BAHAGIAN KE ENAM:
Silman Haridhy
BIOGRAFI
ABUYA SYECH HAJI ABDUL HAMID KAMAL
“Seorang
Ulama Bersifat Diplomat”
Unit PerpustakaanYayasan AHKAM
DAYAH RAUDHATUL ULUM
I.
MENERIMA TUGAS
Datang utusan
Setelah Indonesia Merdeka masyarakat
mulai aman dan tenteram hidupnya.Orang tidak terlibat lagi dalam tekanan
penjajah baik Belanda maupun Jepang. Selama penjajahan masyarakat hidup
susah. Saat Belanda menjajah masyarakat harus mengeluarkan pajak Blestein,
pajak hasil bumi dan berbagai macam pungutan lainnya sehingga masyarakat
tidak sempat memikirkan bagaimana kehidupan masa depan yang akan dilalui
baik oleh dirinya maupun oleh anak keturunannya.Setelah berganti penjajah
dari Belanda ke Jepang pada tahun 1942, masyarakat menjadi lebih sengsara.Dan
pada periode 1942-1945, masa itu dilalui masyarakat dengan penuh kesulitan.
Penjajahan Jepang sangat
menyengsarakan masyarakat. Bahan makanan
habis sehingga masyarakat kelaparan. Bukan hanya makanan yang hilang
tidak tersedia lagi, sandang- pakaianpun menjadi sangat langka. Banyak orang
saat itu untuk memenuhi kebutuhanpokok menjual apa yang dimiliki, sehingga
periode itu masyarakat menjadi sangat miskin.
Setelah Indonesia merdeka keadaan
berubah.Masyarakat mulai bekerja lagi seperti biasa.Masyarakat dengan leluasa
menggarap sawahnya dan membuka kebunnya kembali.Saat itu, kebutuhan hidup
telah mulai tercukupi.Bahan makanan telah tersedia tidak sulit seperti zaman
penjajahan Jepang dulu, pakaianpun telah tersedia walaupun masih
sederhana. Saat itulah, beberapa tokoh dan pemuka masyarakat di kemukiman
Krueng Batee melihat bahwa jika masyarakat dibiarkan seperti ini akan sangat
berbahaya. Dengan amannya daerah bahan makanan dan sandang dapat tercukupi,
tetapi bagaimana dengan kebutuhan batin. Pendidikan misalnya, yang saat itu
lembaga pendidikan formal tidak tersedia.Dan bukan hanya itu, pendidikan
agamapun juga tidak ada.Tidak ada Teungku yang dapat dijadikan guru di kemukiman
itu.
Pemuka masyarakat saat itu sangat
paham, jika mengaharapkan dibangunnya pendidikan formal dalam waktu singkat
tidak mungkin, jangankan pendidikan formal untuk tingkat kemukiman,
ditingkat kecamatan dan kewedanaan saja tidak tersedia.Oleh karena itu, pemuka
masyarakat di Kemukiman Krueng Batee berharap jika pendidikan formal tidak
tersedia, maka masyarakat dan generasi kedepan janganlah bodoh dari ilmu agama.
Untuk maksud tersebut,pada tahun 1947,
diutuslah beberapa tokoh masyarakat untuk datang dan menjumpai AbuTeungku
Syech T. Mahmud pimpinan dayah Bustanul Huda di Blangpidie.Mereka menyampaikan
maksud agar Abu Syech Mud dapat menugaskan seorang Teungku ke daerah mereka
untuk mengajarkan masyarakat dan anak-anak tentang agama, agar masyarakat
paham beragama.“Masyarakat jino di
gampong kamo lheu that nyangka hana meuphom lee agama.Kamo lheu that nyangka
jahee bangsat, hana lampu nyang peutrang, seuhingga kamonyo hudeep Lam seupot”
(masyarakat sekarang di kampong banyak yangbtidak mempunyai ilmumpengetahuan
agama. Kami banyak yang sudah tidak paham. Tidak ada orang yang mengajar,
sehingga kami menjadi bodoh), kata mereka, dan seraya melanjutkan, “kamo meulakee bak Abuneubrie kamo sidro
teungku, beujuet kue lampu sueloh bagi kamo, dan beujuet keuh tempat kamo
teumanyong dan kamo meurueno tentang meuagama”, (kami mohon kepada Abu
agar dapat memberikan kepada kami seorang guru yang dapat mengajarkan kami
tentang agama), kata mereka kepada Abu Syech Mud. Abu berjanji akan memberi
jawaban terhadap permintaan itu pada Jumat depan.
Setelah utusan masyarakat Kemukiman
Krueng Batee pulang,Abu Syech Mud berfikir keras untuk menentukan siapa
diantara teungku-teungku yang dinilai telah alim itu untuk diminta mengajarkan
masyarakat di kemukiman tersebut. Walaupun demikian dalam hati Abu Syech Mud
sudah “teu sreih hate” (menjatuhkan
pilihan) kepada Teungku Abdul Hamid Kamal, teungku yang masih muda, alim dan
cerdas.Tapi Abu Syech Mud ragu. Teungku ini masih sangat muda baru berumur 19tahun,
apakah ia mampu untuk mengajarkan masyarakat seperti yang diharapkan
mereka. Abu Syech Mud sangat bimbang dalam hal ini. Tapi, dalam penilaian Abu, Teungku
Abdul Hamid sudah alim, dalam banyak
hal yang telah dicoba ia mampu menjalankannya. Satu kelebihannya,
ia cerdas dan santun, bukan bertemperamental tinggi. “Untuk mendidik masyarakat,
sifat seperti itu akan cocok”,pikir Abu Syech Mud. Akhirnya beliau
berketetapan akan menunjuk Teungku
Abdul Hamid jadi guru agama di kemukiman itu.
Pada hari Rabu 7 Zulhijjah 1368 H atau
bertepatan dengan bulan Juni 1947, keinginan masyarakat Kemukiman Kreung
Batee itu disampaikan kepada Teungku Abdul Hamid dan sekaligus menugaskannya
untuk menjadi guru agama di daerah kemukiman itu.“Teungku, dronneuh teu lakee untuk jeuit keu Teungku di Kemukiman
Krueng Batee, masyarakat di daerahnyan peruelee keu sidro teungku teumpat masyarakat
teumanyong”, (teungku, anda ditunjuk untuk mengajar masyarakat di
kemukiman Krueng Batee. Masyarakat disitu memerlukan guru untuk mengajarkan
mereka tentang agama), kata Abu. Ia menerima saja penugasan oleh abu
terhadapnya, tak mampu menjawab dan tak mampu pula menolaknya. Kalimat yang muncul
adalah “lon lakee doa dron abu seuhingga
lon mampu” (saya mohon doa dari Abu sehingga saya mampu menjalankan
gtugas ini).Cuma itu kata yang keluar dari mulutnya.
Pada hari Jumat 17 Zulhijjah 1368,ia
diantar oleh Abu Syech Mud ke Kemukiman Krueng Batee. Dan sebelum khutbah, Abu
memperkenalkan Teungku Abdul Hamid Kamal kepada masyarakat sertamenjelaskan
bahwa ia ditugaskan menjadi Teungku di kemukiman Krueng Batee dan sekitarnya.
Mulai hari itu, Teungku Abdul Hamid Kamal menjadi guru agama dikemukiman itu
dan diterima dengan baik oleh masyarakat.
Abuya saat
membangun Dayah Mimbariyah
Prediksi
Yang Benar
Pada tahun 1970-an pesawat twin otterpesawat
kecil berisi beberapa orang yang ditumpangi oleh Direktur Utama Aceh Kongsi
hilang kontak. Pesawat berangkat dari Polonia Medan menuju ke pantai barat
Aceh. Menurut informasi mereka melakukan peninjauan tentang rencana
pembukaan kebun sawit di daerah pantai barat Aceh. Pesawat berangkat pagi, dan
setelah terbang lebih dari satu jam pesawat hilang kontak dengan bandara. Beberapa
menit kemudian pesawat dinyatakan hilang dan diduga jatuh. Dugaan saat itu
pesawat jatuh karena turbulensi angin yang menghempas pesawat sehingga hilang
keseimbangan dan jatuh. Lokasi jatuh pesawat itu tidak diketahui pasti,
orang hanya menduga lewat derajad posisi pesawat saat komunikasi terakhir.
Setelah dinyatakan pesawat hilang terjadi kesibukan
yang amat sangat baik di Medan lokasi pusat perusahaan maupun di Meulaboh,
Blangpidiem dan Tapak Tuan. Tiga daerah itu dijadikan posko pencairan pesawat
di pantai barat Aceh.
Di Blangpidie dibentuk beberapa team untuk
menjelajahi hutan, mulai dari pinggiran dekat kampong, hutan daerah pesisir
sampai ke hutan leuser. Harap maklum saja seorang pengusaha yang hilang
pencarian dilakukan secara maksimal. Ada melalui udara dengan
menggunakanpesawat kecil lainnya, malah ada juga menggunakan helli. Helli saat
itu bermarkas di Lapangan Pesasada Blangpidie, karena dinilai pencarian lebih
mudah dilakukan dari Blangpidie karena terletak di tengah daerah yang
direncanakan ditinjau oleh pejabat perusahaan besar itu. Karena itu Blangpidie
merupakan posko yang tergolong sibuk, dan banyak team dibentuk yang
beranggotakan beberapa pemuda dan juga ada pawang.
Pencarian dilakukan sudah beberapa hari,
tanda-tanda jejak pesawat tidak ditemukan. Banyak orang mencarinya di hutan
Surien, Lama Muda dan Lama Tuha daerah hutan lebat tepi pantai yang masih
perawan. Ada pula orang mencarinya di hutan Kila, Sipuyoh, Batee Lhee dan
daerah-daerah sekitarnya. Ada pula tiem menjelajah hutan mulai dari gunong Alue
Singai Pinang, Krueng Batee, Lama Inong sampai ke Babahrot. Semua hutan sudah
diobok-obok, tetapi jejak pesawat tak juga dijumpai. Kerjaan pawang pun makin bertambah-tambah
karena diinformasikan bahwa para penumpang pesawat dan sekaligus dengan pesawatnya
telah diambil oleh dedemit yang ada di hutan dan diperkirakan merekan masih
hidup.
Orang
serius mencari di daerah hutan itu karena ada saksi yang mendengar bunyi
pesawat. Ceritera tentang ada orang yang mendengar ada bunyi pesawat makin berkembang
pesat. Ada orang medengar bunyi pesawat di daerah Klut, di daerah hutan Sawang,
dan di hutan Manggeng. Orang mulai pula melakukan pencarian di daerah itu.
Ceritera dedemit pun berkembang pesat… macam-macamlah ceritera di tengah masyarakat.
Diantara
banyak team yang dibentuk di Blangpidie, ada satu team dipimpin oleh T. Usman
Kuta Tinggi. Team yang dipimpin oleh T. Usman telah menjelajahi banyak hutan
mulai dari Gunong Kila, Sipuyoh, Batee Lhee, sampai ke hutan Babahrot, Surien, Lama Muda
dan Lama Tuha. Setiap informasi yang didengar tentang pesawat bahkan tentang
adanya berita tentang bunyi pesawat saja
terus dilacak dan ditelusuri, tapi hasilnya nihil.
Suatu pagi setelah subuh (sekitar pukul 06.00
pagi) T. Usman dari Kuta Tinggi dan beberapa orang datang menjumpai abuya.
Saat itu abuya masih di dalam kamar ibadah sedang wirid. T. Usman dengan menggunakan
pakai lapangan berupa switer dan jaket menjumpai abuya untuk bertanya
tentang kearah mana harus mencari pesawat itu. Saat abuya menyampaikan “nyan pesawat ka rhout, karena dipot le angen
bade dan mesen matee. Pesawat rhout di gunong
ateuh Seumayam. Nyan pesawat wate rhout keunong bak kayee dan ka teutoup
ngon bak urot dan bak awe. Bek mita ho laen, mita mantong keunan. Tanda jieh
bak kayee na dhein jih ka patah. Mita di yub kayee nyan mantong” (itu
pesawat sudah jatuh, karena terjadi
angina badai sehingga mesin pesawat mati. Pesawat jatuh di gunung di atas Seumayam. Pesawat itu waktu jatuh terkena
pohon dan sekarang ada dibawah pohon besar itu sudah tertutup dengan semak dan
rotan. Jangan cari ke tempat lain, cari saja di daerah itu. Sebagai tanda ada
pohon kayu besar yang dahannya telah patah. Cari saja di bawah pohon itu), kata
abuya saat itu. Tapi waktu itu T. Usman membantahnya; “abu.. didaerahnyan hana berita
na ureung dengo su pesawat bak uro nyan. Nyang na di daerah laen”
(abu, di daerah itu tidak ada orang yang mendengar ada bunyi pesawat pada hari
itu. Orang banyak mendengar di daerah lain), kata T. Usman saat itu. Abu menegaskan;
“mita di daerah nyan mantong, bek boh-boh
wate u daerah laen” (cari di
daerah itu saja jangan buang-bunag waktu), kata beliau.
Informasi dan prediksi abuya itu baru
terbukti lebih dari 20 tahun kemudian. Seorang pencari rotan di atas gunung
Seumanyam menemukan bangkai pesawat di bawah pohon besar yang tertutup urot
(semak) dan rotan. Pesawat masih utuh dan kerangka jenazah juga masih sempurna.
Di jumpai pula beberapa bahan-bahan lain, misalnya, jam tangan Rolex, tas
berisi alat-alat dan duwit, dan berbagaiperalatan lain masih utuh. Saat itu
orang teringat tentang prediksi abuya. Carilah pesawat itu di atas gunong Seumanyam,
ada pohon kayu besar yang telah patah dahannya. Dan prediksi itu tepat. Pesawat
dijumpai di daerah itu, tetapi bukan pada saat orang sibuk mencari, tetapi 20
tahun kemudian. (**)
Abuya foto
doc. 1975



Komentar
Posting Komentar