridhy menyelesaikan S1 di
FakultasEkonomi Unsyiah dan menyelesaikan S2 di Ohio University Amerika Serikat. Adapun anak perempuan beliau
yaitu Teungku Ridhani Haridhy, Teungku Murina Haridhy (almh), Teungku Wardina
Haridhy dan Teungku Haryani Haridhy hanya menyelesaikan sekolah formal
lanjutan.
Di samping itu, menantu beliau terdiri
dari Hj. Nur Syardi SAg lahir di Sawang Ba’u Aceh Selatan 08 Juni 1963, alumnus
dari IAIN Arraniry Darussalam, sekarang menetap di Blangpidie dan saat ini
bertugas sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Blangpidie.
Selanjutnya Hj. Laila Junaina SPd, lahir di Blangpidie 09 Januari 1965 merupakan
alumnus Universitas Abulyatama Aceh
Besar jurusan Bahasa Inggris saat ini bertugas sebagai guru pada SMA Negeri 1 Blangpidie
dan tinggal di Blangpidie. Dra. Hj. Fikriah, MSi lahir di Banda Aceh 12 Agustus
1958 merupakan alumnus dari Fakultas Ekonomi Unsyiah dan saat ini bertugas
sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah
dan tinggal di Banda Aceh. Menantu Abuya selanjutnya adalah M. Daud Ali (alm)
meninggal dunia di Banda Aceh tahun 2004, saat ini keluarganya (Ridhani
Haridhy) tinggal di Banda Aceh. Selanjutnya Adnan Sulaiman SH lahir di Blangpidie
pada tahun 1962, saat ini sebagai bertugas sebagai PNS Aceh Barat Daya dan
tinggal di Blangpidie. Adapun menantu dari anak pada Umi Radhiah adalah Muhammad
Nyak Daud SPd dan Akha Rahmad Fauzari SP.
Putra-Putri,
menantu dan cucu dari Pasangan Abuya Syech H. Abdul Hamid Kamal dan Umi Hj.
Cudhwan Mahmud dan Umi Radhiah sebagaimana tertera dalam tablelLampiran.
3. Menunaikan ibadah haji
Pada tahun 1954, Tgk Abdul Hamid Kamal menunaikan ibadah Haji.
Perjalanan menunaikan ibadah Hajike Mekkah saat itu menggunakan kapal laut
yang menghabiskan waktu tidak kurang dari enam bulan. Saat menunaikan ibadah
haji beliau tidak mengambil kesempatan tinggaldi Mekkah atau Madinah untuk
belajar sebagaimana sering dilakukan oleh orang-orang yang ingin menambah ilmu
di Mekkah atau Madinah saat itu. Beliau tidak tinggal sebagai orang yang belajar
di Mekkah sebagaimana juga lazim dilakukan oleh jamaah yang ingin melanjutkan
belajar di Arab, walaupun kesempatan itu bisa saja dilakukan. Pada masa itu
orang yang berkeinginan belajar dan menuntut ilmu agama diberi kebebasan
tinggal di Mekkah atau Madinah. Tetapi kesempatan itu tidak diambil beliau. Teungku
Abdul Hamid setelah selesai melakukan ibadah haji langsung pulang bersama
rombongan ke Aceh karena disebabkan oleh sekurang-kurang ada empat alasan: Pertama,Pada saat berangkat dulu beliau
menyampaikan kepada gurunya Abu Syech T. Mahmud hanya menunaikan ibadah hajji
tidak menyampaikan bahwa kemungkinan untuk tinggal di Mekkah atau Madinah
untuk menuntut ilmu agama. Karena itu izin yang disampaikan kepada Abu
Syech Mud dan Abu Kamaluddin (abu Kama ayah beiiau) hanya untuk menunaikan
Ibadah haji bukan untuk tujuan yang lain, misalnya untuk melanjutkan pendidikan
di Arab. Karenanya, walaupun saat itu jamaah haji dapat saja tinggal di
Mekkah atau Madinah untuk melanjutkan pendidikannya tanpa ada larangan oleh
pemerintah setempat dengan mengurus adminstrasi persyaratan tinggal setelah
mereka menetap dan belajar. Walaupun demikian selama beliau di Medinah dan
Mekkah beliau rajin sekali mengikuti halqah ilmu yang disampaikan syech-syech
yang mengambil tempat di Mesjid Nabawi dan di mesjidil Haram. Belajar yang
diperoleh beliau adalah saat melaksanakan Arba’in di Madinah dan saat
melaksanakan rukun haji di Mekkah.Kedua,
beliau telah berkeluarga dan telah mempunyai satu orang anak yang masih kecil,
tentu saja sangat membutuhkan keberadaan beliau. Ketiga, beliau harus segera pulang untuk mendidik santri-santri di
Mimbariyah dan masyarakat Krueng Batee yang sangat membutuhkan beliau. Saat beliau
berangkat menunaikan ibadah haji Dayah Mimbariyah memiliki santri yang
sangat banyak sehingga seluruh bahagian luar pekarangan masjid Mukhlisin di
Krueng Batee dipenuhi oleh rangkang-rangkang santri. Tentu saja Dayah ini
sangat memerlukan kepemimpinan Abuya.
Tanpa beliau dayah Mimbariyah akanterhentikegiatannya, dan tentu saja
keadaan itu tidak diinginkan oleh beliau. Ke
empat, Pesantren Bustanul Huda membutuhkan tenaga beliau untuk membantu
Abu Syech Mud (guru dan sekaligus mertua beliau) dalam mengajar dan mengatur
pendidikan para santri. Karena selama kurun waktu itu banyak kegiatan di Bustanul
Huda yang sudah dilimpahkan untuk dikelola beliau, misalnya mengajar santri,
menjadi khatib tetap di masjid jamik Baitul Adhiem Blangpidie dan beberapa kegiatan
lain. Boleh jadi, karena beberapa pertimbangan itulah sehingga beliau tidak
meninggalkan diri di Mekkah saat itu dan pulang bersama rombongan. Benar saja
setelah kembali beliau disibukkan oleh kegiatan mengajar di dayah dan
memberi pengetahuan masyarakat baik di Blangpidie maupun di Krueng Batee dan
sekitarnya.
Abuya Syech H.
Abdul Hamid Kamal menyampaikan Khutbah
Abuya dan
Mastarakat Krueng Batee
Suplemen
Pendidikan Umat
Keberadaan
leube, tungku dan ulama adalah untukmendidik umat dari mereka tidak tahu
menjadi faham,dari belum mengamalkan syariat menjadi ahli syariat. Itulah tujuan
adanya teungku, leube dan ulama. Dalam struktur masyarakat Aceh para pemuka
agama itu terbagi dalam berbagai tingkatan. Teungku yang membina masyarakat di
gampong dibanyak daerah disebut teungku Sago atau teungku menasah. Di tingkat
Kemukiman ada teungku yang gelar Imum Syik. Imum Syik adalah teungku yang menjadi
imam dan khatib di masjid tingkat kemukiman. Mereka juga berkewajiban unyuk
membina dan pendidik umat di daerahnya. Tetapi ada pula teungku yang lebih alim
dari imum syik, biasanya teungku yang mengelola tempat pengajian dan
mengajarkan anak-anak dan remaja tentang agama serta membuka pengajian,
majlis tabligh dan wirid untuk masyarakat.
Abuya Syech. H. Abdul Hamid Kamal mewaqafkan
seluruh hidupnya untuk ummat. Seluruh aktivitas yang dilakukan beliau
sebahagiam besar hanya mendidik umat. Walaupun pola aktivitas di Krueng Batee
dan Blangpidie tidak sama tetapi nyatanya hamper seluruh aktivitas beliau hanya
dalam mendidik umat. Di Kreung Batee misalnya, beliau sudah berada di sana
setiap Senin sampai dengan Kamis, hamper seluruh waktunya dalam mengajar. Memang
selama di Krueng Batee kegiatan beliau berada di Dayah dan mengajar santri,
tetapi diwaktu malam memberi pula kuliyah kepada masyarakat di masjid
Mukhlisin, di Dayah Ibu-Ibu dan di beberapa tempat lainnya. Saban hari aktivitas
beliau penuh dan jadwalnya tidak berubah.
Di Blangpidiepun kegiatan beliau sangat
padat. Jika di Krueng Batee aktivitas lebih banyak mendidik santri di Dayah
Raudhatul Ulum, tetapi di Blangpidie lebih banyak memberi pengajian dan
kuliyah kepada masyarakat. Beliau berada di Blangpidie sejak sore Kamis sampai
sore Minggu. Selama jadwal itu seluruh waktunya dalam memndidik ummat.
Suatu ketika Teuku Badai Mahmud (Let TeBe) purnawirawan
meliter dan mantan anggota DPRD Aceh Selatan menyarankan agar abuya
mengurangi kegiatannya. “abu… kegiatan
seperti itu enggak bagus. Abu harus ada istirahat yang cukup, berolah raga dan
rekreasi” katanya menyarankan, setelah melihat jadwal abu yang begitu
penuh. Abuya dengan santai menjawab, “ia
pak Let, jika kerja dengan pemerintah ada jadwal istirahat, ada cuti, ada
jalan-jalan. Tapi yang ini tugas teungku. Allah suruh teungku berkewajiban
untuk berdakwah dan mendidik umat. Tugas itu enggak ada cuti, karena teungku
telah mewaqafkan umur dan dirinya ke jalan Allah, makanya cuti dan istirahat sambil
jalan saja” kata beliau santai. Allahu akbar, itulah jika komitmen umur
telah diwaqafkan. (**)
Abuya pada suatu
kegiatan bersama Pemda Aceh Selatan
Abuya dengan murid-murid dan
masyarakat
VI.
BERUMAH TANGGA
1. Datang seulangkee
Sekarang
telah tibalah waktunya, Teungku Abdul Hamid menjadi pemuda yang matang,
umurnya telah 21 atau 22 tahun. Masyarakat mulai meushah-shah (berbisik-bisik) tentang kehidupan beliau untuk masa
depan. Beliau telah layak mendapatkan jodoh, sehingga kehidupan beliau tidak
sendiri seperti sekarang ini.Tokoh-tokoh masyarakat dikemukiman itu mulai berembuk.
Hasil rembukan akan diutus beberapa tokoh masyarakat untuk menjumpai Abu Kama
di Tangan-Tangan. Datanglah Teungku Sida Maksae dan beberapa orang lainnya
menjumpai Abu Kama dan menanyakan tentang apakah Teungku Abdul Hamid telah
ada pilihan untuk calon keluarga.Jika belum ada, bagaimana jika dijodohkan
dengan putri Abu Syech Mud Blangpidie.
Mendengar
saran dari tokoh masyarakat Krueng Batee itu Abu Kama lama terdiam,
pikirannya kacau dan bimbang.Apakah layak Abdul Hamid menjadi menantu Abu
Syech Mud seorang ulama yang sangat dihormati.Pertanyaan dan kebimbangan
itulah yang menerawang dalam pikirannya.Agaknya, tokoh masyarakat paham
betul terhadap galaunya pikiran Abu Kama saat itu sehingga merekapun menyampaikan
pikirannya.“Jika Abu Kama sepakat dan setuju, biar kami yang datang untuk
bermohon kepada Abu Syech Mud”, kata mereka.
Tidak lama
berselang, datanglah beberapa tokoh masyarakat kemukiman Krueng Batee
menjumpai Abu Syech Mud di Blangpidie. Maksudtujuan mereka datang hanya untuk
menyambung kalam untukmenyampaikan maksud masyarakat agar Teungku Abdul
Hamid dapat dijodohkan dengan putri Abu. Abu Syech Mud menyambut baik kedatangan
mereka dan memahami apa yang mereka sampaikan.
Abu memiliki dua
orang anak perempuan yaitu yang tertua bernama Cut Ridhwan dan adiknya bernama
Cut Asmanidar.Sebenarnya anak abu Syech Mud ada tiga orang. Yang tertua adalah
laki-laki yanglahir pada tahun 1933 di Lamlhom Lhoknga Aceh Besar, tetapi
meninggal dunia beberapa hari setelah dilahirkan.Baru pada tahun 1935 lahir
putri pertama beliau di Lamlhom Lhoknga. Setelah anak tersebut kuat dan berumur
sekitar 2 tahun, dengan menumpang kapal laut,Abu Syech Mud membawa keluarga
beliau Cut Maryam untuk tinggal bersama di Blangpidie. Dan pada tahun 1941
lahir pula putri kedua beliau.
Anak Abu Syech Mud
besar dan bersekolah di Blangpidie.Walaupun anak beliau perempuan, yang saat
itu pandangan masyarakat tidak layak untuk bersekolah di sekolah buatan
Belanda, tetapiAbu Syech Mud juga menyekolahkannya di sekolah umum yang dibangun
Belanda.Sekolah rendah 3 tahun diikutinya di sekolah yang dibangun Belanda di
keudee Siblah Blangpidie.Setelah tamat sekolah tersebut mereka selanjutnya
melanjutkan pendidikan di sekolah diniyah putri Darussalam Labuhan Haji yang
di bangun oleh Abuya Syech Muda Wali Al khalidi.
Saat datang tokoh
masyarakat Kemukiman Krueng Batee menjumpaiAbu Syech Mud untukmenyampaikan
maksud ingin menjodohkan Teungku Abdul Hamid dengan anak abu, saat itu
anak-anak abu syech Mud sedang berada di Darussalam Labuhan Haji.Pendek kata,
keinginan masyarakat kemukiman Krueng Batee untuk menjodohkan Teungku Abdul
Hamid dengan putri tertua abu Syech Mud yaitu Cut Ridhwan bersambut.
Pada 15 hari
bulan Syakban 1372 H atau bertepatan
dengan 24 April 1951 M mereka dinikahkan di rumah Abu Syech Mud di Blangpidie.
Saat khenduri walimah Urusy, linto baro diusung
dan diturunkan dari kemukiman Krueng Batee.Teungku Abdul Hamid diantar oleh ratusan
masyarakat sebagai rombongan intat
linto ke rumah Abu Syech Mud. Turut dalam rombongan itu Abu Kama dan keluarga.
Tgk. Abdul Hamid
saat nikah dan acara walimatul ‘urusy
tidak turun dari rumah Abu Kama di Tangan-Tangan, tetapi turun dari Kemukiman
Krueng Batee, karena oleh masyarakat tidak melepaskannya dan sudah menganggap
sebagai anak mereka. Karena itu, Abu Kama mengalah dan menyetujui bahwa Teungku
Abdul Hamid tidak diturunkan dan diantar dari rumah beliau di Tangan-Tangan,
tetapi setuju diturunkan dari Krueng Batee, karena Abu Kama melihat bahwa sambutan
masyarakat terhadap Teungku Abdul Hamid sangat tinggi, dan tentu saja Abu Kama
tidak ingin mematahkan semangat yang tinggi dari masayarakat itu.
Setelah menikah,
Teungku. Abdul Hamid membagi waktunya. Hari Senin sampai Kamis, ia berada di
Krueng Batee mengajar masyarakat dan di Dayah Mimbariyah, selebihnya hari
Jumat sampai Minggu berada di Blangpidie. Seiring dengan itu, Teungku Abdul
Hamid diangkat pula sebagai khatib Mesjid jamik Blangpidie menggantikan Abu
yang saat itu sudah sering terserang reumatik.
2. Kelahiran Putra dan putri
Pasangan Tgk Syech
H. Abdul Hamid Kamal dan Hj. Cut Ridhwan Mahmud dikaruniai 5 orang anak yaitu
Zoel Helmi Haridhy lahir08 Oktober 1953, Silman Haridhy lahir 21 Agustus 1955,
Musfiari Haridhy lahir 12 September 1957, Ridhani Haridhy lahir 03 Maret 1960
dan Murina Haridhy lahir 29 November 1963. Putra putri beliau dididik secara
kombinasi antara pendidikan formal disekolah umum dengan pendidikan agama
baik di rumah maupun di dayah.
Pendidikan yang dilakukan
oleh Abuya kepada anak-anak beliau saat itu tergolong moderat. Saat itu, para
teungku apa lagi tergolong ulama seperti beliau tidak ada yang menyekolahkan
anak-anaknya ke sekolah umum. Paling-paling untuk pendidikan umum hanya dilakukan
pada tingkat sekolah dasar atau paling tinggi pada tingkat sekolah menengah
pertama atau sekolah menengah atas. Selebihnya pendidikan formal untuk
anak-anak teungku cukup sampai disitu, selanjutnya diantar ke berbagai
lembaga dayah atau pesantren. Jika tidak dilakukan seperti itu, maka teungku
tersebut akan dihujat oleh banyak pihak.
Sistem pendidikan
seperti itu tidak berlaku dalam keluarga Abuya Teungku Syech H. Abdul Hamid
Kamal. Beliau memandang pendidikan formal harus ditempuh oleh anak-anak.
Agar anak-anak tidak salah jalan di kemudian hari setelah dewasa, maka
pendidikan untuk anak-anak tidak semata-mata hanya pendidikan formal saja,
tetapi harus dibekali dengan pendidikan agama yang kuat. Dengan demikian
anak-anak akan memahami agama secara baik dan akan menghasilkan generasi
teknokrat yang agamis yang mampu memanfaatkan potensi yang ada sesuai dengan
keinginan agama dan anjuran agamanya. Boleh jadi, beliau sangat memahami bahwa
mengarahkan anak-anak untukmengikuti keinginan orang tua saja akan menjadi
sia-sia juga. Banyak orang tua yang memaksakan keinginannya dalam pendidikan
terhadap anaknya akan menjadi “arang habis besi binasa”. Banyak orang tua yang
tergolong berada (mampu) saat itu, mengarahkan pendidikan untuk anaknya
keluar daerah tanpa membekali bahwa pendidikan yang ditempuhnya itu pada
dasarnya bukan untuk orang tua tetapiuntuk diri sendiri, karena banyakyangtidak
paham terhadap itu maka anak-anak hanya mengikuti keinginan orang tuanya saja,
tetapi mereka tidak menggunakan potensinya untuk belajar yang baik, akhirnya
banyak yang pulang hampa tanpa hasil apa-apa.
Sistem pendidikan
yang dikembangkan abuya mungkin berbeda dari apa yang dilakukan oleh banyak
orang. Sejak pendidikan awal abuya mengkombinasikan pendidikan formal
dengan pendidikan agama. Sebelum seorang anak belajar di sekolah dasar (sekolah
formal) harus telah diajarkan pendidikan agama dirumah. Pendidikan agama yang
paling dasar diajarkan adalah thaharah (bersuci), shalat (gerakan dan
doa-doanya), dan diajarkan membaca al quran. Seluruh pengajaran tersebut
memang masih dalam bentuk pendidikan dasar. Abuya menerapkan pendidikan dasar-dasar
agama terhadap anak-anaknya mulai umur 4 tahun bahkan mungkin lebih awal lagi
dari itu. Pada umur balita itu telah diperkenalkan pendidikan agama,missalnya,
tentang udhuk, gerakan shalat, bacaan shalat dan mengenalkan huruf arab.
Pada tahun 50-an
methode iqra’ seperti sekarang belum dikenal dan belum ditemukan. Anak-anak
belajar Al-Quran melalui juz amma yang isinya perkenalan terhadap huruf arab
dan merangkaikan huruf-huruf arab dalam bentuk kalimat. Seorang anak harus menamatkan
juzamma dan memahaminya terlebih dahulu baru dapat melanjutkannya pada
bacaan Al-Quran. Sistem belajar seperti itu saat inidianggap tidak praktis
karena seorang anak memerlukan waktu yang lama untuk menamatkan juz amma, tidak
jarang anak-anak yang sedikit “benak” hatinya memerlukan waktu lebih dari
setahun dalam belajar di juz amma itu saja. Tetapi abuya untuk mengajarkan bacaan
Al-Quran kepada anak-anak beliau yang masih kecil tidak menggunakan juz amma
sebagaimana lazim digunakan saat itu, tetapi beliau menulisnya sendiri pada
buku beberapa halaman saja dalam bentuk pengenalan huruf, membariskan huruf,
menyambung huruf dalam bentuk kalimat dari kalimat pendek menuju ke kalimat
sedang dan panjang. Boleh jadi, dengan system pengajaran itu sianak hanya
beberapa minggu saja dalam memahami system belajar tersebut dan langsung
dapat pindah ke alquran. Pola belajar al quran itu telah diterapkan abuya pada
akhir tahun 1950-an, pada saat beliau mengajarkan anak-anaknya membaca al
quran jauh sebelum methode iqra’ ditemukan belakangan ini (uraian system
pendidikan akan dibahas lebih lanjut).
Anak beliau yang
laki-laki dapat menyelesaikan pendidikan di berbagai fakultas pada
Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala dan telah melanjutkan pada jenjang
pendidikan di atasnya. Adapun anak perempuan beliau hanya bersekolah
formal sampai tingkat sekolah menengah atas baik umum maupun kejuruan.
Anak beliau yang
tertua Teungku H. Zoel Helmi Haridhy, setelah belajar di Dayah Raudhatul Ulum,
melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala
(Unsyiah), dan menyelesaikan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Managemen (STIM)
Medan. Sedangkan putra ke dua Teungku H. Silman Haridhy menyelesaikan S1 di Fakultas Pertanian Unsyiah
tahun 1982, dan menyelesaikan S2 di Institute Pertanian Bogor (IPB) tahun
1999. Adapun putra ke tiga Teunghku H. Musfiari Haridhy menyelesaikan S1 di
FakultasEkonomi Unsyiah dan menyelesaikan S2 di Ohio University Amerika Serikat.Adapun anak perempuan beliau
yaitu Teungku Ridhani Haridhy, Teungku Murina Haridhy (almh), Teungku Wardina
Haridhy dan Teungku Haryani Haridhy hanya menyelesaikan sekolah formal
lanjutan.
Disamping itu, menantu beliau terdiri
dari Hj. Nur Syardi SAg lahir di Sawang Ba’u Aceh Selatan 08 Juni 1963, alumnus
dari IAIN Arraniry Darussalam, sekarang menetap di Blangpidie dan saat ini
bertugas sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Blangpidie.
Selanjutnya Hj. Laila Junaina SPd, lahir di Blangpidie 09 Januari 1965 merupakan
alumnus Universitas Abulyatama Aceh
Besar jurusan Bahasa Inggris saat ini bertugas sebagai guru pada SMA Negeri 1 Blangpidie
dan tinggal di Blangpidie. Dra. Hj. Fikriah, MSi lahir di Banda Aceh 12 Agustus
1958 merupakan alumnus dari Fakultas Ekonomi Unsyiah dan saat ini bertugas
sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah
dan tinggal di Banda Aceh. Menantu Abuya selanjutnya adalah M. Daud Ali (alm)
meninggal dunia di Banda Aceh tahun 2004, saat ini keluarganya (Ridhani
Haridhy) tinggal di Banda Aceh. Selanjutnya Adnan Sulaiman SH lahir di Blangpidie
pada tahun 1962, saat ini sebagai bertugas sebagai PNS Aceh Barat Daya dan
tinggal di Blangpidie. Adapun menantu dari anak pada Umi Radhiah adalah Muhammad
Nyak Daud SPd dan Akha Rahmad Fauzari SP.
Putra-Putri,
menantu dan cucu dari Pasangan Abuya Syech H. Abdul Hamid Kamal dan Umi Hj.
Cudhwan Mahmud dan Umi Radhiah sebagaimana tertera dalam tablelLampiran.
3. Menunaikan ibadah haji
Pada tahun 1954, Tgk Abdul Hamid Kamal menunaikan ibadah Haji.
Perjalanan menunaikan ibadah Hajike Mekkah saat itu menggunakan kapal laut
yang menghabiskan waktu tidak kurang dari enam bulan. Saat menunaikan ibadah
haji beliau tidak mengambil kesempatan tinggaldi Mekkah atau Madinah untuk
belajar sebagaimana sering dilakukan oleh orang-orang yang ingin menambah ilmu
di Mekkah atau Madinah saat itu. Beliau tidak tinggal sebagai orang yang belajar
di Mekkah sebagaimana juga lazim dilakukan oleh jamaah yang ingin melanjutkan
belajar di Arab, walaupun kesempatan itu bisa saja dilakukan. Pada masa itu
orang yang berkeinginan belajar dan menuntut ilmu agama diberi kebebasan
tinggal di Mekkah atau Madinah. Tetapi kesempatan itu tidak diambil beliau. Teungku
Abdul Hamid setelah selesai melakukan ibadah haji langsung pulang bersama
rombongan ke Aceh karena disebabkan oleh sekurang-kurang ada empat alasan: Pertama,Pada saat berangkat dulu beliau
menyampaikan kepada gurunya Abu Syech T. Mahmud hanya menunaikan ibadah hajji
tidak menyampaikan bahwa kemungkinan untuk tinggal di Mekkah atau Madinah
untuk menuntut ilmu agama. Karena itu izin yang disampaikan kepada Abu
Syech Mud dan Abu Kamaluddin (abu Kama ayah beiiau) hanya untuk menunaikan
Ibadah haji bukan untuk tujuan yang lain, misalnya untuk melanjutkan pendidikan
di Arab. Karenanya, walaupun saat itu jamaah haji dapat saja tinggal di
Mekkah atau Madinah untuk melanjutkan pendidikannya tanpa ada larangan oleh
pemerintah setempat dengan mengurus adminstrasi persyaratan tinggal setelah
mereka menetap dan belajar. Walaupun demikian selama beliau di Medinah dan
Mekkah beliau rajin sekali mengikuti halqah ilmu yang disampaikan syech-syech
yang mengambil tempat di Mesjid Nabawi dan di mesjidil Haram. Belajar yang
diperoleh beliau adalah saat melaksanakan Arba’in di Madinah dan saat
melaksanakan rukun haji di Mekkah.Kedua,
beliau telah berkeluarga dan telah mempunyai satu orang anak yang masih kecil,
tentu saja sangat membutuhkan keberadaan beliau. Ketiga, beliau harus segera pulang untuk mendidik santri-santri di
Mimbariyah dan masyarakat Krueng Batee yang sangat membutuhkan beliau. Saat beliau
berangkat menunaikan ibadah haji Dayah Mimbariyah memiliki santri yang
sangat banyak sehingga seluruh bahagian luar pekarangan masjid Mukhlisin di
Krueng Batee dipenuhi oleh rangkang-rangkang santri. Tentu saja Dayah ini
sangat memerlukan kepemimpinan Abuya.
Tanpa beliau dayah Mimbariyah akanterhentikegiatannya, dan tentu saja
keadaan itu tidak diinginkan oleh beliau. Ke
empat, Pesantren Bustanul Huda membutuhkan tenaga beliau untuk membantu
Abu Syech Mud (guru dan sekaligus mertua beliau) dalam mengajar dan mengatur
pendidikan para santri. Karena selama kurun waktu itu banyak kegiatan di Bustanul
Huda yang sudah dilimpahkan untuk dikelola beliau, misalnya mengajar santri,
menjadi khatib tetap di masjid jamik Baitul Adhiem Blangpidie dan beberapa kegiatan
lain. Boleh jadi, karena beberapa pertimbangan itulah sehingga beliau tidak
meninggalkan diri di Mekkah saat itu dan pulang bersama rombongan. Benar saja
setelah kembali beliau disibukkan oleh kegiatan mengajar di dayah dan
memberi pengetahuan masyarakat baik di Blangpidie maupun di Krueng Batee dan
sekitarnya.
Sebahagian cucu
Abuya
Abuya foto doc
1973
Abuya dan umi di
tahuan 1970-an.
Abuya Syech H.
Abdul Hamid Kamal menyampaikan Khutbah
di Mesjid Jamik
Baitul Adhim Balang Pidie.
Abuya dan
Mastarakat Krueng Batee
Pendidikan Umat
Keberadaan
leube, tungku dan ulama adalah untukmendidik umat dari mereka tidak tahu
menjadi faham,dari belum mengamalkan syariat menjadi ahli syariat. Itulah tujuan
adanya teungku, leube dan ulama. Dalam struktur masyarakat Aceh para pemuka
agama itu terbagi dalam berbagai tingkatan. Teungku yang membina masyarakat di
gampong dibanyak daerah disebut teungku Sago atau teungku menasah. Di tingkat
Kemukiman ada teungku yang gelar Imum Syik. Imum Syik adalah teungku yang menjadi
imam dan khatib di masjid tingkat kemukiman. Mereka juga berkewajiban unyuk
membina dan pendidik umat di daerahnya. Tetapi ada pula teungku yang lebih alim
dari imum syik, biasanya teungku yang mengelola tempat pengajian dan
mengajarkan anak-anak dan remaja tentang agama serta membuka pengajian,
majlis tabligh dan wirid untuk masyarakat.
Abuya Syech. H. Abdul Hamid Kamal mewaqafkan
seluruh hidupnya untuk ummat. Seluruh aktivitas yang dilakukan beliau
sebahagiam besar hanya mendidik umat. Walaupun pola aktivitas di Krueng Batee
dan Blangpidie tidak sama tetapi nyatanya hamper seluruh aktivitas beliau hanya
dalam mendidik umat. Di Kreung Batee misalnya, beliau sudah berada di sana
setiap Senin sampai dengan Kamis, hamper seluruh waktunya dalam mengajar. Memang
selama di Krueng Batee kegiatan beliau berada di Dayah dan mengajar santri,
tetapi diwaktu malam memberi pula kuliyah kepada masyarakat di masjid
Mukhlisin, di Dayah Ibu-Ibu dan di beberapa tempat lainnya. Saban hari aktivitas
beliau penuh dan jadwalnya tidak berubah.
Di Blangpidiepun kegiatan beliau sangat
padat. Jika di Krueng Batee aktivitas lebih banyak mendidik santri di Dayah
Raudhatul Ulum, tetapi di Blangpidie lebih banyak memberi pengajian dan
kuliyah kepada masyarakat. Beliau berada di Blangpidie sejak sore Kamis sampai
sore Minggu. Selama jadwal itu seluruh waktunya dalam memndidik ummat.
Suatu ketika Teuku Badai Mahmud (Let TeBe) purnawirawan
meliter dan mantan anggota DPRD Aceh Selatan menyarankan agar abuya
mengurangi kegiatannya. “abu… kegiatan
seperti itu enggak bagus. Abu harus ada istirahat yang cukup, berolah raga dan
rekreasi” katanya menyarankan, setelah melihat jadwal abu yang begitu
penuh. Abuya dengan santai menjawab, “ia
pak Let, jika kerja dengan pemerintah ada jadwal istirahat, ada cuti, ada
jalan-jalan. Tapi yang ini tugas teungku. Allah suruh teungku berkewajiban
untuk berdakwah dan mendidik umat. Tugas itu enggak ada cuti, karena teungku
telah mewaqafkan umur dan dirinya ke jalan Allah, makanya cuti dan istirahat sambil
jalan saja” kata beliau santai. Allahu akbar, itulah jika komitmen umur
telah diwaqafkan. (**)
Abuya pada suatu
kegiatan bersama Pemda Aceh Selatan
Abuya dengan murid-murid dan
masyarakat
Abuya fot doc. 1973







Komentar
Posting Komentar